Chapter 17

2.1K 213 7
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Deretan maid berdiri tegap di luar rumah, berjajar rapat sepanjang teras, tubuh mereka kaku dan tenang. Mereka tak bergerak, hanya mata yang terfokus pada apa yang ada di depan mereka, menjaga sikap sempurna. Di udara sore yang dingin, sedikit angin meresap melalui celah-celah kecil, membawa suara gemericik daun yang berguguran. Keheningan menguasai, mengikat semua yang ada dalam ruang yang sempit ini.

Marie berdiri di depan, sedikit lebih maju dari yang lainnya, matanya tetap memandang dengan penuh perhatian, menatap pagar besar yang terbuka lebar, siap menerima kedatangan tuan rumah yang telah lama ditunggu. Wajahnya tampak tenang, namun ada kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Camora berdiri tepat di ambang pintu yang terbuka, tubuhnya kaku dan matanya terpaku pada pagar itu, di mana suara mobil yang mendekat semakin terdengar jelas. Jantungnya berdebar kencang. Ada sesuatu yang menahan tubuhnya agar tidak melangkah lebih jauh, seolah ia terjebak di ambang waktu, di antara masa lalu yang penuh luka dan masa depan yang tidak pasti. Tangannya terpegang erat pada kusen pintu, jemarinya gemetar, mencoba menstabilkan tubuh yang terasa semakin berat.

Suara mobil yang mendekat semakin jelas terdengar, ban yang menggiling kerikil di halaman seperti menggema di telinganya. Setiap detakan suara itu membuat dada Camora semakin sesak. Ia tahu, saat ini akan tiba. Orang tuanya yang telah lama meninggalkannya kini kembali, bukan dalam bentuk surat atau pesan dari Buck, tetapi dalam wujud yang nyata, yang tak bisa ia hindari.

Mobil Rolls-Royce Sweptail berwarna hitam pekat itu akhirnya muncul menambah ketegangan yang semakin mengikat. Pintu mobil terbuka perlahan. Seorang bodyguard dengan pakaian hitam rapi mendekat, membuka pintu mobil dengan gerakan yang terlatih.

Keheningan semakin menebal di sekitar teras, menambah berat atmosfer yang sudah menekan. Sosok pertama yang keluar adalah Vivianne, ibunya. Wanita itu melangkah keluar dengan anggun.

Di belakang Vivianne, Xavier, sang ayah, keluar dengan langkah tegas dan mantap. Jas hitamnya menutupi tubuhnya dengan sempurna, memberi kesan dingin dan penuh wibawa. Tak ada ekspresi di wajahnya, hanya tatapan yang datar, seolah tak ada hal yang bisa mengubah sikapnya.

Xavier dan Vivianne berjalan berdampingan, dua sosok yang memiliki sifat yang berbanding terbalik namun sama-sama memiliki aura yang begitu kuat. Setiap langkah mereka menembus keheningan yang terjadi sedari tadi.

"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya. Kami sangat menantikan kedatangan anda. Semuanya telah dipersiapkan sesuai perintah anda." Marie menunduk sebentar lalu menatap dengan ramah kedua orang yang berdiri tepat di depannya.

Vivianne tersenyum sebentar lalu mengangguk. Marie kemudian mundur memberikan jalan kepada mereka agar kembali melangkah.

Mereka berdua pun kembali melangkah. Vivianne mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang begitu ia rindukan, pandangannya akhirnya terhenti pada sosok putrinya yang berdiri di ambang pintu. Camora berdiri tegak, tubuhnya kaku, tapi pandangannya tetap ke arah depan. Menatap dua sosok yang menjadi alasan dirinya lahir di dunia yang menyedihkan ini. Gadis itu berusaha tidak menunjukkan emosi apapun walaupun sebenarnya tubuhnya tidak sekuat itu untuk menahan.

Shadowlight In BloomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang