Langkah Devan lunglai masuk ke dalam ruang rawat Alva, sejenak ruangan ini terasa mencekam baginya, detak jantungnya seolah berdetak cepat tanpa batas, matanya melihat Sania yg sudah di depan Alva, wanita itu tampak terus menciumi wajah pucat Alva, seolah takut kehilangan.
Jemari lentiknya mengusap rambut anak itu, merapikannya, tangannya dengan lembut membelai pipi yg sedikit berisi itu, bergantian lalu mengelus rambut lepek Alva, dan menciumnya lagi.
"Badannya dingin dan hambar banget gini," Ujarnya serak bercampur khawatir, ia genggam tangan itu, menggosoknya, meniupnya, menciumi punggung tangannya,
"Ini pasti sakit banget, kan? Kamu kuat banget, sayang..." Lirihnya memandangi luka-luka yg tercetak di tubuh putranya.
Sedangkan Devan masih diam mematung di belakangnya, matanya perih mengikuti arah pandang Sania, tenaganya yg hilang seolah kembali begitu melihat anak itu kini, dengan bibir gemetar dia bertanya,
"Jadi, benar dia anakku, San?" Tanya Devan lirih, menunduk, matanya sudah berair.
Sania yg sekejap lupa kalau dia bersama Devan, karena fokusnya teralihkan pada Alva, ia menoleh atas pertanyaan itu, di tatapnya laki-laki itu, lalu mengangguk.
Devan tak bisa berkata-kata, lidahnya kelu, tenggorokannya serak. Bayang-bayang bagaimana perlakuannya pada anak itu dengan cepat terlintas begitu saja di otaknya, membuat hatinya berdenyut sakit, dadanya sesak.
Dia selalu menganggap anak itu akar masalah atas perpisahannya dengan Sania, selalu menyalahkannya, bahkan tidak pernah sekalipun mengakuinya, yg ada Devan malah menuduhnya anak haram, hasil perselingkuhan Sania yg tidak terbukti sampai sekarang, ternyata Alva sungguhan anaknya, dadanya nyeri bukan main.
Apalagi saat melihat Sania yg begitu menyayanginya, Devan merasa sangat bersalah kini.
Sania yg tak mendapat respon dari laki-laki itu, berpikir Devan masih ragu, "Sembilan puluh sembilan persen kesamaan darah, masih mau mengelak? Mau tes DNA? Silahkan."
Devan menggeleng, bukan itu, dia masih syok atas kebenaran yg datang dengan sangat tiba-tiba ini, "Selama ini aku jahat banget sama dia, San..." Lirihnya
"Apa aku pantas di panggil ayah sama dia?" Suaranya teredam tangis, air mata yg terbendung akhirnya runtuh juga,
Sania ikut diam, ia juga tidak terima dengan semua perlakuan laki-laki itu, anak-anaknya, "Aku mati-matian jagain dia, dan kalian mati-matian menyakitinya." Ujarnya menahan emosi,
"Maaf ..." Ujarnya tertunduk,
"Minta maaf sama Alva, bukan sama aku."
Entahlah, hatinya berdenyut nyeri menatap anak itu, ada desiran sakit ketika menatap wajah polos dan pucat anak itu, "Alva .. Maaf ..." Ujarnya menggenggam tangan Alva, tubuhnya jatuh terduduk di bawah ranjangnya, bahkan ini kali pertama dia menyebut namanya.
"Masih mau nerima ayah, kan?" Ujarnya terduduk lesu, menundukkan kepalanya, air matanya mengalir deras di bawah sana, penuh penyesalan dan rasa bersalah yg amat besar, dia bahkan merasa tidak pantas memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Ayah' pada anak itu.
"Kamu tau? Dengan segala perlakuanmu padanya, dia tidak sama sekali membencimu, dia masih bermimpi bisa di sayang olehmu, bisa kau anggap ada, dia masih pengen keluarga kecilnya lengkap, cemara, ada kamu di antara aku sama Alva.. Aku udah penuhin semua kebutuhannya, aku kasih semua yg dia minta, aku penuhin tangki cintanya, tapi dia tetep butuh kamu hadir di hidupnya ..."
"Bahkan setelah sadar dari operasi kemaren, orang pertama yg dia cari itu kamu, jauh di bawah alam sadarnya ni anak nyebut, Ayah.. Ayah.. Padahal ayahnya gak pernah ada. Kamu tau karena apa? ... Waktu di dalam ruang operasi dia tegang, terus Dokter pribadinya ngelus rambutnya, dia yg biasa ngerasain elusan tanganku yg mungil tiba-tiba ngerasain elusan tangan besar dan kekar, otaknya ngirim sinyal seakan-akan itu ayahnya," Sania tak bisa melanjutkan kalimatnya, air matanya menetes mengatakan itu semua, dadanya sakit, masih tidak terima juga malah Devan yg jelas-jelas tidak pernah ada, yg putranya cari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Novela JuvenilDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
