Pansa dan June sedang menonton serial LGBT di ruang tamu, yang sedang menayangkan dua orang gadis sekolah saling menatap dan tersenyum malu-malu di sebuah ayunan.
Pansa mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang dia tonton. “Udah? Begitu doang dia udah tau kalau dia lesbi? Dan dia cinta sama temennya itu?” tanyanya kepada June.
“Ya emang begitu doang, Sa. Emang kamu maunya yang kayak gimana lagi?” tanya balik June.
“Maksud aku awalnya kan dia lurus, chat-chatan sama yang dia kirain cowok kan. Eh, ternyata cowok itu malah temennya yang cewek. Trus dia marah karna merasa dibohongi. Eh, malamnya malah sadar kalau dia lesbi dan cinta sama temennya yang bohongin dia itu. Begitu doang dia tau kalau dia lesbi, June?” Kening Pansa terlihat lebih mengerut lagi.
“Gini, aku jelasin filmnya ya, Sa. Pertama, kamu harus tau dulu urutannya, kenapa si Sun bisa sadar kalau dia lesbi,” mulai June sambil menegakkan duduknya.
Pansa juga melakukan hal yang sama. “Oke. Coba kamu jelasin aku,” ucap Pansa sambil menatap June penasaran.
“Oke. Si Sun marah sama Ongsa karna Ongsa bohongin dia. Nah, malamnya si Sun teringat sama semua kenangan dia bersama Ongsa dan chat-chatan mereka selama ini. Satu hal yang aneh sama orang yang lagi jatuh cinta, orang tersebut gak bakal bisa benci sama orang yang dicintainya, walaupun dia disakiti.”
Pansa mengerutkan keningnya, dia merasa mengenal orang tersebut di kehidupan nyata.
“Nah, itu juga yang terjadi sama Sun. Oke lah Ongsa bohongin dia dengan pura-pura nyamar jadi Earth. Tapi setelah Sun tau, apakah dia marah? Iya di awal doang, malamnya dia udah gak marah lagi, malah bersyukur kalau Earth itu Ongsa. Apakah dia benci sama Ongsa?” June menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gak ada rasa benci sedikitpun di hati Sun kepada Ongsa. Di saat itulah, dia sadar kalau dia cinta sama Ongsa. Jadi, aku mau tanya kamu, Sun lesbi dulu trus dia cinta sama Ongsa, atau Sun cinta sama Ongsa makanya dia lesbi? Yang mana?”
Pansa tampak berpikir sejenak. Lalu dia bergumam agak panjang. “Sun cinta sama Ongsa makanya dia lesbi,” jawabnya.
June langsung menjentikkan jarinya. “Betul, Sa. Dalam beberapa kasus, seseorang tau dia lesbi itu ketika dia sadar, dia cinta sama seseorang yang ‘kebetulan’ sesama jenis. Contohnya ya si Sun ini.”
Pansa mengangguk-angguk mengerti. “Benar-benar cocok jadi love guru kamu, June,” ledek Pansa.
June terkekeh. “Sialan kamu, Sa.”
Pansa juga terkekeh. “Kalau kamu sendiri gimana, June? Kamu yang mana dulu?”
“Aku tau aku lesbi, karna aku sadar gak tertarik sama sekali dengan cowok. Jadi, kasus aku sama Sun berbeda nih jadinya. Kamu ngerti kan bedanya?”
Pansa mengangguk-angguk lagi. “Kamu sadar kamu lesbi dulu, baru kamu cinta sama View.”
“Betul sekali, Sa. Tapi gak perlu sampai cinta. Kalau kamu tertarik sama cewek aja, gak perlu sampai level suka apalagi cinta deh, kemungkinan kamu itu lesbi. Makanya cewek itu persentase jadi lesbinya lebih besar daripada cowok jadi gay, Sa. Kita gak pernah kan ngerasa geli atau canggung ngakuin kalau seseorang itu cantik, atau seksi, atau menarik? Coba kalau cowok, geli mereka, Sa,” jelas June lalu tertawa geli.
“Iya benar, June.” Pansa juga ikut tertawa geli.
“Jadi, cewek mana yang kamu suka?” tanya June tiba-tiba.
Pansa langsung terkejut. “Gak ada, June! Jangan aneh-aneh kamu!” sangkal Pansa cepat.
“Udah jangan malu-malu, Sa. Kayak sama siapa aja.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga-Bunga Kecil
FanfictionSahabat masa kecil yang terpisah akhirnya bertemu kembali saat remaja. Namun, bukannya menjadi akrab kembali, yang satu malah menjadi pelaku pem-buli-an, sedangkan yang satunya lagi menjadi korbannya. Setelah berpisah lagi selama sepuluh tahun, kedu...
