Langit malam menyelimuti vila itu dalam sunyi yang palsu. Bintang-bintang tersembunyi di balik awan tipis, dan hanya suara gesekan angin pada pepohonan kelapa yang terdengar samar. Di teras samping, sebuah ayunan dari rotan tergantung pelan, berayun lembut karena sentuhan kaki seorang gadis.
Camora duduk di sana, sendirian, mengenakan sweater rajut lembut yang terlalu besar untuk tubuhnya. Matanya menatap teduh ke arah kebun rempah yang remang, tempat angin membawa samar aroma melati dari teh buatan Marie yang masih disiapkan menyeruak dari jendela dapur yang terbuka.
Tubuhnya terasa begitu lelah setelah aktivitas panjang hari ini, jadi dia meminta Marie untuk membuatkannya segelas teh melatih kesukaannya.
Ia belum ingin bergelung di dalam kamar saat ini, belum ingin menyentuh lembut dan hangatnya sang kasur, belum ingin berada dalam ruang tertutup. Daripada itu, lebih baik ia menikmati waktu menikmati alam segar yang bisa saja tak ia dapatkan lagi di masa depan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan—esok, lusa, atau minggu depan. Jadi ia menggunakan waktu yang diberikan padanya sebaik mungkin, selagi bisa, selagi dunia masih masih berpihak padanya. Untuk saat ini.
Namun, di tengah hembusan angin yang tampak damai itu, hal yang tak terduga terjadi secara tiba-tiba.
SRAKK!
Tubuh gadis itu tersentak pelan saat sesuatu menghantam tepat di samping ayunan yang ia duduki. Jaraknya hanya beberapa inci dari kepalanya. Sebuah anak panah terbenam dalam posisi miring, dan bersama itu, secarik kertas lusuh berlumur darah jatuh perlahan dan mendarat tepat di pangkuannya.
Bau amis langsung menyusup ke dalam indra penciumannya, menusuk dan menyayat, membuat napasnya tercekat sesaat. Matanya terpaku pada darah gelap yang tercoret di sana. Jemarinya bergetar menyentuh tulisan itu tanpa sadar.
"Sudah berapa banyak kebohongan yang mereka suapi padamu?"
"Bangunlah, Camora. Semua ini palsu."
Buck dengan cepat mengambil kertas itu, tapi terlambat— Camora sudah membaca semuanya.
Camora tak bergerak. Napasnya mulai tersengal, dunianya perlahan memudar. Tubuhnya menegang seperti batu, matanya membelalak tapi tak benar-benar fokus, lalu perlahan membeku. Sahutan Marie yang berusaha menyadarkannya tak bisa ia dengar, hanya suara nyaring yang memekik telinganya.
Potongan-potongan masa lalu kembali menyapa ingatannya.
Nicolo, yang sedang berganti baju di dalam kamar saat itu, langsung melesat keluar dari kamar tanpa atasan ketika melihat dering darurat berkedip di jam tangannya.
Begitu sampai di halaman, ia mendapati Buck sedang mencengkeram panah dengan rahang mengeras, Marie bersimpuh di samping Camora yang tubuhnya tak merespons, membersihkan tangan gadis itu yang terkena darah.
Nicolo mendekat, mata tajamnya menghunus Buck yang berdiri kaku disana lalu fokus pada Camora.
"Camora."
Tak ada respons.
Ia mendekat lagi, memanggil lebih pelan, "Camora, lihat aku."
Masih tak ada gerakan. Hanya napas tipis, tersendat, dan peluh dingin di pelipis gadis itu.
Nicolo tak menunggu lebih lama. Ia membungkuk dan langsung mengangkat tubuh Camora ke dalam gendongannya. Gadis itu mendekap dirinya sendiri seperti boneka rusak, tapi saat tubuhnya menyentuh Nicolo, perlahan pelukannya berubah arah. Ia merangkul leher lelaki itu dengan gemetar, wajahnya membenam dalam leher Nicolo seakan mencari perlindungan mutlak.
Di belakang, Marie menatap punggung mereka dengan wajah muram dan hancur.
Buck berdiri diam. Wajahnya mengeras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Teen FictionCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
