"In every stroke, my soul tells the story that silence never could."
Sudah hampir satu minggu sejak Camora tinggal bersama kedua orang tuanya. Setiap hari berlalu dalam kesunyian yang kaku, seperti ada dinding tak kasatmata yang memisahkan mereka. Ibunya, Vivianne, selalu menyapa dengan lembut setiap pagi dan malam, tapi Camora hanya merespons dengan tatapan kosong atau anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Ayahnya lebih banyak diam, hanya sesekali menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Di dalam rumah itu, Camora tidak banyak berinteraksi. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya, menjadikannya sebagai dunia pribadinya yang tak tersentuh siapa pun. Namun, yang tak diketahui oleh siapa pun adalah bahwa di balik pintu yang selalu tertutup, kamar itu telah berubah menjadi studio kecil—tempat di mana Camora menuangkan isi pikirannya ke atas kanvas.
Dinding kamarnya kini dipenuhi dengan lukisan-lukisan yang menggantung tanpa pola tertentu. Beberapa tampak menenangkan: lanskap pegunungan, danau yang sunyi, taman bunga yang bermekaran. Namun, ada sesuatu yang mengganggu dalam setiap detailnya. Langit yang terlalu gelap, sosok kabur di antara pepohonan, atau mata dari setiap potret yang kosong dan terasa menyimpan rahasia.
Hari itu, Camora tengah menyelesaikan sebuah lukisan besar. Kanvasnya menampilkan taman bunga yang penuh warna, begitu hidup dan indah. Namun, di tengah taman itu berdiri seorang gadis kecil yang tersenyum tipis sambil memeluk boneka lusuh di dadanya. Jika diperhatikan lebih dalam, ada detail yang mengusik—bayangan hitam yang menyelinap di antara rerumputan, sobekan di dada boneka itu, dan yang paling mencolok, mata gadis kecil itu. Kosong. Hampa. Seolah memanggil seseorang untuk mengerti apa yang tersembunyi di baliknya.
Vivianne tidak sengaja menemukan kenyataan itu. Ia baru saja ingin mengetuk pintu kamar putrinya ketika pintu itu sedikit terbuka. Pandangannya tertarik oleh pantulan warna dari dalam ruangan, membuatnya tanpa sadar melangkah masuk.
Dan saat ia melihat isi kamar itu, tubuhnya menegang.
Lukisan-lukisan di dinding. Cat minyak yang berceceran di lantai. Kuas-kuas yang teronggok di sudut. Namun yang paling mengejutkan adalah lukisan besar di hadapan Camora.
Vivianne berdiri mematung, matanya terpaku pada kanvas itu.
Lukisan itu bukan sekadar indah—lukisan itu berbicara.
“Camora…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Camora berhenti melukis, tetapi ia tidak menoleh. Ia hanya diam, seakan tak terganggu oleh kehadiran ibunya.
Vivianne melangkah mendekat, perasaannya berkecamuk. Bukan hanya karena kenyataan bahwa putrinya bisa melukis, juga karena ia tahu persis makna di balik setiap goresannya.
Ia mengenali keheningan itu. Ia mengenali kehampaan dalam mata gadis kecil di dalam lukisan.
Tidak ada yang tahu bahwa Vivianne pernah menjadi pelukis besar. Karyanya dipuja, namanya dikenal, tetapi kemudian ia menghilang dari dunia seni, menelan dirinya sendiri dalam bayang-bayang masa lalu yang ingin ia lupakan.
Dan sekarang, tanpa pernah diajarkan, tanpa pernah diberi tahu, Camora telah menemukan jalan yang sama.
Atau mungkin… jalan itu memang sudah ada dalam dirinya sejak awal?
"Sejak kapan kau melukis?" tanya Vivianne, suaranya nyaris bergetar.
Camora tidak menjawab. Ia hanya mengambil kuas lain dan melanjutkan pekerjaannya, seolah pertanyaan itu tak pernah ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Novela JuvenilCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
