Camora tumbuh dalam keterasingan.
Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya.
Ia tak tahu alasan di balik jarak itu.
Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung.
Se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi di rumah sakit terasa lebih hening dari biasanya. Langit di luar masih kelabu, dan udara dingin masih menyisakan embun tipis di jendela. Suara alat medis berdenting pelan, menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan selain napas teratur Vivianne yang masih terlelap.
Camora duduk di kursinya, tetap diam seperti biasanya. Pandangannya tertuju pada wajah ibunya, memperhatikan setiap hembusan napas seolah takut akan ada sesuatu yang berubah. Sejak kemarin, dokter sudah memastikan bahwa kondisinya stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini—hanya perlu perawatan lebih intens.
Namun, pagi itu membawa sesuatu yang tidak terduga.
Pintu ruangan terbuka dengan tenang.
Langkah kaki memasuki ruangan, bukan langkah terburu-buru, melainkan penuh ketenangan dan kewibawaan. Seorang pria berambut hitam legam dengan tatapan tajam berdiri di ambang pintu, diikuti oleh seorang wanita dengan sorot mata yang lembut meskipun jelas menyiratkan kegelisahan.
Leonas Julian Zavoille dan istrinya, Arietta Zavoille.
Xavier, yang berdiri di sisi lain ruangan, hanya menatap mereka tanpa ekspresi terkejut. Ia sudah menduga mereka akan datang. Meski ia sudah membatasi informasi mengenai kondisi Vivianne agar tidak tersebar luas, tidak mungkin Leonas tidak mengetahuinya. Ini bukan sekadar berita biasa—ini adalah sesuatu yang pasti ingin mereka ketahui.
Leonas menelusuri ruangan dengan tatapan tajamnya, menilai kondisi Vivianne dengan saksama sebelum akhirnya matanya jatuh pada Camora. Gadis itu tetap duduk diam, tatapannya masih seperti biasa—datar, tanpa ekspresi yang jelas.
Arietta bergerak lebih dulu. Wanita itu mendekati Vivianne, menatap wajah sahabatnya dengan sorot yang sulit diartikan. Ada kelegaan, tapi juga ada ketakutan yang belum benar-benar hilang. Dengan lembut, ia membungkuk dan memberikan pelukan singkat, seolah ingin memastikan bahwa Vivianne masih ada di sana.
Saat akhirnya ia menarik diri, matanya beralih pada Camora.
Sosok yang dulunya masih begitu kecil dan begitu periang sekarang duduk di depannya tanpa raut wajah apapun. Waktu berlalu begitu cepat, entah bagaimana dunia bisa membuatnya menjadi seperti ini.
Langkahnya pelan saat ia mendekat, tidak ingin mengejutkan gadis itu. Ia lalu berjongkok sedikit, menyamakan pandangan mereka sebelum mengukir senyum lembut.
“Saya Arietta,” suaranya hangat, penuh kelembutan yang alami. “Senang bisa bertemu denganmu.”
Tidak ada nada asing atau kaku dalam suaranya, hanya ketulusan yang begitu terasa.
Camora hanya menatapnya, tidak berkata apa-apa, tapi ada sesuatu dalam matanya—sesuatu yang samar.
Arietta tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangan dengan perlahan. Bukan untuk menggenggam atau menariknya ke dalam pelukan, hanya sekadar menyentuh ujung jemari Camora, memberi sedikit kehangatan.