47

910 64 3
                                        

Hari kemarin telah berganti, di awali dengan sang mentari yg begitu memanjakan mata dengan sinar cerah sang matahari, enam orang disana tampak menyantap lezat makanannya.

Enam orang, Sania, Ayu, Rere, Dela, serta dua teman putranya Karlo dan Rendi, ya, tanpa Alva.

Sania sengaja tak mau membangunkan anak itu pagi ini, mengingat semalam Alva masih tetap bergelut dengan rasa sakitnya, sang putra baru bisa tidur nyenyak sekitar jam empat pagi, bahkan setelah meminum obat yg ia beli dadakan semalam, Alva tetap mengeluh perutnya nyeri, menghujam dalam sampai dasar,

Dan masih tetap menangis merasakan gejolak rasa sakit yg menghujam nya, rasa sakitnya kemarin membuatnya tetap sadar, tidak membiarkan putranya itu lelap walau hanya sebentar.

"Kami berangkat dulu Tante .. Oma, Kak .. " Ujar Rendi sekaligus mewakilkan yg lain, tiga remaja itu berangkat bareng ke sekolah.

"Aku titip Alva, ya Ma? Jangan lupa nanti suruh anaknya sarapan, terus minum obatnya. Kalo minta yg aneh-aneh lagi jangan di turuti, kalo perlu suruh istirahat dulu." Ujar Sania

"Aman, serahkan sama Mama."

Sania dan Rere berangkat kerja, kapan hari itu Sania memasukkan sang adik di perusahaan yg sama dengannya, dan hari ini, panggilan interview masuk, tapi Sania yakin, Rere pasti bakal di terima.

Biasalah, jalur orang dalam.

"Jangan kaget nanti kalo kamu liat Devan disana." Ujar Sania tiba-tiba saat mengendarai mobilnya menuju kantor,

Rere menyerngit, Devan? Seperti pernah mendengar nama itu.

"Devan? .."

"Devan? .."

Sania menghela nafas, "Oh .. Apa Devan suami kakak itu? Devan bapaknya Alva?" Tebak Rere

"Mantan, bukan suami."

"Iya, mantan suami kakak itu, si bajingan itu." Ujar Rere

Sania mengangguk, "Iya."

"Jadi selama ini kakak satu kerja sama Mas Devan?" Tanya Rere

"Enggak, dia rekan kerja perusahaan, perusahaan kami kerja sama, dan Devan yg di utus untuk kerja sama ini, jadi dia disini sampai kerja sama ini selesai." Jelas Sania

"Jadi kalian sering bertemu?"

"Setiap hari, dia di taruh di perusahaan kakak, mau ga mau setiap hari kakak melihat wajah itu."

Rere mengangguk mengerti, "Lalu, mas Devan tau tentang Alva?" Anggukan yg dia terima,

"Gimana sikapnya sama Alva?" Tanya Rere

"Buruk." Ujar Sania menghela nafas lagi, "Bukan hanya Devan, bahkan Noel dan Aril pun sama, mereka semua buruk, orang jahat, kejam, penyebab luka batin dan fisik Alva." Ujar Sania mengepalkan tangan,

"Kamu ingat kejadian Alva yang benar-benar parah kemarin? Sampai dia sempat di nyatakan meninggal, kondisinya yg terus menurun .. Itu semua gara-gara Aril! .. Anak bungsu Devan dengan istri pertamanya, yg sudah meninggal." Ujar Sania melanjutkan perkataannya.

Rere sampai ternga-nga, tidak bisa berucap menanggapi cerita sang kakak.

"Omaa ... " Panggil Alva menuruni anak tangga, Ayu sedang mengepel lantai,

"Apa? Kok udah bangun? Sakit lagi? .. Jangan turun dulu, lantainya basah .. " Ujar Ayu beruntun

"Kenapa, hm?" Ujar Ayu menghampiri anak itu, badannya lemas, dan kulitnya panas, sudah jelas anak itu demam, lagi.

"Gak papa, bosen di kamar." Jawab anak itu

Ayu menggeleng, "No, no, no. Tetep istirahat di kamar, jangan kemana-mana, Oma selesain ini dulu, nanti Oma temenin .. Kamu mau apa? Nanti Oma buatin, lapar gak sayang?" Ujar Ayu beruntun untuk yg kedua kali,

SurendersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang