Sebulan telah berlalu, dan Alva sudah di perbolehkan untuk masuk sekolah, atas izin dokter Rama dan bundanya tentu saja.
Tiga minggu ke depan ujian akhir, dia baru masuk sekolah lagi, dan sudah di sambut ujian akhir kelas, jujur saja Alva takut tidak naik kelas. Jadi ia belajar mati-matian, menyusul tugas-tugas yg wajib di kumpulkan untuk perbaikan nilai, banyak sekali kertas-kertas berserakan di meja belajarnya, dan buku-buku yg terlantar begitu saja disana.
Pintu di buka, Sania yg masuk dan memberesi kertas-kertas dan buku yg berserakan itu, "Alva, udah, nak. Udah malem, di lanjut besok!"
"Nanggung, bunda.."
Sania menggeleng sebagai penolakan, "Besok lagi." Dia selesai dengan pekerjaannya juga, berniat mengecek anaknya ini sudah tidur atau belum mengingat sudah masuk tengah malam, malah yg ia dapati lampu kamar Alva masih menyala dan suara berisik dari pergerakan anak itu yg menandakan dia belum tidur, langsung saja Sania masuk.
"Jangan di paksa gini, bunda gak minta nilai kamu harus sempurna, harus gini harus gitu ... Kamu gak boleh kecapekan loh, Alva.. Inget pesan dokter Rama gimana, jangan kecapekan, jangan banyak pikiran, kalo kamu paksa badan kamu gini, bunda takut kamu drop." Ujar Sania
"Aku takut nggak naik kelas!" Sela anak itu,
Alva takut tidak naik kelas, dan Sania takut Alva drop. Sania menghela nafas, "Pasti naik kelas. Percaya sama bunda!"
"Aku udah ketinggalan banyak banget loh, bunda.. Aku mau ngejar nilai, aku gak mau kalo sampe gak naik kelas, gak mau ngulang dari awal lagi." Ujar anak itu putus asa,
"Iyaa, bunda paham."
"Emang bunda gak malu apa, kalo aku gak naik kelas." Potong anak itu,
Sania langsung menggeleng, ia lebih takut Alva drop dan di rawat di rumah sakit lagi, "Enggak, apapun hasilnya nanti bunda bakal bangga, karna bunda udah lihat usaha kamu. Bunda beneran gak minta nilai kamu sempurna, peringkat satu, atau gimana, intinya kamu udah usaha. Dan bunda minta jangan terlalu memaksakan diri, bunda itu takut kamu drop, nak.. Gak bosen apa ketemu dokter Rama mulu?"
"Aku pengen banggain bunda." Ujar Alva
Sania tersenyum, mencubit gemas pipi putranya itu, "Bunda udah bangga sama kamu, bangga banget!"
Alva yakin itu hanya kalimat penenang, "Aku udah gak bisa banggain bunda lewat pertandingan futsal, atau lomba-lomba lain, jadi aku mau banggain bunda lewat prestasi aku."
Sania jadi terharu, sungguh. Ia taruh kertas-kertas dan buku Alva, ia dekap kedua pipinya membuat anak itu mendongak menatapnya, "Apapun yg kamu lakukan bunda udah bangga, beneran! Tanpa kamu melakukan apapun juga bunda udah bangga, dengan kamu lahir ke dunia aja tuh udah spesial banget buat bunda, gak perlu jadi orang hebat atau apapun itu."
Senyumnya mengembang menatap bundanya, ia menghamburkan diri memeluk bundanya itu, wanita itu tersenyum mendekap balik putranya, mencium pucuk rambut anak itu, "Tidur, sayang. Pokoknya bunda gak mau kamu drop!" Ujar Sania
Keesokannya anak itu berangkat sekolah bersama Dela seperti biasa, karena Alva yg terlalu lama di rumah sakit, dan jarang berbincang walaupun Dela setiap hari disana, membuat hubungan mereka renggang.
"Lu langsung ke kelas, atau ke perpus dulu?" Tanya Dela, pasalnya kemarin saat untuk pertama kalinya Alva masuk sekolah lagi, anak itu langsung jujug perpus.
"Ke kelas, barengan aja." Ujar Alva
Dela menghela napas, lalu mengangguk, Alva menyerngitkan mata, "Kenapa? Lu kek gak seneng gitu bareng gue, gue tinggal juga lu nanti, jalan sendiri pulang ke rumah." Ujar anak itu
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Novela JuvenilDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
