55

1.1K 38 4
                                        

Langit mulai menampakkan gelapnya, hawa dingin juga mulai menyelimuti. Di kamar rawat itu, Alva baru saja di bersihkan badannya oleh sang bunda, sebenernya Sania sudah mau membersihkan tubuh putranya itu sorean sekitar jam 3 tadi, dimana angin belum meluapkan udara dinginnya, tapi anak itu terus menolak badannya di bersihkan, Alva malah merengek minta mandi yg langsung di pelototi oleh Sania.

"Dingin, sayang?" Tanya Sania sembari tangannya mengancingkan baju putranya, tanpa gangguan kabel-kabel EKG yg biasa singgah, kabel peninjau detak jantung putranya itu bukan di lepas karena Dokter memang mau melepasnya, tentu saja karena Alva yg merengek meminta di lepas, dia merasa risih.

"Enggak," Ujarnya menggeleng, dan sedikit menggigil.

Sania menghela napas, dan menaikkan selimut anak itu sampai lehernya, "Bunda mau ambilin makan malam kamu, tapi kata dokter Rama kamu gak boleh makan dulu, karna mau lepas ini." Ujar Sania menunjuk selang di balik baju Alva,

"Nggak usah makan juga gak papa, bunda. Aku gak laper." Ujar Alva yg menang belum merasa lapar,

Makan malam itu biasa di kirim sekitar jam tujuh atau delapan, tapi berhubung nanti proses pelepasan selang di dada putranya, Sania berniat memintanya sore ini, tapi dokter Rama malah melarang anak itu makan, setelah melepas selang itu, Sania yakin putranya itu tidak nafsu makan.

Pintu tiba-tiba di buka, Ayu pelakunya, wanita setengah abad lebih itu telah selesai menunaikan sholat maghrib.

"Dokter Rama kayanya mau kesini tuh, tadi ketemu beliau di luar." Ujar Ayu

Alva yg mendengarnya cemberut, ia masih mikir-mikir sesakit apa prosedur melepas selang ini? Sakit biasa apa sakit banget?

"Ini di lepas pas aku gak sadar aja, gak bisa apa?" Tanya nya spontan

"Alvaa? ..." Ujar Sania mencelos, tidak tau kah anaknya ini sepanik dan setakut apa dirinya saat anak itu tidak sadar?

"Jangan ngomong gitu, ah ... Kamu kalo lagi gak sadar itu nyeremin, pokoknya serem!" Ujar Sania

Belum sempat anak itu menjawab, Dokter Rama datang membuka pintu dengan seorang suster yg membawa nampan berisi suntik dan alat yg entah apa Alva tidak tau, "Permisi? ..." Ujarnya tersenyum,

"Udah siap?" Tanya dokter Rama

"Sekarang, Dok?" Tanya anak itu

"Tahun depan. Ya sekarang dong, Alva!" Ujar Dokter Rama, "Saya lepas, ya?" Ujarnya sembari melepas kancing baju Alva satu persatu, dokter Rama juga melepaskan satu lengan bajunya dari lengan tangan Alva, untuk memudahkan prosedur.

"Tangannya angkat, Va ..." Ujar dokter Rama, anak itu langsung mengangkat kedua tangannya keatas kepala.

"Bundaaa..." Sania yg paham langsung duduk di sebelah kepala Alva, tangan anak itu langsung melingkar di tubuh bundanya, dan menyembunyikan wajahnya di perut sang bunda.

Dokter Rama menyuntikkan bius lokal tepat di sebelah selang seukuran jari kelingking itu menancap, anak itu meringis merasakan jarum yg ikut menusuk kulitnya.

Sania terus mengelus-elus lengan anak itu, satu tangannya menutup kedua mata Alva yg bersembunyi di balik tubuhnya begitu melihat dokter Rama perlahan mulai menarik selang itu keluar.

"Akhh..." Jeritnya tertahan

Sementara dokter Rama terus menarik selang itu perlahan dan sangat hati-hati, takut lebih menyakiti Alva lagi karena pergerakannya yg tiba-tiba.

"Sshh... Akhhss... Sak kitt... Sakitthh..." Rintihnya kesakitan, nafasnya mulai gusar, kembang kempis, dadanya sakit bukan main,

Sementara Sania masih terus mengelus lengannya, terus menciumi rambutnya, sekedar menguatkan anaknya itu, "Syuut.. Syuuttt.. Bentar lagi selesai..." Ujarnya serak

SurendersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang