52

878 53 5
                                        

Keadaan Alva di dalam terus menurun, di karenakan tekanan darahnya yg tiba-tiba saja anjlok drastis, mengacaukan segalanya. Kedua pergelangan siku tangannya di pasangi selang merah dengan darah yg mengucur dari kantung darah,

"Kita masih membutuhkan satu kantung darah lagi," Ujar seorang Dokter yg membantu selama operasi,

"Tapi rumah sakit hanya memiliki dua kantung darah, persediaan darah B+ saat ini kosong, Dok." Ujar seorang suster

"Beritahukan kepada wali-nya, kita masih membutuhkan satu kantung darah. Tolong cepat, sus. Pasien kehilangan banyak darah, keadaan pasien semakin kritis." Ujar Dokter itu

Salah satu suster dengan sigap segera keluar, suster itu yg membuka pintu luar ruang operasi secara tiba-tiba membuat semua orang yg menunggu diluar berdiri menghampiri suster.

"Kenapa, sus?" Tanya Sania panik dan bergetar, lampu operasi bahkan masih menyala tapi suster keluar.

"Kami membutuhkan satu kantong darah, pasien di dalam sedang kritis. Persediaan darah rumah sakit tengah kosong, apakah ada dari kalian yg memiliki golongan darah B+?"

Tubuh Sania limbung mendengar penuturan suster, dunianya seakan runtuh, anaknya kritis?

"Kak San! ..." Rere menopang tubuh kakaknya itu bersama Ayu, tatapan Sania menatap mereka bergantian, mengisyaratkan darah yg di minta suster, ia memiliki golongan darah yg berbeda dengan Alva, jika saja bisa, ia pasti akan langsung memberikan semua darahnya untuk putra tersayang nya itu.

"Golongan darahku sama kayak Alva! Ambil darah saya, sus!" Sahut Rendi cepat,

"Tolong, Ren... " Ujar Sania penuh harap menatap sahabat putranya, Rendi mengangguk cepat, tanpa di minta pasti akan dia berikan.

"Adeknya sudah makan sebelumnya? Dan tidak melakukan donor darah dalam beberapa hari kebelakang?" Tanya suster

Rendi menggeleng, "Tidak memiliki riwayat penyakit menular atau alergi?" Ah lama sekali, batin Rendi,

"Tidak ada, cepat sus!"

"Baik, boleh ikuti saya,"

Rendi berjalan mengikuti suster yg membawanya ke ruangan donor darah.

Sania mondar mandir di depan pintu yg tertutup rapat itu, air matanya lebih deras daripada tadi, Ayu mengajaknya duduk, menenangkan perasaannya yg tidak karuan.

"Alva gak bakal ninggalin aku kan, ma?" Ujar Sania serak dan gemetar, Ayu menggeleng, mengusap pundak Sania yg bergetar hebat,

"Enggak.. enggak akan, mama yakin itu, Alva itu kuat!"

"Aku nggak salah ambil keputusan kan, ma? Anakku akan selamat kan, ma? ... Mama, anakku ma ..." Ujar Sania menangis tersedu-sedu di pelukan sang mama,

Entahlah, Ayu juga tidak tahu harus menjawab perkataan Sania bagaimana, tentu ia ingin cucunya selamat, tapi hidup dan mati itu kehendak Tuhan.

Rendi kembali datang bersama suster, suster itu langsung masuk membawa kantung darah yg akan di berikan pada Alva, sedangkan Rendi sendiri, tubuhnya nampak lemas akibat darah yg terkuras,

Anak itu berjalan ke arah Sania yg sudah kacau, ia bersimpuh di bawah dan menggenggam tangan wanita itu, "Tante yg tenang, Alva pasti gak papa, tadi aku tanya keadaan Alva di dalam ke suster,"

"Gimana keadaan Alva, Ren?" Potong Sania menatap sahabat sang putra dengan mata yg sembab penuh air mata

"Alva emang kritis, karena darahnya sangat rendah, Alva kehilangan banyak darah, tekanan darahnya juga turun drastis, dan butuh tiga kantung darah untuk di berikan ke tubuhnya. Setelah ini, kalau operasinya berhasil, Alva pasti baik-baik aja, tinggal masa pemulihan." Jelas Rendi

SurendersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang