Part 10

555 88 6
                                        

Keesokan harinya, Love terbangun dengan perasaan ringan. Beban yang selama ini menggelayut di hatinya seolah telah terangkat. Dia memandangi langit-langit kamar dengan senyum kecil yang muncul tanpa sadar, mengingat semalam ketika dia dan Pansa berbagi cerita tentang masa lalu mereka. Ada kelegaan dalam dirinya, seakan jarak yang selama ini terasa begitu jauh perlahan terjembatani. Pansa, yang sebelumnya hanya menjadi sosok perawat, kini terlihat lebih dekat. Love merasakan pagi itu sebagai awal yang baru bagi hubungan mereka.

Dengan cepat, Love mengangkat tubuhnya dan duduk di ranjang. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari Pansa, tetapi gadis itu tidak ada di kamar. Pikiran buruk langsung menyergapnya, jangan-jangan Pansa memilih untuk berhenti menjadi perawatnya setelah kejadian semalam. Namun, semalam Pansa begitu perhatian kepadanya. Apa mungkin dia rela melakukan itu kepada Love?

Untung saja, kegelisahannya hanya berlangsung singkat. Love mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan Pansa keluar dari sana, sudah lengkap dengan seragam perawatnya. Bahkan, dia mencepol rambutnya pagi ini, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan membuatnya terlihat seksi di mata Love.

"Milk!" panggil Love dengan kencang, berhasil membuat Pansa menoleh ke arahnya.

Tetapi, reaksi Pansa bukanlah yang Love harapkan pagi ini. Love melihat Pansa hanya tersenyum simpul, lalu berjalan ke arahnya. Dia melewati ranjang Love tanpa melihatnya, lalu berhenti di meja panjang untuk merapikan beberapa barang di sana.

"Milk?" panggil Love lagi, lebih pelan kali ini, dengan nada heran. Love bingung dengan sikap Pansa pagi ini.

Pansa akhirnya menoleh lagi ke arah Love, tersenyum simpul sebentar, lalu menyapanya, "Selamat pagi, Nona." Warna suara Pansa kembali ke mode perawat, berbeda dengan semalam.

Senyum yang tadi menghiasi wajah Love perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hampa yang tidak dia harapkan. Love menunduk, menatap kosong ke kedua tangannya. Dia baru ingat sekarang bahwa mereka hanya berteman singkat tadi malam. Dan Love sendiri yang meminta itu. Dia menggigit bibir, berusaha menahan tangisannya. Padahal, dia sudah lelah menangis.

Namun tiba-tiba...

"Pffttt!”

Love mendengar suara Pansa menahan tawanya. Matanya membesar, dan dia cepat mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Pansa. Pansa terlihat sedang menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawanya sambil melihat ke arah Love. Namun akhirnya, Pansa tidak tahan juga, dia langsung tertawa terbahak-bahak.

"Milk! Kamu—”

Pansa terus tertawa. "Astaga, Love. Tau gitu aku rekam reaksi kamu tadi, fans-fans kamu pasti bakal gempar lihat ekspresi kamu barusan," ujar Pansa, lalu dia tertawa lagi.

"Kamu ngerjain aku ya!?" omel Love sambil turun dari ranjangnya.

"Enggak, ngerjain apaan," balas Pansa, kembali tertawa. "Muka—, muka kamu lucu banget tadi, Love. Kayak anak anjing yang enggak dikasih cemilan," ledek Pansa. Dan ya, dia tertawa lagi.

Love berjalan cepat ke depan Pansa, lalu mengarahkan tangannya ke pinggang gadis itu, kemudian menggelitiknya. Merasa kegelian, Pansa langsung menghentikan tawanya dan kabur dari Love.

"Love! Love! Jangan gelitikin aku, kamu tau kan aku gelian," mohonnya sambil mengangkat tangan dan mengarahkan telapak tangannya ke depan.

"Kamu! Harus! Dihukum!" Love berjalan cepat ke arah Pansa yang langsung berlari ke arah sofa. "Sini enggak kamu, Milk!" omel Love sambil menunjuk Pansa.

"Kaki kamu, Love. Ingat kaki kamu masih lemah," ucap Pansa, yang sudah berada di belakang sofa.

"Aku enggak peduli! Aku cuma peduli sama hukuman kamu!" omel Love lagi, sambil berjalan cepat ke belakang sofa. Tentu saja Pansa dengan mudah menghindarinya, sebab Love tidak bisa berlari.

Bunga-Bunga Kecil Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang