Le Ronsberg International School - (LRIS)
Siapa yang tak mengenal LRIS?
Le Ronsberg International School bukan sekadar sekolah, melainkan simbol kekuasaan dan keunggulan. Seluruh keluarga konglomerat memastikan anak-anak mereka terdaftar di sini, tetapi tidak sembarang orang bisa menjadi bagian dari Leabergsian.
Bukan tanpa alasan, Le Ronsberg terlalu sempurna untuk ukuran sekolah menengah atas. Dari tenaga pendidik terbaik, hingga fasilitas serba canggih, semuanya dirancang untuk mencetak lulusan yang tak hanya cerdas tetapi juga menguasai bidangnya.
Di sini, siswa dibebaskan memilih mata pelajaran dan kelas bakat sesuai minat mereka. Namun, ada satu aturan mutlak, mereka harus mendapatkan nilai sempurna dalam setiap kelas yang diambil. Tak ada ruang untuk kegagalan atau bahkan sekadar nilai rata-rata.
Namun, di balik keistimewaan itu, Le Ronsberg juga memiliki sistem hierarki yang ketat. Walau semua siswa berasal dari keluarga terpandang, ada kelompok yang berdiri di puncak kekuasaan-The Sternberg.
Mereka adalah enam orang yang memegang kendali penuh atas sekolah ini. Kepala sekolah sekalipun tidak memiliki kuasa atas mereka. Jika ada yang berani menentang atau melanggar aturan mereka, konsekuensinya tidak hanya berupa hukuman biasa-reputasi, karier, bahkan kehidupan seseorang bisa lenyap dalam sekejap.
Mereka memang memiliki kuasa, tapi mereka tidak seenak hati melakukan apapun yang berdampak negatif.
Mereka akan tetap belajar sesuai aturan, menghormati setiap tenaga pendidik yang mengajari mereka. Tidak bersikap semena-mena terhadap siswa lain, ataupun staf sekolah.
Mereka akan tetap berjalan semestinya selama tidak ada yang mengusik.
Dan kini, sebuah pertanyaan besar muncul di benak setiap Leabergsian:
Bagaimana mungkin Camora bisa masuk ke dalam The Sternberg?
Sedangkan latar belakang keluarganya saja tidak ada yang mengetahui.
Gadis pendiam itu, kini menjadi bagian dari kelompok paling berpengaruh di sekolah ini.
~
Camora mengamati ruangan luas yang kini menjadi kelasnya. Hanya ada tujuh orang di kelas ini, tetapi ukurannya begitu besar, dengan desain interior yang lebih menyerupai ruang rapat eksklusif daripada kelas sekolah.
Teknologi terbaru memenuhi ruangan ini, hologram boards, sistem pencahayaan otomatis yang menyesuaikan dengan aktivitas, serta kursi ergonomis yang dirancang khusus untuk mendukung postur tubuh penggunanya. Semua terlalu canggih, dan terlalu berlebihan untuk ukuran sekolah menengah atas.
Namun, Camora tidak ingin terlalu memikirkannya. Fokusnya saat ini adalah bagaimana menjalani kehidupan sekolah dengan tenang, tanpa gangguan dan tanpa perlu terlibat lebih jauh dengan siapapun.
Tenang dan tenteram. Itu yang ia inginkan.
Ting!
Pintu kelas terbuka, suara kecil itu menggema di ruangan yang masih kosong.
Camora secara refleks menegakkan punggungnya, tetapi tidak menoleh. Ia tahu seseorang baru saja masuk, tapi memilih untuk menundukkan kepala, memperhatikan jemarinya yang bertaut di atas pangkuan.
Langkah kaki mendekat, lalu berhenti. Sosok itu kini duduk di salah satu single sofa yang tidak terlalu jauh darinya.
Namun, sesuatu membuat Camora merasa tidak nyaman. Ada tatapan yang tertuju padanya. Ia bisa merasakannya dengan jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Teen FictionCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
