End Season I

776 67 28
                                        

Udara pagi itu begitu tenang. Dari jendela kamarnya, tirai putih bergoyang ringan, seolah menyembunyikan sesuatu di balik hembusan angin musim semi yang dingin. Camora duduk di tepi ranjang, pandangannya menerawang, bibirnya sedikit terbuka seakan hendak mengucapkan sesuatu. Namun seperti biasa, tak ada kata yang terucap.

Di luar, suara langkah para pelayan sesekali terdengar. Rumah itu, dengan segala kehangatan yang mendadak terasa asing, kini kembali dipenuhi rutinitas biasa. Namun di balik keheningan wajah Camora, pikirannya sedang bergerak liar, penuh dengan bayangan masa lalu yang tiba-tiba datang tanpa ampun.

Kenangan itu…
Bukan potongan samar seperti mimpi yang biasanya singgah.

Tidak. Kali ini semuanya jelas. Terlalu jelas.

Wajah ibunya–ah bukan, wanita itu saat menangis, raut wajah ayahnya, fakta yang dulu menusuk seperti belati. Semua kebencian besar yang pernah ia rasakan, yang dulu tak pernah ia pahami, kini kembali dengan kekuatan yang menyesakkan dada.

Camora mengedip pelan.

Bagaimana bisa mereka menipunya dua kali.

Sungguh ia merutuki dirinya yang begitu bodoh dan mudah dikendalikan.

Untuk saat ini, ia memilih diam. Walau rasanya, ia ingin membalaskan dendam ibunya yang kini sudah tenang di alam lain.

Ia memilih untuk tetap menjadi Camora yang semua orang kenal, gadis polos yang tidak banyak bicara, seolah masih terjebak dalam kabut amnesia. Sebab ia tahu, jika kebenaran tentang ingatannya terungkap, belum sampai ia tahu kebenaran lainnya, bisa saja mereka melakukan hal nekat selanjtnya untuk membuatnya lupa, lagi.

Biarkan mereka berpikir aku tidak tahu apa-apa. Biarkan mereka melihatku sebagai Camora yang rapuh.…

Sampai tuhan memberikan karma kepada mereka atas perbuatan hina itu.

Namun satu hal yang ia syukuri, ingatan tentang Nicolo.
Wajah bocah itu di masa kecilnya, tawa sederhana mereka, kebersamaan yang tak membuatnya merasa sendiri. Semua itu membuat hatinya hangat sekaligus sakit. Ia sadar betapa berharganya sosok itu bagi dirinya, sosok yang bisa-bisanya ia lupakan.

Dan pagi itu, tanpa pikir panjang, tangannya bergerak meraih ponsel di meja kecil. Layar menyala, cahaya biru memantul di matanya. Jemarinya bergerak, menekan nama yang terasa paling aman baginya.

Nicolo.

Bukan Daddynya.
Bukan wanita itu.
Hanya dia.

Telepon itu berdering lama sebelum akhirnya tersambung. Namun saat suara dari seberang menyapa, Camora tetap bungkam. Sunyi mendominasi, hanya tersisa bunyi napasnya yang berat, seolah setiap tarikan udara menyimpan beban yang terlalu pekat untuk dilepaskan.

Kegelapan kamar seakan menutup rapat ruang geraknya, sementara pikirannya berputar tak terkendali. Ingatan demi ingatan yang selama ini kabur, kini kembali menetes deras, menyatu dalam satu kesadaran yang tak lagi bisa ia tolak. Semua bayangan masa lalu, semua luka yang pernah ia lupakan, berbaris rapi di depan matanya, menertawakannya, menghantamnya sekaligus.

Di balik diamnya, ada badai yang mendidih. Seakan dunia akan berubah sejak kalimat pertama itu keluar dari bibirnya.

Akhirnya, dengan suara rendah dan dingin, ia berbisik pelan




“Nic",


"The silence ends here".













End Season I





Maaf banget updatenya lama, aku lagi sibuk banget di real life so i couldn’t really write for a while 😅✌🏻

Tapi tenang, ceritanya belum selesai ya, next season bakal tetep lanjut di sini.

I hope you guys are still excited to see the another side of Camora in the next season 👀🔥

See you 🤍


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 31, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Shadowlight In BloomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang