Camora tumbuh dalam keterasingan.
Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya.
Ia tak tahu alasan di balik jarak itu.
Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung.
Se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini sesuai janji Xavier, mereka akan pergi ke Louisiana Museum Of Modern Art, tempat dimana lukisan Camora dipajang. Keberangkatan mereka yang sebelumnya dijadwalkan kemarin tertunda hingga hari ini karena Xavier tahu bahwa Camora pasti lelah sehabis perjalanan panjang ke Vienna. Walaupun Camora mengatakan dirinya baik-baik saja, nyatanya tubuh gadis itu merespon sebaliknya.
Camora memiliki kondisi fisik yang sedikit lebih lemah dibandingkan kebanyakan orang seusianya. Tubuhnya lebih rentan terhadap kelelahan, dan daya tahan tubuhnya tidak sekuat yang lain. Karena itu, pola makannya selalu dikontrol dengan ketat. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhnya telah melalui seleksi ketat, disesuaikan dengan kebutuhan nutrisinya agar tidak membebani kesehatannya.
Sejak kecil, ia tidak pernah bebas memilih makanan sesuka hatinya. Hidangan yang terlalu berat, mengandung terlalu banyak gula, atau berlemak tinggi selalu dihindari. Makanan-makanan yang tampak lezat dan menggoda bagi orang lain hanyalah sesuatu yang bisa ia tatap tanpa benar-benar mencicipinya.
Para dokter dan ahli gizi yang menangani kesehatannya selalu mengatur setiap detail-dari jumlah kalori yang boleh ia konsumsi hingga kandungan gizi yang harus terpenuhi setiap harinya. Bahkan di rumah, para pelayan sudah terbiasa memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan untuknya telah sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Walau mereka tahu makanan sehat itu, makanan yang dibenci oleh Camora. Tapi mereka tidak bisa membebaskannya, kesehatan gadis itu lebih utama dari apapun.
Pagi masih basah oleh embun ketika mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Udara sejuk menyelinap melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma dedaunan yang basah. Camora duduk di kursi belakang bersama Vivianne, sementara Xavier di depan bersama Buck yang menyetir. Di belakang mereka, dua mobil pengawal bergerak dalam formasi yang rapi.
Camora tidak bisa duduk diam di dalam mobil. Tangannya mencengkeram ujung rok, dan tanpa sadar, kakinya sedikit bergoyang. Matanya menatap jendela, menyerap pemandangan yang terasa asing namun memikat.
Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama ia pergi keluar bersama ayah dan ibunya setelah sekian lama.
Lebih dari itu, ini adalah perjalanan menuju Louisiana Museum of Modern Art–tempat di mana lukisannya sendiri dipajang.
Vivianne, yang memperhatikan gestur gelisah putrinya, tersenyum lembut. "Kau kelihatan sangat bersemangat, Sayang."
Camora menoleh cepat, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aku... senang," katanya lirih.
Xavier, yang sedari tadi diam, melirik sekilas melalui kaca spion. "Rileks, Amora," ujarnya dengan nada tenang.
Gadis itu terdiam. Ia baru sadar tubuhnya terlalu tegang karena kegembiraan yang membuncah. Ia merapatkan punggung ke kursi, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
-
Setibanya di museum, Camora nyaris membuka pintu sendiri sebelum seorang bodyguard sempat mendahuluinya. Gerakannya begitu cepat hingga Xavier refleks mengulurkan tangan, menahan bahunya agar tidak langsung melesat keluar.