Part 12

426 85 3
                                        

“Akhirnya kita bisa makan siang bareng lagi, Sa,” ucap June senang, sambil menyumpit sepotong telur dadar gulung dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Enak ya yang dapat dua hari off kemarin.” Pansa juga melakukan hal yang sama.

Di meja sebuah taman yang terletak di lantai dasar rumah sakit, Pansa dan June sedang menikmati bento box yang baru saja mereka beli di supermarket.

“Aku jaga dua shift selama dua hari berturut-turut, Sa. Mau rontok rasanya badan aku,” keluh June.

“Baru dua shift selama dua hari aja udah ngeluh. Kamu lupa kita pernah dua hari gak tidur pas jaman awal-awal covid dulu? Mana kita baru mulai kerja kan.”

Tubuh June langsung merosot lemas. “Ughh…” June berpura-pura mau muntah. “Jangan ingetin aku sama masa-masa itu, Sa!”

Pansa terkekeh. “Ingat gak kita kayak zombie habis itu?”

“Aku sampe berhalusinasi, Sa. Lengkuas aku kirain daging rendang.” June terkekeh juga.

Mereka melanjutkan sejenak makan siang masing-masing di taman yang lumayan ramai siang itu.

“Sa,” panggil June.

“Hmm?” gumam Pansa sambil mengunyah.

“Gimana rasanya punya teman artis? Kamu masih kontekan sama Love, kan?” tanya June penasaran.

“Enggak, kami gak kontekan lagi.”

June mengerutkan keningnya. “Kok bisa? Perasaan kalian akrab banget seminggu kemarin itu.”

“Ya, karna aku gak punya nomor handphone dia. Trus aku rasa, dia juga gak punya nomor handphone aku.”

“Kok bisa sih?” June semakin bingung.

“Ya, karna kami gak pernah tukeran nomor handphone. Sesimple itu, June. Emang gara-gara apa lagi?” jawab Pansa ringan sambil melanjutkan makan siangnya.

“Terus, kamu gak minta nomor handphone dia apa?” tanya June heran.

“Enggak lah, gila aja kamu. Aku gak mau ganggu privasi dia.”

June mengangguk-angguk. “Trus kok kamu keliatan santai gitu sih, Sa?”

“Santai gimana?”

“Iya, santai. Kamu punya temen masa kecil seorang artis, terkenal mampus lagi. Eh, malah gak kontekan berhari-hari dan gak punya nomor handphone-nya lagi. Tapi kamu kok biasa aja gitu.”

“Ya terus aku harus gimana? Teriak-teriak di jalan? Atau lari-larian di bawah hujan kayak orang galau gitu? Biasa aja kali, June. Emang wow banget ya?”

“Kalau bagi aku sih, WOW banget ya, Sa.”

“Enggak ah, biasa aja.”

Pansa kembali melanjutkan makan siangnya, tidak peduli dengan June yang sedang menatapnya kesal dan tidak percaya. Sesaat kemudian, Pansa merasakan ponselnya bergetar. Dia segera mengeluarkan ponsel itu, terlihat sebuah nomor tak dikenal menghubunginya.

“Siapa, Sa?”

“Gak tau, gak ada di kontak aku.”

“Mana coba liat.”

“Nih.” Pansa menunjukkan layar ponselnya.

June mengerutkan keningnya. “Love kali?”

“Ngaco kamu. Gak mungkin nomor dia jelek gini. Kalau Love, pasti nomornya bagus, June. Gak berantakan kayak gini.”

“Oh iya sih. Ya udah lah cuekin aja, palingan pinjol atau mau nawarin asuransi.”

Pansa mengangguk, menolak panggilan tersebut dan meletakkan ponselnya di atas meja. Sedetik kemudian, nomor tak dikenal itu menghubunginya kembali.

Bunga-Bunga Kecil Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang