Part 14

432 91 5
                                        

“June, aku makan siang dulu ya. Love udah nungguin,” ucap Pansa dengan pelan, sambil melepas sarung tangan medis dan membuangnya ke tong sampah, lalu mencuci tangannya.

“Oke, Sa. Salam buat Love ya. Kapan-kapan, ajak main ke rumah lagi lah, Sa,” balas June dengan pelan juga, karena tidak ingin mengganggu Madam Lee yang sedang tertidur. Mereka saat ini sedang berada di ruang perawatan Madam Lee, VIP lantai delapan.

“Oh iya, June. Kata Love, dia mau nginep pas weekend. Boleh kan?”

Wajah June mendadak cerah. “Boleh lah, Sa. Kenapa gak boleh coba. Seru malah pasukan kita nambah satu.” June terkikih pelan. “Tapi kan sebulan ini kita gak weekend bareng di rumah, Sa. Aku off Sabtu, kamu off Minggu.”

“Oh iya. Habis tugas ini palingan ya. Nanti aku bilangin Love deh. Makasi ya, June.”

“Sama-sama, Sa. Udah sana ke atas, kasian Tuan Putri udah nunggu,” usir June sambil mendorong pelan tubuh Pansa.

Pansa hanya tersenyum singkat. “Kabarin kalau ada apa-apa ya.”

“Aman,” balas June sambil menunjukkan jempolnya.

Pansa bergegas keluar dari ruangan, lalu berjalan agak cepat di koridor lantai VIP. Di tengah koridor, dia berpapasan dengan Bright yang sedang berjalan menuju kamar Madam Lee. Melihat pria itu, Pansa langsung menundukkan kepalanya sedikit.

“Suster Pansa mau makan siang?” tanya Bright tiba-tiba.

“Iya, Bright,” jawab Pansa singkat sambil menghentikan langkahnya.

“Mau makan bareng saya?” Bright mengangkat kantong yang sedang dia bawa. “Saya belikan untukmu dan June juga.”

“Ah, maaf. Saya sudah janji makan siang sama teman. Dia sedang menunggu saya sekarang,” jawab Pansa sambil menggerakkan telapak tangannya di depan Bright.

Bright tersenyum singkat. “Baiklah kalau gitu. Mungkin besok?” tanya Bright kembali. Kemarin dia juga gagal mengajak Pansa makan siang bersama. Hari ini dia melakukan hal yang lebih ekstrim, membelikan makanannya dulu, baru mengajak. Dia berpikir, Pansa akan segan untuk menolaknya, namun ternyata dia salah.

Pansa tampak berpikir sejenak. “Mungkin besok,” jawabnya singkat lagi.

“Oke.” Bright tersenyum setengah. “Saya ke kamar Nenek dulu kalau begitu.”

Pansa hanya tersenyum kecil lalu mengangguk. Namun, baru saja dia mau beranjak, Bright kembali memanggilnya lagi.

“Oh ya, Sus. Minggu ini kita jadi, kan? Mencari piringan hitam yang diminta Nenek.” Bright bertanya sambil berharap dalam hati.

“Iya, jadi, Bright.”

“Saya jemput ke rumah atau—"

“Kita bertemu di luar saja,” potong Pansa dengan cepat.

“Ah! Baik kalau gitu.” Bright bergumam sebentar. “Saya ke kamar Nenek dulu. Selamat makan, Sus.”

“Selamat makan juga.”

Keduanya tersenyum singkat, mengangguk kecil, lalu berjalan ke arah masing-masing. Langkah Bright yang sedang menuju kamar neneknya terlihat agak ringan. Sedangkan, Pansa agak terburu-buru menuju restoran di lantai atas, karena Love sudah menunggunya.

Sesampainya di restoran tersebut, Pansa mengatakan kepada pelayan di depan, bahwa Love sudah menunggunya di dalam. Pelayan yang mengantar Pansa sedikit terheran-heran melihat perawat di belakangnya ini. Tempo hari dia datang bersama dengan Bright, sekarang seorang Love yang sedang menunggunya.

Bunga-Bunga Kecil Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang