Alva langsung mendapatkan penanganan pertama berupa CPR begitu melihat tidak ada pergerakan dada Alva, juga nafasnya yg berhembus lemah, hampir tidak terasa, denyut nadinya juga tidak teraba.
Sementara perawat yg lainnya menangani luka-luka Alva, perawat itu mengikat erat luka Alva di kaki dan lengan tangannya, mencegah darah keluar lebih banyak.
"Luka di kakinya dalam banget." Ujar perawat itu yg tengah mengikat kaki Alva dengan kain steril yg tersedia,
Anak itu kehilangan banyak darah, sampai kesadarannya terenggut, dan membuat saturasi oksigen dalam darah yg rendah.
Tubuhnya dingin dan hambar, kulitnya putih pucat bercampur bercak merah yg memenuhi seluruh tubuh, bibirnya membiru, Sania rasanya ingin menjerit melihatnya, Alva yg di lakukan kompresi dada, dia yg merasakan sesaknya, sesak sekali.
Tangannya menggenggam erat dengan gemetar sedari tadi, ikut bercampur dengan darah Alva yg menodai tangan dan kemeja putih kerjanya.
Satu perawat lainnya beralih ke sisi kepala Alva, memasangkan kabel EKG ke dada Alva di balik bajunya, juga oximeter ke jari telunjuknya, terpampang saturasi oksigen anak itu hanya di angka 83%. Sementara perawat satunya tetap melakukan kompresi dada atau CPR, bisa di rasakan kadar oksigen anak ini pasti rendah, dan paru-parunya keracunan asap.
"Saturasi oksigennya sangat rendah." Ujar si perawat,
Tanpa pikir panjang, perawat itu melakukan intubasi pada Alva, karena kadar oksigen yg sangat rendah, sang perawat membuka paksa mulut Alva lalu memasukkan alat untuk membuka saluran nafasnya, Sania memalingkan wajah melihat itu, matanya panas tidak tega melihat tindakan yg di lakukan pada putranya.
"Pak, lebih cepat! Saturasi oksigennya rendah, detak jantungnya melemah!" Ujar seorang perawat dengan nafas yg tersenggal-senggal karena terus melakukan CPR pada Alva, angka saturasi oksigen dan rekaman detak jantung anak itu perlahan menurun.
Sania mendongakkan kepalanya mendengar penuturan suster, genggamannya semakin erat menggenggam tangan Alva, wanita itu menggelengkan kepalanya bersama tangisnya yg terus lolos dari batasannya, hatinya menyerukan nama putranya, merayu tuhannya untuk memberi hidup yg lebih lama pada sang putra tersayangnya, dia belum siap untuk kehilangan Alva, tidak akan siap.
"Bertahan, nak, bertahan.. Bunda masih pengen ngerawat kamu.. Bunda cuma punya kamu..." Lirihnya
Ambulans itu melaju semakin kencang membelah jalan, karena posisi kecelakaan yg di dalam hutan membuat jarak ke rumah sakit juga lama.
Sania di dalam berdoa keras dalam hati dengan kepala menunduk, dengan menggenggam erat tangan Alva. Hatinya bergemuruh riuh, ia benar-benar takut, sudah berapa kali dia berada di posisi ini, menyaksikan putranya berjuang antara hidup dan mati.
Anak itu masih berusaha di selamatkan nyawanya oleh para perawat di sepanjang perjalanan, CPR di dadanya terus di lakukan, tidak berhenti sama sekali. Sedangkan satu suster yg lain memberinya oksigen secara manual, karena memang tidak ada mesin ventilator disini, dengan terus memompa ambubag yg tersambung pada selang ventilator.
Hingga lima belas menit, mereka akhirnya sampai, brankarnya di dorong cepat untuk segera mendapat pertolongan, dengan satu perawat yg ikut naik ke atas tetap memberikan CPR pada dada Alva, Sania ikut berlari mengikuti brankar yg di dorong para perawat dengan genggaman tangannya yg masih erat pada Alva.
Hingga genggamannya terlepas, brankarnya di bawa masuk lalu pintu darurat di tutup, dia tidak boleh masuk. Tubuhnya lemas terduduk di depan pintu, matanya menatap tangannya yg gemetar penuh bercak darah, bahkan sampai mengenai kemeja kerjanya.
Hingga jiwanya sadar begitu Devan mengusap punggungnya, mengajaknya ke toilet membersihkan diri. Wanita itu masih tak bergeming dari tempatnya, tubuhnya kaku dan lemas, matanya masih menatap nanar tangan gemetar penuh noda darah itu,
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Novela JuvenilDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
