Ikatan yang semakin mendalam

4 2 0
                                        

Setelah pertarungan melawan Dalion, ketenangan mulai kembali ke Dimensi Aethir. Namun, perasaan lega yang dirasakan Ayla bercampur dengan sesuatu yang lain-perasaan yang semakin tumbuh dalam dirinya. Setiap kali ia menatap Kael, hatinya berdebar. Di tengah keheningan dan kedamaian yang baru saja mereka capai, perasaan yang tidak bisa ia tolak semakin mendalam.

Hari itu, Kael mengajak Ayla berkeliling ke sudut-sudut Dimensi Aethir yang sebelumnya belum sempat ia lihat. Mereka melintasi padang rumput berwarna ungu yang dipenuhi bunga-bunga bercahaya, menuruni lembah dengan aliran sungai kristal yang jernih, hingga mereka tiba di tepi sebuah danau dengan air yang berkilauan di bawah cahaya bulan Aethir yang keemasan.

"Ini adalah tempat yang biasa aku kunjungi saat ingin berpikir atau menemukan ketenangan," kata Kael sambil duduk di dekat tepi danau. "Tempat ini selalu membuatku merasa lebih damai."

Ayla ikut duduk di sampingnya, memandang air danau yang memantulkan bintang-bintang di langit. "Kael, aku ingin bertanya sesuatu."

Kael menoleh, menatapnya dengan mata yang penuh ketenangan. "Tentu saja. Apa pun yang ingin kau ketahui, Ayla."

Ayla menghela napas, mencoba merangkai kata-kata dalam pikirannya. "Aku ingin tahu tentang dirimu... tentang mengapa kau begitu siap mempertaruhkan segalanya demi melindungi dunia ini dan... bahkan demi aku."

Kael tersenyum samar. "Sejujurnya, aku juga tidak tahu pasti sejak kapan perasaan itu muncul. Mungkin sejak pertama kali kita bertemu di hutan Everia, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Seolah-olah aku telah mengenalmu jauh sebelum kita bertemu."

Mendengar itu, Ayla merasakan kehangatan membanjiri hatinya. Ia ingat pertemuan pertama mereka, perasaan misterius dan tak terjelaskan yang muncul saat pertama kali melihat Kael. Sejak saat itu, ia merasa ada ikatan yang tak kasat mata di antara mereka.

"Aku juga merasakan hal yang sama," bisik Ayla, pandangannya tertuju ke air danau.

Kael terdiam sejenak, lalu mengambil sesuatu dari sakunya-sebuah liontin berbentuk bulan sabit yang terbuat dari kristal berwarna biru pucat. Ia mengulurkannya kepada Ayla.

"Aku ingin kau memiliki ini," katanya. "Liontin ini adalah warisan dari keluargaku, dan ia melambangkan keberanian dan kepercayaan. Selama kau memakainya, kau akan selalu berada di bawah perlindungan cahaya Aethir."

Ayla menerima liontin itu dengan hati yang bergetar. "Terima kasih, Kael. Aku akan menjaganya."

Mereka terdiam, namun dalam keheningan itu, perasaan mereka terungkap lebih dari kata-kata. Ayla merasakan ikatan yang kuat dengan Kael-bukan hanya sebagai sekutu dalam melawan Dalion, tetapi juga sebagai seseorang yang tak tergantikan di hatinya.

Setelah beberapa saat, Kael memegang tangan Ayla. "Ayla... apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisimu. Entah di dunia ini atau di dunia manusia, aku berjanji akan menemanimu."

Ayla menatap Kael, terhanyut dalam pandangan lembutnya. Tanpa sadar, jarak di antara mereka semakin mendekat, dan sebelum Ayla menyadarinya, Kael mendaratkan kecupan lembut di keningnya.

Kedua pipi Ayla memerah, namun ia tidak menghindar. Dalam momen itu, Ayla merasa seolah dunia di sekitarnya menghilang, hanya tersisa dirinya dan Kael, dalam kedamaian yang sempurna.

Namun, momen itu terhenti ketika suara lembut Elara bergema dari belakang mereka. "Maaf mengganggu, tetapi aku harus memberitahu kalian sesuatu yang penting."

Kael dan Ayla segera berdiri, rasa penasaran memenuhi pikiran mereka. Wajah Elara tampak serius, dan Ayla tahu bahwa apapun yang hendak dikatakan Elara, itu pasti sangat penting.

"Ayla, Kael," ujar Elara pelan, "meski Dalion telah pergi, kami menemukan jejak kekuatan kegelapan yang tertinggal di berbagai sudut Aethir. Sepertinya, ada lebih dari sekadar Dalion yang perlu kita waspadai."

Ayla menatap Kael, kekhawatiran tampak jelas di matanya. "Apakah ini berarti ada ancaman baru yang harus kita hadapi?"

Elara mengangguk. "Kemungkinan besar, ya. Dalion mungkin hanya bagian dari kekuatan kegelapan yang lebih besar. Untuk itu, kita harus bersiap dan terus berjaga-jaga. Dan Ayla... kau harus lebih memahami kekuatanmu, karena aku yakin tugasmu belum selesai."

Kael memegang tangan Ayla, mencoba memberikan ketenangan. "Apapun ancamannya, kita akan hadapi bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendiri, Ayla."

Ayla tersenyum, merasa semakin yakin dengan kehadiran Kael di sisinya. Meski ancaman baru tampak menghadang, ia tahu bahwa bersama Kael, ia akan mampu menghadapi segala tantangan.

Bersambung~~~

Bumi Aethir { END }Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang