Bapak-bapak itu memang paling bisa membuatku merasakan nano-nano dalam hati. Sebentar sudah menyebalkan, sebentar sudah menggairahkan, dan sebentar lagi sudah persis seorang ayah yang mencintai anaknya.
Setelah perdebatan kecil bersama Om Burhan, aku pun akhirnya memilih ikut apa maunya. Salah satunya, tinggal di apartemen yang saat ini kutempati.
Mungkin tubuhku saat ini begitu lega dan nyaman berbaring di atas kasur yang besar dan juga empuk dan pastinya tidak harus menguras kantong dan isi kepala untuk membayarnya.
Hanya saja, aku menghawatirkan hari esok. Apa yang akan terjadi? Bagaimana caraku menghadapi Raka nantinya setelah insiden besar ini?
Jadi begini ya rasanya punya uang banyak tapi isi kepala begitu berisik? Aku tidak berniat mengklaim apa yang diberikan Om Burhan adalah milikku, tapi bukankah ini termasuk rejeki? Tak sopan rasanya jika kutolak.
Mengingat lagi kejadian malam itu, membuatku merinding sendiri. Ngeri. Belum lagi tentang ibunya Raka yang langsung pergi, yang tanpa kutahu bagaimana kini keadaannya.
Apalagi tentang Ok Burhan yang dengan tanpa otaknya kelakuan hal konyol itu. Ck! Rasanya gila sekali. Persis seperti drama yang diperankan tokoh terbodoh sedunia!
Lama aku melamun membayangkan kisah tragis malam ini, tiba-tiba aku dikejutkan dengan denting pesan dari ponsel. Padahal benda persegi ini sempat terjatuh di pelataran parkir rumah Raka. Tapi entah bagaimana caranya dan kapan terjadinya Om Burhan memungut dan mengembalikannya padaku.
Aku jadi bingung menjabarkan pria itu. Dia itu baik atau sebaliknya? Ah, pusing!
Gegas saja kurebut ponsel, ingin tahu siapa yang mengirimi pesan padaku.
[Udah puas sama bayarannya? Wihhh, pasti lakiknya kesenangan tuh dapat jatah malam-malam.]
Refleks aku membuang napas jengah sambil membanting ponsel di atas kasur begitu kubaca pesan yang baru saja masuk. Siapa lagi kalau bukan Raka? Jujur saja, ucapan pria itu mulai membuatku muak. Menjijikkan!
Niat hati mengabaikan, nyatanya itu hanya didalam khayalanku saja. Tak mendapati balasanku, Raka justru menghubungi lewat panggilan suara.
"Cowok nggak tau diri! Sialan banget!" umpatku, menatap nyalang pada kontak namanya dilayar ponsel.
[Angkat, nggak? Jangan diam aja, Lon tiee! Gadis bayaran harus nurut.]
Pesan lanjutannya karena panggilannya kuabaikan. Membaca itu, ketenangan jiwaku rasanya sudah musnah. Aku bangun dari berbaring yang sebentar, lalu memaksakan dengan sekuat hati menjawab panggilannya.
"Kenapa?" tanyaku, ketus. Bibir ini sebenarnya ingin sekali mengumpati, mengatainya dengan cara yang sama. Tapi balik lagi? Kalau aku membalasnya, pasti dia semakin meradang. Kalau begini terus, kapan ini selesai?
"Gimana? Enak punya suami orang. Spil dong bentukan punya Papa gimana. Aku anaknya ga pernah lho liat. Sama nggak sama punyaku?" cerocos Raka tanpa tahu malu.
Mulutnya sama halnya dengan sampah! Isinya benar-benar hanya binatang yang bisa menikmati.
"Kamu mau apa? Udahlah, Raka. Kalau kamu terus-terusan kayak gini, aku pun punya batas kesabaran! Berapa kali aku harus bilang ke kamu, aku sama Om Burhan nggak ada apa-apa. Ini cuma salah paham!" tekanku, berharap otaknya menerima.
Kudengar dia tertawa remeh, benar-benar menganggap perkataanku hanya sebatas lelucon.
"Salah paham mana yang sampe dikasih apartemen? Di kasih fasilitas mewah. Dikasih perhatian lebih. Salah paham menurut pengamatanmu kali. Pemahaman pelacur biasanya lebih simple, kan?"
"Raka!"
"Shthhh!" desisnya, tanpa harus kulihat sudah bisa kutebak kalau dia sedang menggeram. "Jangan ngebantah! Kalau kamu masih mau tetap aman, turuti apa mauku. Kamu masih ingat itu, kan?"
Aku menghela napas panjang, lalu menjatuhkan ponsel ke taa kasur. Kuremas rambutku sekuat tenaga, berharap kalau semua yang terjadi ini hanyalah sebatas mimpi. Jujur saja, perkataan pria ini sangat menyakitkan. Benar-benar tembus ke relung hatiku yang paling dalam.
Aku tak kuasa menahan tangis kalau seperti ini terus.
"Besok pake baju ketat ke kampus," lanjutnya dari balik ponsel. Walau samar kudengar, tapi perintah itu benar-benar menembus langsung hatiku. "Jangan lupa pake lipstik tebal warna merah. Jangan lupa itu!"
"Raka ayolah ...."
"Denger nggak, Lonte?"
Air mataku benar-benar tak bisa ditahan kali ini. Aku menelan ludah cukup berat, tak bisa membantahnya.
"Kamu denger nggak?" bentaknya, membuat tangisanku pecah. Aku terisak dalam kesendirian, tak punya kuasa melawannya.
Begitu kujawab dengan suara rintihan mengiyakan, barulah panggilannya terputus. Kututupi wajah dengan telapak tangan, lalu menangis keras dia dalamnya.
Hanya berselang beberapa detik, pesan dari Raka kembali muncul. Dengan tangan gemetar aku membuka, lalu mendapati gambar yang dikirim olehnya.
Gambar Om Burhan yang sepertinya baru saja pulang. Gambar blur itu diberi caption, "Pacar siapa nih? Kayaknya lega banget. Habis keluarin di dalam ya?"
Bajingan! Itulah yang harusnya kukatakan pada pria itu, tapi tak bisa juga kuluaskan. Raka benar-benar mengunci pergerakanku dengan fakta kalau dia mampu menggiring opini publik tentang bukti yang dia punya.
Jujur saja, hukuman apa pun mungkin jauh lebih baik dari pada sanksi sosial. Mental dibunuh habis-habisan itu benar-benar jauh lebih menyakitkan dari apa pun.
Mengingat tentang Om Burhan, apa sebenarnya yang dia rencanakan? Kenapa Raka bisa tahu kalau aku ada di apartemen sekarang? Apa dia memberitahu anaknya? Tapi bukannya katanya dia menjagaku dari Raka? Tapi apa ini?
Kesal, langsung saja kualihkan kontak Raka pada kontak Om Burhan. Gegas kedua ibu jariku mengetik pesan di kolom percakapan WhatsApp, menuliskan,
[Pinter banget ya Om ngelabuin orang? Katanya aku disuruh pindah ke apartemen biar Raka nggak gangguin? Kenapa justru belum apa-apa dia udah tau semuanya?]
Padahal aku anti orang yang menunggu balasan pesan dengan cara stay di kolom percakapan. Tapi demi mengetahui jawaban Om Burhan, aku rela menunggu pesanku dibaca olehnya.
[Raka menyuruh temannya mengikuti kita tadi. Makanya saya putuskan buat kamu tinggal di sana. Dia pasti melakukan itu. Tapi seenggaknya, kamu aman. Nggak ada yang bisa macam-macam sama kamu selagi kamu tidur nyenyak.]
Balasan darinya membuatku termangu sebentar. Mungkin Raka tak bisa macam-macam padaku saat aku tertidur, tapi apakah aku masih bisa tidur setelah semua ini? Sikap Raka benar-benar laksana iblis rasanya!
[Nggak perlu khawatir. Kamu tidur saja]
Pesan lanjutan darinya membuatku muak. Dia saja tak tahu apa yang baru saja dilakukan putranya untuk mengancamku.
[Om aja yang tidur sana! Cowok kek Om tenang aja masalah kayak gini. Yang salah terus aja cewek. Padahal nggak salah apa-apa!] balasku, geram.
[Saya nggak bisa tidur. Istri saya mengunci kamar. Padahal rumah ini punya saya. Haknya apa coba melakukan itu?]
[Syukurin! Harusnya Tante tendang aja Om keluar.]
[Dia mana berani melakuan itu. Wanita itu takut miskin. Paling juga sebentar lagi juga dibuka]
Aku mendesis jijik membaca pesannya ini.
Pesan dari Raka tiba-tiba saja muncul. Sebelum membalas pesan Om Burhan, kusempatkan membaca pesannya lebih dulu.
[Kalian nggak sekalian tinggal bareng aja? Tanggung itu. Lakiknya ga bisa diem. Kurang kali ya servicesannya?]

KAMU SEDANG MEMBACA
Aku (Bukan) Pelakor
RastgeleAku tidak pernah tahu, kalau lelaki yang kuajak cinta satu malam kemarin adalah ayah dari pacarku.