Refleks saja ponsel yang hendak kusematkan ke dua telinga, kuturunkan kembali. Aku membeliak menatap Om Burhan yang dengan entengnya pergi begitu saja bahkan tak mempedulikan aku yang memasang wajah kaget setengah mati.
Sialan bapak-bapak itu! Apa dia tidak tahu kalau saat ini aku ...
"Luna?" Suara Raka terdengar dari balik ponsel. Gegas aku fokus padanya, dengan cepat mengindahkan panggilannya.
"I-iya?" Sial! Kenapa aku jadi gugup? Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa, bukan? Kenapa seolah-olah aku sedang melakukan dosa besar sampai aku berdebar sendiri?
"Kamu di mana? Sama siapa?" tanyanya kembali.
Kenapa dia harus bertanya itu? Jujur saja, aku sebenarnya risih ditanyai hal yang seperti ini. Ini bersifat privat bagiku. Terlalu malas menanggapi orang-orang dengan tingkat pengen tahunya yang luar biasa.
Tapi, apa yang harus kujawab? Haruskah kukatakan kalau aku sedang bersama ayahnya?
"A-aku lagi ada tugas di luar, Raka. Kamu tahu kan, aku udah mulai memasuki semester lima. Jadi banyak sekali yang harus dipelajari mulai sekarang," kilahku, pada akhirnya.
Sekitar beberapa detik kudapati keheningan dari balik ponsel. Apa yang sedang dipikirkannya? Apa jangan-jangan dia sebenarnya tahu apa yang kulakan dan hanya sedang memastikan saja?
"Jadi, kamu sibuk ya?" balasnya kemudian.
Aku mengangguk padahal Raka tak akan bisa melihatnya. "Kita ketemunya hari Selasa aja ya? Di kampus."
"Lho, kok lama sih? Ini masih Sabtu lho. Kamu emangnya pergi ke mana?"
"Eng ...." Ck! Sial. Aku benar-benar awam sekali kalau sudah masalah berbohong begini. Jujur saja. Aku ini perempuan yang murni bak bayi baru lahir. Jadi, sulit bagiku untuk mencari kebohongan. "Ee ... itu. Aku menginap bersama teman-teman di tempat jauh. Tugasnya ini luyaman ribet, Raka. Maaf ya?"
"Luna!"
Astaga! Aku benar-benar terlonjak begitu mendengar suara seruan Om Burhan memekik lantang memanggilku. Refleks, langsung kujawab dan melupakan kalau saat ini aku sedang berbicara dengan Raka lewat panggilan suara.
"Iya, Pak! Saya datang sebentar lagi!"
Tanpa pikir dua kali–saking takutnya aku pada kemarahan lelaki matang itu, aku tanpa ragu mengakhiri panggilan suara dengan Raka lantas buru-buru berjalan menghampiri Om Burhan.
Padahal makan saja belum. Memang ya? Bapak dan anak ini sama saja! Sama-sama bikin jantungan. Tapi ... bapaknya bikin berdebar dengan efek kupu-kupu di perut, sedangkan anaknya berdebar karena takut di anggap ani-ani berkedok bidadari.
Ck! Hidup memang se-plot twist itu.
"Iya, Pak?" Aku kembali bersuara begitu sampai di dekatnya.
Dia berdiri di dekat mobil, agaknya mau melanjutkan perjalan. "Kamu sudah makan?"
"Be-belum, Pak." Gila! Apa dia sedang berusaha perhatian padaku? Memang kuakui, pesona seorang Luna Maharani tak bisa ditandingi.
Diam-diam aku mengulum senyum, tiba-tiba merasa berdosa begitu ingat kalau pria gagah di depanku ini adalah suami orang.
"Kamu pulang sendiri! Kamu saya ganti!" cetusnya, yang langsung membuat rahangku jatuh ke bawah layaknya di dunia kartun.
"Maksudnya gimana, Om, eh, Pak?"
"Saya paling nggak suka sama pegawai yang lelet dan lamban kayak kamu. Seharusnya jam istirahat di pergunakan dengan benar. Kamu malah asyik-asyik tak penting seperti itu!" omelnya, berani.
"Tapi, Pak. Saya nggak keberatan kok nggak makan, kenapa Bapak pecat saya cuma karena saya belum makan aja? Nggak adil dong, Pak?" Aku mencoba protes.
Bagaimana mungkin dia tiba-tiba memecatku? Apa dia sudah gila? Aku bahkan tak punya uang pegangan sekiranya harus pergi darinya. Bagimana caranya aku pulang?
"Saya nggak peduli!"
"Eh, eh, Pak!" Aku buru-buru menahan pintu mobilnya yang hendak tertutup! Dia langsung menatapku skeptis, seolah kilatan matanya itu dapat menyembur api yang panas.
"Pak, jangan begini dong, Pak. Saya nggak punya uang mau pulang. Ini udah jauh banget, Pak. Saya janji, saya akan lebih profesional. Cuma dua hari kita kerja barengan, Pak. Masa dua aja Bapak nggak betah sih saja saya? Sedangkan anak Bapak aja kocar-kacir nyariin saya. Katanya kangen berat layaknya utang negara." Aku berakhir memelas.
Bahkan tanpa sadar aku memegangi lengannya, demi meyakinkanya kalau aku benar-benar tak berkilah.
Pelan, dia menarik tangannya dari peganganku. Aku diam-diam merasa tak enak, dan pakainya mengutuk diri. Aku hanya refleks. Bukan terlihat ingin menggodanya!
"Saya antar kamu ke terminal di seberang," ujarnya, malah semakin menjadi-jadi.
"Ta-tapi, Pak!"
Tak mau dia pergi, aku dengan cepat menarik tangannya hingga jarak kami terkikis persis adegan malam itu.
Dengan cepat kedua mataku membeliak, namun diam-diam berdebar begitu aroma tubuhnya kembali membelai penciumanku.
Sial! Kenapa aku tiba-tiba ingat tentang malam singkat itu?
Berselang beberapa detik, aku yang memang berniat menarik diri karena merasa tak pantas, entah dari mana munculnya seseorang yang dengan cepat menarik pergelangan tanganku lantas melayangkan pukulan tepat dipipi kananku.
"Awh!" Aku merintih.
"Dasar, Pe lakor!" umpatnya, yang baru kusadari dia ini seorang perempuan berhijab ala ibu-ibu.
Tentu saja aku mengerutkan kening, tak terima. "Apa? Buk, apa yang–awh!"
Belum siap aku berbicara, dia sudah kembali menarik rambutku sampai aku mendongak penuh, kesakitan.
"Masih muda, tapi bisanya cuma godain suami orang! Kenapa? Ga tel banget emang tem pik kamu itu, hah?! Kalau ga tel yang di garuk, jangan minta di so dok sama suami orang!" Dia terus mengataiku, sampai di mana aku menyadari Om Burhan menahan pergelangan tangan wanita itu.
"Lepas! Apa-apaan ini!" tegur Om Burhan. Akhirnya rambutku terlepas, menyisakan rasa sakit yang lumayan. Sempat pula kulihat tangan perempuan itu menggenggam beberapa helai rambutku.
Ck! Sial! Aku diam-diam menatapnya kejam, tak terima dengan semua perlakuannya ini. Rambutku mahkotaku. Aku membayar mahal untuk perawatannya. Bagaimana bisa dengan mudah kadal kampungan ini menariknya begitu saja?
"Btara! Kamu ini kapan sadarnya sih, hah? Mau sampai kapan kamu khianat Ayumi? Kamu lupa siapa yang ada saat kamu jatuh? Kamu nggak takut hukum karma, Btara?" tukasnya sambil menunjuk-nunjuk Om Burhan.
Tapi tunggu! Kenapa wanita ini malah menyebut Om Burhan dengan nama Btara? Siapa Btara?
Aku refleks menelengkan kepala, lalu mendongak menatap lelaki tinggi di sebelahku ini.
"Masuklah ke dalam. Saya antar kamu pulang," katanya, menyuruhku masuk ke dalam mobil.
Karena banyaknya rasa penasaran yang muncul di kepalaku, aku jadi bergeming sehingga tangannya yang kekar dengan cepat memegangi lenganku lantas memasukkanku ke dalam mobil.
"Katakan saja pada Ayumi apa yang terjadi hari ini. Aku malah senang dia mengetahuinya apalagi sampai melihatnya sendiri!"
Itulah ucapan yang dikatakan Om Burhan pada wanita itu. Aku jadi membeliak, tak paham apa sebenarnya maksudnya. Apa jangan-jangan dia sebenarnya ....
Author note
Vote, like, dan komen ya. Biar langsung dilanjut sampai tamat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku (Bukan) Pelakor
De TodoAku tidak pernah tahu, kalau lelaki yang kuajak cinta satu malam kemarin adalah ayah dari pacarku.
