Janji adalah sesuatu yang tidak terlihat namun terasa kuat, seperti sebuah simpul tidak kasat mata yang mengikat hati dan kata-kata seseorang. Dia melayang di antara dua orang, memberikan harapan, tanggung jawab, dan kepercayaan. Saat diucapkan, janji seperti tali halus yang menggantung di udara, rapuh namun penuh makna. Bagi yang mendengar, janji adalah pelita kecil yang menerangi jalan di depan, dan bagi yang berjanji, dia adalah beban yang lembut namun berat di dalam hati. Janji bukan hanya sekadar kata, tetapi komitmen yang harus dijaga, bahkan ketika waktu dan keadaan berubah.
Itulah yang Pansa dan Love rasakan, ketika Pansa berjanji dia tidak akan pernah jatuh cinta kepada orang lain.
Pansa bersungguh-sungguh dengan janjinya. Dia yang tidak pernah jatuh cinta di seumur hidupnya percaya, bahwa dia pasti bisa menepati janji tersebut. Pansa merasa, kalau nanti dia jatuh cinta, orang yang bisa membuatnya merasakan perasaan itu hanyalah Love seorang. Mereka sudah bersahabat dari kecil, meskipun sempat terpisah bertahun-tahun karena kesalahpahaman, namun mereka bertemu kembali dan menjalin hubungan seperti dulu lagi. Dia juga merasa, ikatan mereka terlalu kuat, dan tidak akan ada yang bisa melepasnya. Bahkan, mereka menciptakan keajaiban, mengalahkan takdir, yang berusaha memisahkan mereka berdua di masa lalu.
Tetapi berbeda dengan Love. Dipenuhi dengan rasa cemburu dan ketakutan akan kehilangan Pansa, Love berubah menjadi terlalu posesif terhadap sahabatnya. Dia merasa janji Pansa yang sempat menjadi pelita kecil bagi jalannya, kini sudah mulai redup. Dia mulai ragu kalau Pansa bisa menepati janjinya itu. Apalagi melihat hubungan mereka saat ini yang terasa semakin renggang. Walau Love tahu dia tidak punya hak untuk melarang Pansa, namun tetap saja, dia merasa Pansa sudah berjanji padanya.
Selama dua minggu terakhir, hubungan antara Pansa dan Love perlahan-lahan memburuk. Pansa semakin jarang membalas pesan Love, karena waktunya yang lebih banyak dihabiskan untuk merawat Madam Lee, yang kesehatannya terus memburuk. Selain itu, di hari Minggu, dia harus menemani Bright berkeliling ke berbagai toko musik untuk mencari koleksi piringan hitam yang langka. Setiap kali Pansa kembali, dia terlihat lelah, baik secara fisik maupun emosional. Di sisi lain, Love mulai merasa diabaikan. Kecurigaan dan rasa tidak aman mulai muncul di hatinya. Love merasa seolah-olah Pansa sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan itu membuatnya gelisah. Setiap kali Pansa tidak memberi kabar atau terlambat pulang, Love langsung menanyainya dengan nada posesif.
Awalnya, Pansa menganggap sikap Love sebagai reaksi yang wajar. Dia memahami bahwa Love mungkin merasa kesepian dan cemas karena perubahan dinamika dalam hubungan mereka. Namun, seiring waktu, Love semakin sering menanyai Pansa dengan pertanyaan yang penuh curiga, dan ini mulai mengganggu Pansa. Love akan terus-menerus bertanya, “Kamu ke mana aja? Kok lama banget? Kamu lebih sering sama Bright sekarang,” hingga Pansa merasa terkekang. Sikap posesif Love, yang sebelumnya dianggapnya hanya sementara, mulai terasa seperti tekanan yang tidak bisa dia abaikan lagi.
Di tengah semua ini, kondisi Madam Lee semakin memburuk, menambah beban di pundak Pansa. Dia tak hanya harus berhadapan dengan masalah mereka, tetapi juga dengan tanggung jawab yang semakin besar di tempat kerjanya. Dia merasa terhimpit di antara keinginan untuk merawat Madam Lee dengan sebaik-baiknya, dan keinginan untuk menjaga hubungan dengan Love. Namun, setiap kali dia mencoba menjelaskan situasi, Love seolah-olah tidak bisa menerimanya. Love ingin lebih banyak waktu, lebih banyak perhatian, dan lebih banyak jaminan dari Pansa, tetapi Pansa merasa tak punya cukup tenaga untuk memberikan semua itu. Akibatnya, pertemuan mereka sering diwarnai ketegangan.
Perlahan-lahan, hubungan yang dulunya penuh canda dan keakraban berubah menjadi canggung dan tegang. Pansa tidak lagi bisa menikmati waktu bersama Love seperti dulu, karena di setiap momen kebersamaan mereka, selalu ada rasa curiga yang tidak terucapkan. Pansa ingin menjaga hubungan mereka, tetapi dia juga lelah dengan sikap posesif Love yang semakin hari semakin intens. Di sisi lain, Love merasa terjebak dalam ketakutan akan kehilangan Pansa. Keduanya seolah berada dalam lingkaran yang semakin menyesakkan, dan tidak tahu bagaimana cara untuk keluar dari sana tanpa menyakiti satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga-Bunga Kecil
Fiksi PenggemarSahabat masa kecil yang terpisah akhirnya bertemu kembali saat remaja. Namun, bukannya menjadi akrab kembali, yang satu malah menjadi pelaku pem-buli-an, sedangkan yang satunya lagi menjadi korbannya. Setelah berpisah lagi selama sepuluh tahun, kedu...
