57

430 18 0
                                        

"Sekarang lu hutang penjelasan ke gw." Ujar Nabila,

"Del, lu serumah sama Alva? Kok bisa anjir."  Tanya Ariska,

Dela menghela nafas, pagi-pagi sudah di mintai kejelasan, katanya kemarin Rendi yg jelasin. "Bukannya udah di jelasin Rendi?" Tanya nya

"Nggak! Dia gak ada ngejelasin apa-apa, cepetan elah gw penasaran banget bisa-bisanya serumah sama Alva." Ujar Ariska tidak sabaran, temen-temen yg lain juga hanya menyimak.

"Gw masih sodaraan sama Alva,"

"Hahh?? Sepupu?" Potong Ariska,

Dela menggeleng, "Bukan, Bundanya Alva tuh kakak gw, gimana ya jelasinnya? Intinya kak Sania bundanya Alva tuh kakak gw, kata mama dulu sih hamilnya barengan, lahirnya juga barengan, cek aja kalau gak percaya."

"Bentar, kalian kembar?" Tanya Nabila kini

"Bukanlah, lu gak liat muka kita beda gini."

"Lah, ada loh kembar tak seiras, jadi gak mirip. Mungkin aja kan dulu bundanya Alva masih merintis lah, terus lu di kasih ke nenek lu karena mungkin dulu ekonomi belum mampu ngurus dua anak." Ujar Nabila

Dela tersenyum meremehkan, "Sembarangan! Justru di antara anak-anaknya mamakku tuh kak Sania yg paling banyak duitnya. Di bilang gw tuh adiknya, gini gw adik bungsu kak Sania, kita tiga bersaudara yg selisih umurnya pada jauh, nah gatau kebetulan apa gimana pas kak Sania hamil Alva, mama gw hamil gw juga, bukan kembar, orang muka Alva ganteng gitu, lah gw kayak dakocan." Ujarnya memasang raut wajah seperti emot batu,

"Lu cantik, Del." Ujar Nabila

"Mana ada anjir, masih cantikan kalian lah. Sumpah, kayaknya di antara anaknya mamakku tuh aku yg produk gagal. Kak Sania cantik, kak Rere cantik, gw doang yg produk gagal begini." Ujarnya miris

"Enggak, Del. Lu cantik!"

"Del, sumpah gw serius nanya, lu masih saudara sama Alva?" Tanya Ariska masih tentang ini

"Ya ampun, iya. Kalau kalian gak percaya kita ke rumah pulang sekolah, kalian tanya sendiri ke Alva atau kak Sania, atau mama gw."

"Bener, Dela adiknya tante Sania." Ujar Rendi melerai pembicaraan itu,

"Alasan Alva diem tentang ini, gak ngenalin Dela sebagai keluarganya biar dia gak terlalu di ganggu cewe, jadi dia diam, terserah kalian anggap Dela siapanya Alva, penting dia gak terlalu di usik sama kaum kalian, ya emang rada 'nganu' itu anak." Jelas Rendi, di angguki Dela, sudah bingung menjelaskan bagaimana lagi.

"Del, sumpah, gw minta maaf ya, udah nuduh yg aneh-aneh sama lo, udah jahat juga sama lo."

"Giliran gini aja langsung minta maaf lu." Sarkas Nabila,

"Gak papa, santai, gw juga ngerti." Ujar Dela

Ariska tidak menghiraukan Nabila, "Sumpah, maaf banget, Del. Please, kita temenan lagi."

"Lu masih temen gw." Ujar gadis itu

Ariska tersenyum, memeluk gadis berkuncir satu itu, "Makasih, lo baik banget! Kita harus temenan baik lagi, please restuin gw sama Alva."

"Anjir." Ujar Dela

"Kenapa? Lo masih marah sama gw? Gw minta maaf, Del."

"Bukan, gw bukan emaknya, bukan urusan gw kalo masalah percintaannya dia mah." Ujar Dela

"Dia selama ini jahat banget ke elu, Del. Udah Alva sama gw aja,"

"Diem gak lu?!" Sarkas Ariska pada Nabila, padahal dulu mereka teman dekat,

SurendersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang