Suara pintu tertutup lembut. Marie baru saja selesai memastikan semua tirai tertutup dan lampu-lampu dikurangi intensitasnya. Kamar hotel mereka berada di lantai atas dengan pemandangan kota Sydney malam hari yang memantul indah di jendela.
Camora tengah berbaring di kasur, selimut ditarik sebatas pinggang, rambutnya dibiarkan terurai acak saat kepala menyandar di bantal empuk beraroma lavender.
Marie melirik ke arahnya sejenak. "Nona perlu sesuatu sebelum tidur?"
Camora hanya menggeleng pelan. Gerakannya lambat dan santai, gadis itu terlihat lelah. Marie mengangguk, lalu berjalan menuju sofa di sudut ruangan, duduk dengan buku kecil di pangkuannya.
Ketika keheningan nyaris meresap sepenuhnya, dering pelan dari handphone membuat Camora membuka mata. Layarnya menyala-Video Call: Mommy 🤍
Wajah Camora langsung berubah. Ada kilatan hangat dalam matanya, senyum kecil yang muncul tanpa sadar. Ia mengangkat panggilan itu dan mendekatkannya ke wajahnya.
"Halo sayang," suara lembut Vivianne terdengar, samar namun penuh kehangatan.
"Hai, Mommy..." jawab Camora pelan, nadanya sedikit lebih tinggi dari bisik, tapi ada kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan.
Layar menampilkan wajah Vivianne yang tengah duduk di ruang kerja rumah mereka, masih mengenakan blus tidur satin berwarna krem. Rambutnya diikat longgar, dan ada kelelahan tipis di wajahnya, tapi senyumnya begitu tulus.
"Mommy kira kamu sudah tidur. Tadi sempat menelepon Marie, dan dia bilang kalian sudah sampai hotel."
Camora mengangguk kecil. "Aku baru berbaring sebentar."
Vivianne tersenyum, matanya menyipit. "Hari ini menyenangkan?"
"Ya..."
Vivianne terkekeh pelan. "Hanya 'ya'?"
Camora sedikit menunduk, tapi pipinya menghangat. "Aku senang bisa lihat Ivy tampil... dan... semua hal disini sangat indah."
Vivianne tampak terharu, meskipun ia tidak mengucapkannya. "Baguslah jika kamu senang, Sayang."
"Vitaminnya sudah diminum?," tanya Vivianne.
Camora mengangguk pelan, "Sudah."
Mereka berbincang singkat setelahnya-tentang restoran yang Canora datangi, penampilan Ivy yang memukau, bahkan sedikit tentang hotel yang ia tempati ini. Camora tak banyak bicara, tapi setiap kali ia menatap layar dan menjawab, nadanya penuh ketulusan. Seperti ada ruang kecil dalam dirinya yang mulai terbuka, perlahan, hanya untuk wanita di seberang layar itu.
Beberapa menit berlalu, dan Vivianne melirik jam. "Istirahatlah, sayang. Kamu pasti lelah"
Camora mengangguk patuh, meskipun tak ingin menutup panggilannya begitu cepat.
"Terima kasih, Mommy," gumam Camora.
Vivianne tersenyum hangat. "Mommy akan meneleponmu lagi besok. Good night, Sweetheart."
Camora tersenyum hangat memandangi layar sejenak sebelum panggilan terputus. Cahaya dari handphone memudar, meninggalkan bayangan tenang di wajahnya.
Ia membaringkan tubuh kembali, memejamkan mata. Kerinduannya akan Vivianne sedikit terobati karena panggilan video itu. Syukurlah ayahnya mengizinkannya untuk memiliki handphone.
~
Pagi itu, grup chat Sternberg sudah dipenuhi notifikasi sejak matahari telah sepenuhnya naik. Grup yang biasanya sepi, kini dipenuhi oleh chat dari Ivy yang misuh-misuh sendiri sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Novela JuvenilCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
