Camora tumbuh dalam keterasingan.
Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya.
Ia tak tahu alasan di balik jarak itu.
Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung.
Se...
Matahari telah naik tinggi, memandikan dunia dengan cahaya keemasannya. Udara hangat berhembus lembut, membawa aroma samar dedaunan dan tanah yang dipanggang sinar siang. Di luar, kehidupan bergerak pelan-burung-burung melintas di langit, bayang-bayang pohon menari di atas tanah, sementara suara-suara alam menggema dalam harmoni yang tenang.
Di dalam ruangan itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu di sela-sela tirai, menciptakan pola cahaya yang berpendar di lantai. Ruangan itu sepi, hanya desah angin yang sesekali terdengar berbisik. Waktu terasa melambat, seakan dunia berhenti sejenak untuk menunggu sesuatu.
Camora perlahan membuka matanya saat kesadaran menghampiri, ia menolehkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Sepi. Tidak ada siapapun.
Gadis itu kembali memejamkan matanya. Berusaha menenangkan pikirannya yang langsung dihantui beribu pertanyaan.
Kilasan mimpi itu masih terasa nyata. Lobby hotel besar, boneka beruang di pelukannya, dan seorang anak lelaki yang ia panggil 'Aeyan'. Tapi yang lebih mengejutkan bukanlah kejadian itu-melainkan fakta bahwa wajah anak lelaki itu sekarang muncul begitu jelas di pikirannya. Itu wajah Nicolo.
Tidak hanya itu, sekilas beberapa kejadian yang terasa familiar namun asing dalam ingatannya juga muncul dalam mimpinya.
Jantung gadis itu berdetak kencang. Tangannya mencengkeram selimut, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Gadis itu....merasa asing akan dirinya sendiri.
Bagaimana bisa, sosok yang berarti di masa kecilnya bisa ia lupa begitu saja. Yang ia ingat, ia tidak memiliki satupun teman karena selalu berada di mansion.
Gadis itu merasa normal jika yang ia lupa adalah kejadian-kejadiannya karena memang itu hal biasa. Banyak orang yang tidak mengingat tentang apa yang terjadi di masa kecilnya. Tapi, untuk kasus yang dialaminya berbeda. Ia bahkan tidak mengingat sosok Nicolo sama sekali. Ia bersama lelaki itu dalam waktu yang cukup lama, seharusnya ia bisa menyimpan memori tentang mereka berdua.
Setidaknya bahwa ia dulu memiliki teman yang selalu ia panggil pangeran alias Aeyan.
Camora menarik napas panjang, mencoba mengusir kegelisahan yang mulai menyelimutinya. Tubuhnya terasa lemah, seolah mimpi itu menyedot habis energinya. Matanya kembali menatap langit-langit ruangan yang asing, sementara pikirannya berputar-putar tanpa arah.
"Nicolo..." gumamnya pelan, nama itu meluncur dari bibirnya dengan sendirinya, seperti kata-kata yang tiba-tiba lepas dari kunci memori yang selama ini terkunci rapat.
Bayangan wajah anak lelaki itu masih begitu jelas di pikirannya-mata tajam berwarna keabu-abuan, senyum tipis yang misterius, dan panggilan "Aeyan" yang seakan bergema di telinganya. Ia ingat boneka beruang cokelat yang selalu ia peluk erat saat berada di sisi bocah itu, taman rindang asing yang selalu menjadi tempat mereka berdua bermain bersama, dan suara tawa yang lembut saat menghabiskan waktu bersama.
Namun semakin ia berusaha menggali kenangan itu, semakin kosong yang ia temukan. Bagian-bagian lain dalam ingatannya seperti kabut tebal yang tak bisa ia tembus.
"Kenapa aku tidak ingat?" bisiknya, suara itu bergetar penuh kebingungan. Tanpa sadar tetesan air mata keluar dari pelupuk gadis itu, ia merasakan jantungnya berdetak semakin cepat, dadanya naik-turun dengan ritme yang tak terkendali. Ia memeluk lututnya, mendekap tubuhnya sendiri untuk mencari rasa aman yang tak kunjung datang.
~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.