Chapter 20

1.7K 155 6
                                        

Langit sore mulai meredup, mewarnai cakrawala dengan semburat jingga yang hampir pudar. Camora duduk di balkon kamarnya, menatap ke arah taman luas yang terbentang di bawahnya. Angin sore berhembus lembut, suara burung-burung di kejauhan berpadu dengan gemerisik dedaunan.

Begitu damai dan tenang.

Namun, di dalam dirinya, tak ada kedamaian. 

Lima bulan telah berlalu, tetapi semuanya masih terasa asing. Meskipun kesehariannya tidak terlalu berbeda dari sebelumnya, suasana di dalam rumah berubah seratus delapan puluh derajat. 

Vivianne selalu berusaha mendekatinya, mencoba mencairkan kebekuan yang ada di antara mereka. Setiap pagi, ibunya menyapanya dengan suara lembut yang penuh kasih sayang, menanyakan kabarnya, memastikan bahwa ia mendapatkan segala yang ia butuhkan. Namun, Camora selalu menjawab dengan singkat atau bahkan tidak sama sekali, seakan membangun tembok di antara mereka dengan jelas. 

Di sisi lain, Xavier, ayahnya, jarang berbicara. Pria itu selalu tampak serius, dengan tatapan tajam yang sulit ditebak. Ia tidak memaksa Camora untuk terbuka, tidak menuntut kedekatan. Namun, justru sikap diamnya itulah yang terasa lebih menekan. 

Camora tidak tahu bagaimana perasaannya. Ia selalu berpikir bahwa ia sudah tidak peduli lagi pada mereka. Bahwa mereka hanyalah bayangan dari masa lalu yang ingin ia lupakan. 

Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kerinduan yang begitu dalam, begitu menyesakkan. 

Dan ia membencinya. 

Suara langkah cepat terdengar di lorong. Pintu kamarnya langsung terbuka tanpa diketuk. 

"Nona Camora!"

Salah satu pelayan berdiri di sana dengan wajah pucat, napasnya memburu. Matanya dipenuhi kepanikan yang belum pernah Camora lihat sebelumnya. 

"Nyonya Vivianne, beliau pingsan!"

Dunia terasa berhenti. Camora terpaku di tempatnya, jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan. Ia tidak ingat bagaimana kakinya bergerak, bagaimana ia berlari menyusuri lorong yang panjang, bagaimana ia hampir tersandung di tangga. Yang ia tahu hanyalah perasaan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya, mencengkeram jiwanya dengan ketakutan yang begitu asing. 

Ketika ia sampai di kamar orang tuanya, napasnya terhenti. 

Vivianne terbaring lemas di lantai, tubuhnya tak bergerak. Wajahnya begitu pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu. Bibirnya membiru, dan kelopak matanya tertutup rapat.

Xavier berlutut di sampingnya, tangannya menggenggam jemari istrinya yang dingin. Sorot matanya yang biasanya tajam kini penuh kecemasan yang tak terselubung. 

Camora tidak bisa bergerak. 

Kakinya terasa berat, seakan ada sesuatu yang menahannya di tempat. 

Rasa takut secara spontan mendominasi dirinya.

"Daddy...?" suaranya hampir tak terdengar. 

"Hubungi dokter," suara Xavier terdengar tegas, tetapi ada nada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. 

Buck, segera bergegas menghubungi dokter. Camora berdiri di ambang pintu, jari-jarinya mengepal. Ini pertama kalinya dia melihat ayahnya seperti itu, yang biasanya selalu tenang dan dingin, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya. 

Dengan gerakan cepat dan penuh ketegangan, Xavier mengangkat tubuh Vivianne ke dalam gendongannya dan berjalan keluar ruangan tanpa sepatah kata pun. 

Camora tersentak, lalu segera berlari mengejar mereka. 

Di dalam mobil, suasana begitu sunyi. Vivianne terbaring di pangkuan Xavier di kursi belakang, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Wajahnya begitu tenang, seakan sedang tertidur. Tetapi Camora tahu itu bukan tidur biasa. 

Shadowlight In BloomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang