Chapter 22

1.7K 209 38
                                        

Kelopak mata Vivianne bergerak perlahan, seperti seseorang yang baru saja keluar dari tidur yang panjang. Pandangannya masih buram, dunia di sekelilingnya terasa samar. Cahaya lampu rumah sakit yang redup membuatnya tidak langsung menyadari di mana ia berada.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit, mencoba memahami situasinya. Lalu, dalam keheningan itu, ia merasakan sesuatu.

Seseorang di sampingnya.

Tatapannya bergerak perlahan ke sisi ranjang, dan saat matanya akhirnya menangkap sosok itu, napasnya hampir tertahan.

Camora.

Gadis itu duduk diam di samping ranjangnya, menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi yang jelas, tetapi ada sesuatu dalam matanya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan.

Kekhawatiran.

Vivianne nyaris tidak bisa percaya dengan apa yang ia lihat.

Selama ini, Camora selalu menjaga jarak. Gadis itu selalu dingin, selalu seakan enggan untuk terlalu dekat dengannya. Tapi sekarang-sekarang putrinya ada di sana, duduk begitu dekat, menatapnya tanpa mengalihkan pandangan.

Vivianne ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum kata-kata itu bisa keluar, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Camora bergerak.

Gadis itu tidak langsung memeluknya. Tidak juga mengatakan banyak hal.

Sebaliknya, ia hanya menundukkan kepala, jemarinya menggenggam seprai dengan erat.

Dan kemudian, suara lirih itu terdengar.

"Maaf..."

Vivianne membeku.

Suara itu begitu pelan, nyaris seperti bisikan.

Tapi Camora tidak berhenti.

"Maaf..."

Ia mengulanginya lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih bergetar.

"Maaf..."

Air mata jatuh ke atas seprai. Jatuh begitu sunyi, tanpa suara sesenggukan, tanpa isakan yang berlebihan. Hanya air mata yang mengalir perlahan, seakan gadis itu sendiri tidak sadar bahwa ia sedang menangis.

Vivianne merasa seluruh dadanya sesak.

Tapi ini bukan karena penyakitnya.

Ini karena sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Camora... menangis.

Putrinya.

Putrinya yang selalu diam.

Putrinya yang selalu menjaga jarak, yang tidak pernah menunjukkan perasaan.

Kini duduk di hadapannya dengan air mata yang jatuh begitu lirih, dengan suara yang terus mengucapkan satu kata yang sama, berulang-ulang.

Maaf.

Vivianne mengangkat tangannya dengan perlahan, hampir takut untuk menyentuhnya. Seolah, jika ia bergerak terlalu cepat, momen ini akan menghilang begitu saja.

Jemarinya akhirnya menyentuh kepala Camora.

Lembut.

Ia membelai rambut putrinya dengan penuh kehati-hatian, seolah ingin memastikan bahwa ini nyata. Bahwa Camora benar-benar ada di sini, mendekat padanya.

Vivianne menelan sesak di tenggorokannya.

Ia ingin mengatakan, "Tidak apa-apa."

Ia ingin mengatakan, "Kau tidak perlu meminta maaf. Mommy yang seharusnya meminta maaf."

Shadowlight In BloomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang