49

1K 63 4
                                        

Tiga jam berlalu, Alva belum juga untuk sekedar membuka matanya, check up yg biasa di lakukan tidak ada dua jam, kini tiga jam berlalu pun check up nya belum selesai.

Dokter Rama tidak mungkin tetap melanjutkan pemeriksaan dengan kondisi Alva yg masih belum sadar, dan dalam pengaruh bius.

"Alva? .. Bangun dong, sayang. Jangan bikin bunda takut .. " Ujar Sania lirih di samping telinga anaknya itu,

Drrt .. Drrt ..

Sania menoleh, menatap handphonenya yg terabaikan sedari tadi. Ahh, ternyata Ayu yg menanyakan keberadaannya dan Alva, tidak biasanya juga check up anak itu lama seperti ini.

Baru juga mengirimkan pesan tentang alasan dirinya masih di rumah sakit bersama Alva, Ayu detik itu juga menelpon,

"Halo, mama?" Ujar Sania yg sudah parau

"Alva gimana? Kok bisa anak itu gak sadar, San?" Tanya Ayu khawatir

"Tadi Alva kan di tes, di suruh lari di atas treadmill, sebelumnya Dokter Rama udah izin ke aku kalau Alva mau di tes lari, terus dia lari di mesin treadmill baru bentaran udah ambruk anaknya, tadi nafasnya kacau .. Tapi udah di tanganin sama Dokter Rama, di kasih obat tidur juga, sampe sekarang Alva belum bangun .. " Ujar Sania serak

"Ya Allah, San. Terus kamu izinin? Ngapain? .. Alva selama ini udah di batasin kan kegiatannya, gak boleh kecapekan. Harusnya kamu paham kalo anak itu gak boleh capek .."

Sania diam menangis, ia merasa ini memang salahnya.

"Harusnya jangan di izinin, apalagi lari di mesin treadmill, itu olahraga berat. Alva sekarang beda sama yg dulu, dulu dia bebas, sekarang kita harus jaga dia, kesehatannya, jantungnya .. Agar anakmu tetap hidup." Ujar Ayu

Sania menangis terisak-isak, "Aku juga gatau kalo Alva bakal kayak gini, Ma .. Kalo aku tau, gak akan aku biarin dia di tes lari di mesin treadmill .. " Ujar Sania, ia bukan mencari pembelaan, tapi-

Hh.. hahh...

Sania menoleh saat mendengar hembusan nafas dan pergerakan kecil dari sang putra, Alva mengerjapkan matanya menatap sang bunda, denyut nyeri di kepala tiba-tiba saja hadir juga rasa sesak yg masih menyiksanya,

Sania mematikan telponnya dengan Ayu, memilih fokus terhadap putranya itu, "Hey, sayang .." Ujar Sania sembari menghapus air mata yg jatuh, karena putranya itu paling tidak suka melihatnya menangis, apalagi di karenakan oleh dirinya.

Alva hanya menatapnya, dengan hembusan nafas yg masih berat, dadanya terasa terhimpit, jalur udara seperti sempit, rasanya sesak.

Alva menadahkan tangannya, ingin di genggam, Sania yg paham segera menggenggam tangan anak itu, "Kenapa, hm?" Tanya Sania lembut menatap anak itu,

Alva mengambil nafas dalam, ".. hh-Sa kit.. Bundaa .." Ujar anak itu yg mengadu atas rasa sakit yg masih dia rasakan,

Pertahanan Sania runtuh lagi, baru mendengar pengaduan putranya, matanya sudah berkaca-kaca lagi, dan bahkan sudah jatuh.

"Sesak .. hh.. "

"Maaf, yah .." Ujar Sania spontan mengatakan itu,

"Masih sesak, sayang? Dokter Rama bentar lagi kesini," Ujar Sania yg memencet tombol untuk memanggil Dokter Rama, wanita itu juga cekatan menaikkan ranjang Alva jadi setengah duduk, dan menambah laju udara masker oksigen yg di kenakan sang putra.

Sania celingak-celinguk ke belakang, Dokter Rama tak kunjung datang. Alva memeluk tubuh bundanya itu, Sania mengusap punggungnya, "Dokter Rama gak datang-datang .. Sesak banget, Nak?" Tanya Sania

SurendersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang