Chapter 15

2.6K 341 41
                                        

Pintu besar berwarna gelap itu berderit halus saat Nicolo membukanya dan melangkah keluar. Wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi, seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini—entah dari cara dia melangkah atau sorot matanya yang terlihat sedikit lebih melunak. 

Keheningan itu segera pecah saat lima orang sudah menunggunya di luar. Ivy, Azrael, Jemon, Milan, dan Eleanor berdiri dengan ekspresi penuh kebingungan dan rasa ingin tahu. 

“Care to explain, Nic?” Jemon bersandar di dinding tak jauh dengan ruangan pribadi Nicolo, suaranya terdengar tegas walau sebenarnya dia sedikit takut. Mungkin ini pertama kalinya ia bersikap seperti itu pada Nicolo. Tapi, karena yang lain menyuruhnya untuk memulai pembicaraan serius itu, dia tak punya pilihan lain. 

"Kenapa kau tiba-tiba bersama Camora, Nic?" tanya Milan, nadanya setengah penasaran, setengah khawatir. “Apa yang terjadi?” 

Azrael yang berdiri di belakang Ivy itu menatap Nicolo penuh tanda tanya. Eleanor, di sisi lain, hanya mengangkat alis, jelas-jelas menunggu jawaban, meskipun dia tak mengucapkan sepatah kata pun. 

Nicolo hanya memandang mereka satu per satu sebelum akhirnya menjawab singkat, “It’s none of your concern.” 

Jawaban itu jelas membuat Jemon menghela nafas berat. “None of our concern? Are you serious, Nic? Ini Camora yang kita bicarakan. Dia bahkan hampir tidak pernah bicara dengan siapa pun kecuali kalau benar-benar terpaksa, terutama padamu! Dan sekarang, kau membawanya ke ruangan pribadimu, yang bahkan kita saja tidak kau izinkan masuk?” 

Azrael melangkah maju, nadanya lebih tenang, tapi terasa tajam. “Apa yang sebenarnya terjadi, Nic? Jangan bilang kalau kami tidak perlu mengetahui apapun.” 

Nicolo menghela napas panjang, lalu bersandar pada dinding. Pandangannya beralih ke langit-langit sebelum kembali ke mereka. “Dia cuma butuh waktu. Itu saja yang perlu kalian tahu sekarang.” 

“Waktu? Buat apa?” 

Nicolo tidak langsung menjawab. Dia menatap mereka satu per satu lagi sebelum berkata, “She forgot anything about the past few years." 

Ivy tampak ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya, “Maksudmu, dia... amnesia?” 

Nicolo diam sebentar, lalu mengangguk pelan. “Ya.” 

Jawaban itu membuat suasana mendadak sunyi. Tak ada yang menduga hal ini. 

Milan akhirnya memecah keheningan. “Aku tidak paham. Jadi, apa hubunganmu dengannya? Dan kenapa kau tahu bahwa dia amnesia?” 

Nicolo terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Camora adalah Amor.” 

Begitu banyak hal yang masih menjebak di pikiran mereka, dan apalagi ini. Kebenaran yang bahkan tidak pernah mereka duga sama sekali.

Amor. Dia satu-satunya yang pernah membuat Nicolo terlihat... manusiawi. Mereka tahu sedikit tentang Amor. Dia adalah sahabat masa kecil Nicolo, seseorang yang sangat berarti dalam hidup lelaki itu. Tapi mereka tidak pernah tahu banyak karena Nicolo selalu menutup rapat-rapat soal itu. Bahkan, foto mereka berdua saat kecil yang ada di lounge room adalah satu-satunya petunjuk. Dan sekarang, mengetahui bahwa Camora adalah Amor? Itu terlalu mengejutkan. 

Ivy menggigit bibirnya, mencoba mencerna semua yang baru saja diungkapkan.

“Amor...,” gumam Jemon akhirnya, seperti memastikan dia tidak salah dengar. “Kau yakin, Nic?” 

Nicolo menatap mereka dengan pandangan dingin, meski ada sedikit lelah di matanya. “Cut here,"

Jemon menggeram pelan, jelas-jelas mulai kehilangan kesabaran. “Nic, kau selalu seperti ini. Menurutmu kami tidak peduli sama sekali? We just want to know what really happened so we can help. Kau sebenarnya menganggap kami ini apa?” 

Shadowlight In BloomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang