51

1K 58 6
                                        

Pelaksanaan operasi Alva akan di laksanakan nanti malam, sekitar pukul tujuh malam, dari kemarin hingga saat ini anak itu di suruh puasa oleh Dokter Rama, hanya boleh memakan beberapa jenis makanan ringan dan air putih.

Seperti buah-buahan, sayur, susu, dan oatmeal atau sereal, secara berkala. Dan hingga saat ini, Alva hanya di perbolehkan meminum air putih, tidak boleh masuk makanan dalam bentuk apapun, terakhir siang tadi ia di beri makan bundanya oatmeal, di lidah Alva rasanya sama saja seperti bubur, namun lebih enak oatmeal.

Kapan hari lalu, Sania sudah berbicara dengan Dokter Rama tentang operasi Alva, awalnya Sania hendak menolaknya, ia tidak cukup berani untuk melepas putranya ke meja operasi, Sania terlalu takut untuk itu.

Tapi dengan bujukan Dokter Rama, yg berhasil meyakinkan wanita itu, Sania akhirnya mengangguk setuju, walau dengan berat hati.

Dokter Rama bilang, salah satu jalan agar Alva kembali sehat, tentu saja dengan operasi, jika berhasil tentunya. Apa yg di katakan Dokter Pram- Dokter tampan yg menangani Alva kala itu memang benar.

Dengan mengandalkan pengobatan luar saja tidak akan mempan, jantung anak itu seperti sudah menolak tindakan-tindakan pengobatan yg tertuju padanya, dengan obat dan check up skrining jantung seperti biasanya hanya menunda kematiannya.

Tapi Dokter Rama lagi-lagi meyakinkan Sania, bahwa ia dan tim para medis yg akan mengoperasi Alva nanti akan mengusahakan yg terbaik, ia tidak bisa berjanji operasi itu akan berhasil, tapi Dokter Rama dan para tim medis pasti akan melakukan dengan baik dan sungguh-sungguh.

Dan tidak akan membiarkan Alva mati di tangan mereka, membiarkan akhir dari garis takdir Alva disana.

"Bunda, aku takut..." Raut wajahnya sangat kentara kalau anak itu sebenarnya ketakutan,

Wajah pucat pasi dan mimik ketakutan itu baru di tunjukkan sekarang, saat yg lain keluar dari kamar rawatnya, ada seluruh keluarganya- Ayu, Rere, dan Dela. Bahkan kedua temannya pun ada di luar, menunggu anak itu di luar kamar rawat Alva atas perintah Dokter, agar membiarkannya istirahat dan menenangkan dirinya dari rasa tegang yg pasti ada, apalagi ini pertama kalinya Alva operasi.

Sania menggeleng, bahkan dirinya sendiri pun takut. "Syuut.. Jangan takut.. Nanti kamu tutup mata, kayak tidur seperti biasanya..."

"Aku takut, bundaa..." Anak itu mulai merengek, sungguh, ia merasa takut di bawa ke ruangan mencekam itu nanti,

"Sayang, dengerin bunda! Kamu mau sembuh kan? Katanya mau banggain bunda, lewat prestasi kamu nanti, berarti kamu harus berani, jangan takut! Kamu bilang pengen kuliah, Dokter Rama aja semangat biar kamu bisa kuliah, kamu juga harus semangat dong!" Ujar Sania meyakinkan anak itu

Alva menatap dalam manik coklat sang bunda, "Kalo gagal gimana?"

Sania menggeleng, ahh anaknya ini bikin makin khawatir saja, "Enggak! ..."

"Jangan mikir kesana!" Lanjut wanita itu kehabisan kata-kata.

"Bunda, aku minta maaf ya?"

Sania menyerngit, lalu menggeleng lagi, "Alvaa.. Kamu ngomong apasih, sayang?! Kenapa minta maaf segala? Gak akan terjadi apa-apa sama kamu, kamu akan tetep baik-baik aja, inget itu!"

Alva masih menatapnya tanpa jawaban, entah apa yg putranya itu sedang pikirkan, intinya di mata sang putra, anak itu ketakutan, khawatir, bingung, dan ...

Entahlah, Sania tidak bisa menebak itu.

Hingga akhirnya waktu operasi Alva tiba, Dokter Rama menjemput Alva ke kamar rawatnya, laki-laki tua itu melangkah dengan senyumnya ke arah ranjang Alva, agar tidak tegang-tegang amat.

SurendersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang