Sania yg sedang meeting di kantor, begitu mendapat notif bus putranya mengalami kecelakaan, jantungnya langsung berdebar keras, ingin meloncat dari dalam, ia dengan spontan berdiri, mimik mukanya sudah panik dan hampir menangis, "Maaf, pak. Saya izin pamit terlebih dulu, saya-"
"Tidak bisa, ibu Sania." Potong sang bos, pemilik perusahaan, pembahasan sedang penting-pentingnya, dan
"Bus yg membawa anak saya kecelakaan, maaf pak, atas kelancangan saya, saya permisi," Ujarnya sedikit gemetar mengemasi laptop dan barangnya, lalu berlalu dari sana.
Laki-laki tua itu hanya membulatkan mulut, tidak bisa melarang lagi, ia tau bagaimana perasaan Sania saat ini pastinya.
"Saya izin pamit,"
"Saya tidak memberi izin pak Devan, ataupun rekan lainnya untuk keluar!" Ujar laki-laki itu tegas,
"Sania anaknya sedang kecelakaan, dan anda pak Devan, ada urusan apa anda di luar? Pertemuan kita kali ini sangat penting-"
"Maaf, pak, saya permisi." Ujar Devan memotong ucapan bosnya, dan pergi berlalu dari sana.
"Pak Devan!" Teriak laki-laki itu, "Kembali atau saya adukan pada atasanmu!"
Devan yg masih di ambang pintu terdiam, kalau di adukan ke bosnya bisa-bisa dia di gantikan oleh teman kerjanya yg lain, atau lebih parahnya dia di pecat.
Devan bodoamat, dia tetap melangkah keluar, berlari menyusul Sania.
Langkahnya ia percepat begitu melihat mantan istrinya, "San?" Ujarnya mencekal pergelangan tangan wanita itu,
"Tolong, jangan sekarang.. Anakku lagi nggak baik baik aja, enggak jangan sekarang.." Ujarnya memelas,
Devan menggeleng, "Keadaan kamu kacau gini, jangan nyetir sendiri, aku anter,"
"Mau apa?! Tolong, Alva lagi nggak baik-baik aja, jangan menambah sakitnya!" Ujarnya serak memelas, mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Devan yg terlalu kuat,
Devan menggeleng lagi, "Aku gak akan nyakitin dia, San! Selama ada kamu, gimana aku bisa nyentuh anak itu?"
"Lihat keadaan mu sendiri, kamu bahkan kacau banget gini, gak ada alasan, aku antar." Ujar Devan menggandeng tangan Sania menuju parkiran, tidak seperti biasanya yg terus menolak, entahlah wanita itu menurut saja.
Mereka dalam perjalanan kini, laju mobilnya sangat cepat membelah jalanan yg untung saja sepi. "Cepat, Dev."
"Ini udah kecepatan di atas rata-rata, kamu mau kita kecelakaan juga? Sabar, kamu yg tenang, sabar, oke?" Ujar Devan
Sania menundukkan wajah, menutup wajahnya dengan tangan menghalangi air mata yg tidak mau berhenti. Devan menoleh sekilas, dia harus fokus, "Berdoa, aku yakin anak itu baik-baik aja."
"Anak itu, anak itu. Dia anakku!" Sahut Sania cepat, seolah tidak terima putranya disebut 'anak itu', anakmu juga.
Mereka sampai di TKP, baru menginjakkan tanah keluar dari mobil sudah di sambut jerit tangis wali murid yg lebih dulu hadir. Langkahnya semakin masuk ke dalam, matanya mengedar, tidak ada satupun siswa disini, hanya para wali murid, polisi, dan tim sar.
Samar-samar Sania mendengar, "Busnya meledak di bawah sana."
Damn, jantungnya berpacu lebih keras, dengan gelengan kepala ia melangkah terus masuk ke dalam hutan, hingga matanya menangkap bus yg sama saat ia mengantar Alva malam itu, sudah berasap bahkan di makan api separuhnya di bawah jurang,
"Handphone nya aktif terus! Jangan di matiin, jangan lupa makan, minum obatnya, sholat jangan tinggal!"
"Iyaa, bundaa ..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Fiksi RemajaDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
