Di sebuah ruangan yang tidak jauh dari kamar Camora, Xavier dan Vivianne duduk berhadapan dengan seorang wanita yang mengenakan jas putih rapi. Dokter Rachel, menatap kedua orang tua itu dengan ekspresi serius.
"Jadi... bagaimana kondisinya?" Vivianne bertanya dengan suara lirih, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
Dokter Rachel menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Camora pingsan karena respon traumatik akut. Ingatannya kembali muncul-terutama yang terkait dengan traumanya- secara tiba-tiba saat melihat Anda berdua." Dokter Rachel berbicara pelan, berhati-hati agar tidak menambah kekhawatiran lebih jauh.
Vivianne menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan isak tangis yang hampir keluar. Xavier tetap diam, tetapi rahangnya mengeras, menunjukkan ketegangan yang tidak ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Lalu, apa dia... mengingat semuanya?"
"Itu sulit untuk dipastikan sekarang," jawab Dokter Rachel.
"Ketika seseorang menghadapi trauma sebesar ini, ingatannya tidak selalu kembali secara utuh. Bisa jadi hanya potongan-potongan yang muncul, samar-samar, atau bahkan seolah mimpi buruk. Tetapi untuk mengetahui seberapa banyak yang ia ingat, kita harus melihat reaksinya setelah dia sadar."
"Kalian harus bersiap untuk apa pun," lanjutnya.
"Berapa lama dia akan seperti ini?" Xavier akhirnya angkat suara.
Rachel menatap pria itu sejenak, memberikan waktu untuk menyusun setiap kata yang akan ia ucapkan. "Kondisi ini tidak dapat diprediksi dengan pasti. Setiap orang merespons trauma dengan cara yang berbeda. Namun, saya bisa melihat bahwa Nona Camora telah menunjukkan respon yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Biasanya, dengan adanya reaksi fisik seperti pingsan, ada indikasi bahwa tubuhnya mengalami overload karena terlalu banyak stimulasi emosional. Meski begitu, saya percaya kali ini dia tidak akan mengalami kambuh seperti sebelum-sebelumnya"
Vivianne langsung menatap Dokter Rachel dengan penuh harapan. "Jadi dia sudah membaik?"
Dokter Rachel menggelengkan kepalanya sedikit. "Lebih baik bukan berarti sepenuhnya pulih, Nyonya. Camora telah melalui perjalanan panjang untuk sampai di titik ini, dan saya percaya dia jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Tapi ingat, bukan berarti anda bisa mendekatinya dengan cara yang sama seperti dulu."
"Jadi apa yang harus kami lakukan?"
"Hal pertama yang perlu kalian lakukan adalah memberinya ruang," Dokter Rachel menjelaskan. "Camora perlu merasa bahwa kalian ada untuknya, tetapi tanpa memaksakan kehadiran kalian. Jika dia merasa tertekan atau terpojok, itu hanya akan memperburuk keadaan. Biarkan dia yang memutuskan kapan waktunya untuk membuka diri."
Vivianne menggigit bibirnya, menahan perasaan bersalah yang semakin menghantui. "Tapi bagaimana kalau dia tidak pernah mau membuka diri?"
"Itu risiko yang tidak bisa dihindari." kata Dokter Rachel dengan suara lembut tapi tegas. "Proses penyembuhan Camora bukan hanya soal memori, tetapi juga tentang emosinya terhadap kalian. Rasa sakit, kebencian, bahkan ketidakpercayaan- semua itu butuh waktu untuk dilalui. Anda harus bersabar."
Vivianne menggigit bibirnya, terlihat ragu. "Bagaimana... jika dia tidak bisa memaafkan kami?"
Rachel menatapnya dengan penuh empati. "Trauma emosional seperti ini mempengaruhi perasaan dan persepsi seseorang terhadap orang-orang terdekat mereka. Ada kemungkinan dia merasa dikhianati atau terluka, dan itu adalah reaksi yang sangat manusiawi. Namun, yang penting adalah memberikan ruang baginya untuk merasakan dan mengatasi rasa tersebut tanpa tekanan. Waktu akan sangat menentukan apakah dia bisa membangun kembali kepercayaan dan mengatasi rasa sakit itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Teen FictionCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
