Sania melangkah keluar mengikuti Dokter, entah kenapa perasaannya jadi risau seperti ini,
"Jadi, bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya nya
"Terus terang saja, keadaan anak Ibu sudah sangat parah, saya rasa dengan pengobatan luar saja tidak akan begitu membantu, kita perlu pembedahan atau operasi bypass jantung .."
Damnn....
"Operasi, Dok?" Tanya Sania bergetar,
Dokter tampan itu mengangguk, "Jika ibu setuju, saya akan bicarakan dengan Dokter Rama terkait hal ini. Sebenarnya Dokter Rama sudah berbicara dengan saya mengenai salah satu pasiennya yg mengidap penyakit jantung untuk melakukan operasi ini, mungkin pasien yg di maksud Dokter Rama adalah anak Ibu."
"Akan saya bicarakan pada beliau untuk pelaksanaan operasi bypass off-pump atau on pump. Tapi kalau menurut saya pribadi, lebih baik di lakukan secara off-pump, dimana jantungnya tetap bekerja disaat operasi di laksanakan ..."
"Kalau secara on-pump, selama operasi detak jantung akan di berhentikan dulu, sementara, sampai operasi selesai, dan kinerja jantung di gantikan oleh mesin yg mentransfer darah keseluruh tubuh. Dan dengan kita menghentikan detak jantungnya saat operasi, itu cukup bahaya dimana saat ini detak jantungnya saja sudah lemah, takutnya hal buruk itu yg malah akan terjadi ..."
Dada Sania terasa sesak sekali mendengar penjelasan panjang Dokter di hadapannya ini, percayalah, jantungnya seperti ikut di paksa berhenti, "Apa gak ada cara lain, Dok? .." Tanya Sania penuh harap berlinangan air mata.
"Tidak ada. Untuk sekarang jalan satu-satunya hanya operasi, seperti yg saya bilang di awal, dengan pengobatan saja kurang efektif sekarang.. " Ujar Dokter itu,
Otak Sania seperti buntu untuk mengucap sesuatu, Sania tentu saja takut mengambil keputusan sebesar itu, taruhannya kini nyawa putranya, yg dimana jika ia salah ambil langkah, maka ...
Yahh, 'hal buruk' itu akan terjadi.
"Ya Allah, San.." Ayu memeluk putrinya itu yg sudah menangis sesenggukan menceritakan apa yg terjadi,
"Terus gimana? Kamu iyain apa kamu tolak tawaran Dokter itu?"
Sania menggeleng, "Aku belum jawab, biar Dokter itu bicara sama Dokter Rama gimana baiknya, aku takut menjawabnya, kalau aku salah lagi, bisa-bisa Alva ... " Sania menggeleng brutal, otaknya menolak untuk membayangkan hal itu,
Ayu memeluknya lagi, menenangkan jiwa rapuh Sania yg di landa ketakutan yg luar biasa, "Inget kata mama dulu, untuk sekarang, kita serahkan sama Dokter Rama, ya? Apa kata beliau nanti, itu jawaban .. Kita pasrahkan sama tuhan, kita berdoa sama tuhan, hasil akhir dari operasi nanti itu takdir, kita harus siap, kuat in hati kamu! ..."
Sania lagi-lagi menggeleng brutal menolak pernyataan mamanya itu, sebagai seorang ibu, ia mana bisa kalau disuruh mengikhlaskan anaknya nanti di hasil akhir dari operasi.
"Kenapa bukan aku aja sih, Ma? Yg ada di posisi Alva sekarang? .. Kalau di suruh gantiin posisi Alva sekarang, aku siap, aku siap banget! .. Asal Alva gak papa, asal dia sehat! ..."
"Sann .." Lirihnya, Ayu juga tidak rela jika putrinya ada di posisi Alva sekarang, yah sama halnya dengan Sania,
"Selama ini aku jadi sosok ibu yg buruk bagi Alva, iya kan, Ma? Jagain satu anak aja aku gak bisa!"
"Harusnya Alva dapat sosok ibu yg jauh lebih baik dari aku, aku buruk banget buat jadi ibunya, aku belum bisa jadi ibu yg baik buat dia." Lanjut Sania
Ayu melepas pelukannya, memegang dengan tegas kedua pundak Sania. "Sania! Kamu udah jadi ibu yg baik buat Alva, bahkan kamu bisa jadi sosok Ibu sekaligus Ayah buat dia, kamu mampu merawat dia sendiri sampai anak itu gede, banyak prestasi non-akademik nya, berhasil didik dia jadi anak yg baik, tidak jadi anak nakal, itu hebat!" Ujar Ayu
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Ficção AdolescenteDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
