Mata itu mengerjap pelan setelah dua hari terpejam erat, menyesuaikan retinanya dengan cahaya lampu yg seperti menusuk ke dalam, pandangannya buram, kepalanya berdenyut-denyut, tenggorokannya kering, tidak nyaman, dan sedikit sakit,
Tapi kilas balik tentang tangan besar yg mengusap kepalanya seakan memenuhi memori otaknya, pikirannya langsung tertuju dengan kejadian itu.
"Alva?" Panggil Ayu yg memang tidak tidur malam ini, jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi, tapi entahlah ia tidak bisa mengantuk apalagi tertidur, insomnia mungkin.
Suara Ayu yg memanggil nama putranya membuat Sania yg tertidur di sofa kamar rawat Alva ikut terbangun, tanpa pikir panjang Sania langsung menghampiri Mamanya yg masih duduk di samping ranjang pesakitan Alva.
Ahh, anak itu sudah di pindahkan dari ICU sejak kemarin.
"Alva udah bangun, ma?" Tanya nya menghampiri Ayu,
Ayu menoleh menatapnya, lalu mengangguk, "Matanya melek!"
Sania tersenyum, "Sayang? ..." Panggilnya lembut,
Mata anak itu tidak fokus, terbilang cukup gelisah, pandangannya masih buram, dan otaknya seperti mengirim sinyal untuk mengingat saat-saat sebelum operasi, itu saja.
Tak mendapat jawaban, Sania mencoba memanggilnya lagi, "Alva, hey? .."
"Ay-yahh ..."
Pelan dan terbata, baik Sania ataupun Ayu sama-sama menyerngit kan matanya dan saling pandang, Sania memaksakan senyumnya setelah tadi pudar sebentar, memfokuskan pandangan anaknya itu, matanya tidak fokus, kosong menatap ke depan.
"Alva, hey? ... Lihat bunda, ini bunda, sayang.. Ini Oma ..."
"Nggak ada ayah, nak .." Suaranya mulai serak, bagaimana bisa bangun-bangun anak itu malah mencari ayahnya, bahkan Devan tidak menemui Alva sama sekali dalam beberapa bulan kebelakang, Ia sedikit sakit hati, orang pertama yg di cari oleh putranya malah orang yg tidak pernah ada untuk putranya.
Sedangkan Alva sendiri masih tidak fokus, anak itu seperti orang linglung, tatapannya lurus ke depan, kosong.
Sania mengelus-elus kening anak itu dengan ibu jarinya, pelipisnya sedikit basah oleh keringat, Sania mengusapnya, sekaligus menyingkap rambut anak itu yg menutupi kening bahkan matanya.
"Alva? Coba lihat bunda, sayang.. Hey? Alva?..." Matanya mengarah menatap bundanya kini, wanita itu tersenyum,
"Ay-yahh ..." Suaranya lebih lirih, dan sedikit serak, seolah menginginkan kehadiran ayahnya, sekarang juga.
Sania terus menggeleng, "Nggak ada ayah disini, nak .. Kenapa nyariin ayah, hm? Disini cuma ada bunda, sama Oma, terus besok temen-temen kamu juga kesini, itu si Rendi Karlo, besok kak Rere sama Dela juga kesini, nggak ada ayah!"
Ayu menahannya dengan gelengan kepala, menyuruhnya berhenti berbicara, percuma, Alva belum sepenuhnya sadar, tatapannya saja masih lurus ke depan.
Sedangkan Alva, ia yg tak merasakan kehadiran ayahnya, mulai memejamkan matanya lagi, Sania menatapnya sedih, kenapa dengan anaknya ini?
Sania mengusap rambutnya, dan Alva masih bisa merasakan usapan itu meski dalam pejamnya, ahh ingatannya kembali di paksa dengan saat itu, tapi bukan ini yg Alva cari, ia merindukan sensasi tangan besar yg mengusap kepalanya dengan sayang.
"Kayaknya pas di bius, Alva mimpiin ayahnya, San." Ujar Ayu yg memecahkan lamunan Sania,
"Bahkan dalam tidurnya pun, orang itu gak bisa bikin anakku tenang bentar aja .." Ayu tersenyum getir mengusap pundak Sania,
"Alva juga butuh sosok ayahnya, walaupun dia gak pernah ngomong." Ujar Ayu
"Tapi ayahnya aja kayak bajingan gitu, ma ... Kalau Alva di satuin sama Devan, pasti laki-laki itu atau anak-anaknya akan terus menyakiti Alva. Nggak, nggak akan aku biarin mereka nyakitin anakku, seinci kuku pun gak akan ku biarin!" Tegas Sania
Ayu mengangguk, "Mama juga gak rela mereka terus menyakiti cucu mama, bikin Alva sekarat berulang kali."
Sania sedikit tidak terima saat Ayu mengatakan putranya sekarat, tapi ucapan mamanya itu memang benar, anak itu sudah sekarat berapa kali? Untung saja Tuhan masih mau menolongnya, untung saja.
Hingga pagi hari menyapa, Rendi, Karlo, Rere, Dela, bahkan Teman baiknya di kantor Dina pun ikut datang, menjenguk ponakan beda darah, beda silsilah keluarga, yg masih terpejam damai di ranjang pesakitan nya.
"Kenapa bisa sampe operasi sih, San? Ya ampun, Alva ... Alva ... Tante sampe kaget denger kamu abis operasi." Ujar Dina mengusak rambut anak itu,
"Radang jantungnya udah parah, sumbatan di jantungnya juga parah, bikin aliran darah gak lancar, terus Alva-nya juga bandel, masih suka abisin tenaganya buat ekstra sama lomba dulu, latihan terus, padahal udah di kasih tau ada radang tapi tetep aja ini anaknya, kalo aja dulu ni anak nurut, pasti gak sampe kayak gini, sekarang udah jantung lemah, aku ngerasa gagal jagain dia." Ujar Sania menatap sendu putranya,
Dina mengusap pundaknya, "Sekarang harus di jaga bener-bener ini si Alva, dia udah kaya barang yg rusak, bisa berhenti bekerja kapan saja."
Sania menatap sahabatnya tidak suka, "Jangan ngomong gitu!" Ujarnya penuh penekanan namun lirih, ia benar-benar sensitif dengan kata mati atau semacamnya, apalagi jika kata itu di tujukan ke putranya.
Sementara Dina menggeleng, bukan itu maksudnya, "Enggak ... Maksud aku, intinya ini anaknya harus di jaga baik-baik! Walau nanti dia udah sehat, badannya udah fit lagi, tetep jangan kemakan rayuannya." Ujar dia
Sania hanya mengangguk, itu sudah pasti, "Juga gara-gara anak sialan itu, dia yg bikin kondisi jantung Alva makin buruk, dulu dia ngasih obat suntik mati sampai-sampai anakku sempet ..." Sania menggeleng-gelengkan kepalanya, masih bisa di rasakan sehancur apa dirinya waktu itu, dunianya seakan runtuh, jantungnya seperti di paksa berhenti, dirinya seperti di cincang-cincang dan di tusuk sampai dalam.
"Demi tuhan, aku benci banget anak itu!" Ujar Sania penuh penekanan lagi,
"Hah? Siapa? Bukannya waktu itu Dokter baru salah ngasih obat?" Tanya Dina sembari mengingat-ingat,
Sania menggeleng, "Dalangnya itu Aril, dokter itu bukan dokter Inka, dokter inka yg asli dia sekap, dan dia nyuruh pacarnya buat jadi dokter Inka lalu memasukkan obat yg memaksa detak jantungnya berhenti berdetak."
Dani speechless, bahkan tiga remaja yg sedari tadi mendengarkan pun sama terkejutnya.
"Bang Aril adiknya bang Noel?" Tebak Karlo
"Aril siapa?" Tanya Dina menatap Sania dan Karlo bergantian
Sania mengangguk atas pertanyaan dari sahabat putranya itu, "Anak bungsu mantan suamiku dengan istri pertamanya. Sejak kejadian itu, dia seperti menghilang dari kota, lalu tiba-tiba dia menyelinap masuk ke kamar rawat Alva, melepas masker oksigen dan menutup wajahnya sama bantal, padahal malamnya waktu itu Alva collapse, anakku hampir aja mengalami gagal nafas ... Andai aja ketemu, aku cincang anak itu!"
"Kalo bang Noel, Tante?" Tanya Karlo, ayolah, orang itu sudah resmi tunangan dengan kakaknya, yg mana sebentar lagi Noel jadi kakak iparnya.
Sania menggeleng, "Noel gak pernah menyakiti atau melukai Alva secara fisik, dia juga gak pernah menemui Alva, ketemu Alva aja dia memilih menghindar, tapi kamu tau sendiri lah gimana Alva, ni anak malah ngejar kalo ketemu abangnya atau ayahnya, jadi, walaupun Noel gak menyakitinya, tapi dia menjatuhkan mental Alva. Aku benci mereka semua!"
Dina lagi-lagi speechless, ia seperti satu-satunya orang yg baru tau tentang ini semua. Dia bahkan sudah bersahabat dengan Sania saat pertama kali Sania kerja, dimana saat itu Alva saja belum ada, masih di perut Sania yg masih rata, dan dia saja tidak tau dulu sahabatnya itu tengah hamil.
Tbc.
Jangan di siksa dulu, kasian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Fiksi RemajaDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
