Chapter 14

2.6K 246 32
                                        



Pelukan kedua pasang manusia itu masih bertahan cukup lama, Nicolo yang semakin lama mengeratkan pelukannya dan Camora yang tidak tahu harus merespon seperti apa.

Helaan nafas kasar terdengar dari lelaki itu, ia melepaskan pelukan keduanya lalu menarik gadis itu meninggalkan lapangan berkuda. Camora melirik pada tangannya yang terbungkus oleh tangan besar Nicolo lalu beralih pada punggung tegap dan kokoh lelaki itu. Nicolo menariknya dengan sedikit cepat tetapi lelaki itu bahkan tidak mencoba untuk menguatkan genggamannya seolah Camora bisa hancur begitu saja jika di tarik terlalu kuat.

Kecepatan mereka bahkan bisa melampaui Jemon, Azrael, dan Ivy yang tadinya jauh di depan mereka.

"Loh?" Ketiganya seketika berhenti, Ivy mengedipkan matanya beberapa kali demi memastikan penglihatannya salah atau tidak. Gadis itu kemudian menatap kedua lelaki di sampingnya meminta penjelasan tentang apa yang baru saja ia lihat.

Bukannya mendapat jawaban, yang ia dapat hanyalah wajah kebingungan kedua lelaki itu. Ia kemudian menarik kedua lelaki itu dengan cepat mengikuti Camora dan Nicolo yang tanpa sadar sudah tak terlihat lagi.

"Lepas," Sahut Azrael lalu melepaskan tangan Ivy yang tadinya juga menarik tangan Jemon.

"Woho, calm bro" Jemon mengangkat kedua tangannya setelah didorong secara kasar oleh Azrael. Lelaki tenang itu hanya akan berubah menjadi ganas jika bersangkutan dengan gadis pecinta Barbie itu.

"Apasih Ael," Ivy menatap kesal Azrael yang tidak direspon sama sekali oleh lelaki itu, ia menarik Ivy pergi meninggalkan Jemon yang hanya bisa pasrah melihat tingkah lakunya yang begitu possesive.

~

Kembali lagi dengan dua insan itu, ternyata Nicolo membawanya ke lounge room, entah apa tujuan lelaki itu, Camora tidak berniat untuk bertanya ataupun menolaknya sama sekali.

Ketika sampai, Nicolo terus menariknya menuju ke arah ruangan pribadi lelaki itu. Alias ruangan terlarang yang hanya bisa dimasuki oleh Nicolo seorang, ia begitu ingat saat pertama kali datang Milan memberitahunya untuk tidak memasuki ruangan itu. Ruangan yang tidak satupun stenberg bisa masuki kecuali sang pemilik, yaitu Nicolo.

Lelaki itu langsung saja membuka pintu itu lalu menutupnya tanpa melepaskan gengamannya pada Camora. Berbeda dengan bayangannya, ternyata ruangan ini sangat luas untuk seukuran ruangan dalam ruangan. Bahkan ada pintu ruangan lagi, Camora seketika mengagumi perancang ruangan ini.

 Bahkan ada pintu ruangan lagi, Camora seketika mengagumi perancang ruangan ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Terlihat begitu sepi dan hampa. Seperti tidak pernah disentuh sama sekali, itulah bagaimana ruangan ini terlihat. Padahal Nicolo tidak pernah absen memasuki ruangan ini. Lelaki itu bahkan menyita waktu yang cukup lama ketika berada di ruangan ini.

Nicolo kembali menariknya menuju satu-satunya pintu di ruangan ini.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Shadowlight In BloomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang