Pintu itu akhirnya terbuka kembali setelah kurang lebih tiga puluh menit lamanya. Camora keluar diikuti Nicolo di belakangnya yang memasang raut datar seperti biasa–menghiraukan tatapan penuh tanya yang tertuju padanya.
Anehnya lagi Camora terlihat begitu bahagia walaupun gadis itu tidak menunjukkannya secara langsung. Pembawaan gadis itu berbeda, entah apa, tapi semua orang juga tahu bahwa gadis itu sedang dalam kondisi yang begitu baik.
Ivy yang pertama kali menyadari benda pipih yang sedang Camora genggam itu seketika dibuat terkejut.
Ivy mengangkat tangannya, lalu menunjuk benda itu.
"Itu .... Ponsel?" Tanyanya sedikit ragu dengan apa yang ia lihat.
Camora mengangguk perlahan sambil menunjukkan senyum tipisnya.
"…Kau akhirnya punya," gumam Ivy lirih, hampir seperti tak percaya.
Camora hanya menatap Ivy sebentar tanpa berkata apa pun, sementara Nicolo tetap tenang, seperti biasa, lalu ia menarik Camora untuk duduk di tempat kosong yang tak jauh dari Azrael.
“Aku frustasi tahu tidak…” gumam Ivy menatap Camora dengan sorot yang begitu dramatis menurut Jemon.
“Kalau kau tiba -tiba tak ada kabar, aku tidak bisa menghubungimu. Tidak ada tanda. Aku bahkan bertanya ke Nicolo dan tidak ada jawaban. Kita semua tidak tahu… Kau tahu, Nicolo, dia seperti—seperti... batu!” Gadis itu tanpa sadar mecurahkan isi hatinya selama ini.
"Maaf, Ivy" Ivy menggeleng, tidak setuju atas pernyataan Camora barusan.
"No! kenapa minta maaf sih, bukan kamu yang harusnya minta maaf tau!," gadis itu melirik pada sosok di samping Camora yang bahkan tidak merasa tersindir sama sekali.
Gadis itu kemudian berdiri lalu mendekat pada Camora,
" Sini handphonenya," Camora tanpa bertanya langsung memberikan benda itu pada Ivy.
"Aku akan menambahkan nomorku dan yang lainnya," katanya tanpa menunggu persetujuan dari si empu. "Juga menambahkanmu di dalam grup chat." Jemarinya bergerak cepat. Tidak butuh waktu lama sampai ia menyerahkan kembali ponsel itu pada Camora.
"Sekarang kami bisa menghubungimu kapan saja."
Gadis itu melanjutkan. “Kau satu-satunya yang tidak punya kontak kami sampai sekarang. Aneh sekali,” tambah Ivy dengan suara lebih pelan, seperti menggumam ke dirinya sendiri.
Milan yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya angkat bicara. “Nicolo. Kenapa tiba-tiba kau memberinya handphone?”
“Karena dia membutuhkannya.”
"Jawaban yang begitu bagus," sahut Jemon tiba-tiba, lelaki itu tidak berani menatap Nicolo karena tahu pasti tatapan tajam lelaki itu sedang mengulitinya saat ini.
Setelah keheningan singkat, Ivy kembali angkat suara. “Ngomong-ngomong… jangan lupa ya, aku tampil malam ini.”
Leonor mengangkat alis. “Tampil?”
“Lupa ya?, aku kan sudah pernah memberi tahu kalian. Kalian benar-benar mengecewakanku. Padahal ini penampilan pertamaku setelah sebulan tidak naik panggung. Kalian tahu, Cedera lutut itu bukan lelucon,” katanya, menyandarkan tubuh ke sofa. “Aku ingin kalian datang. Semua. Termasuk Camora.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Novela JuvenilCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
