Mentari pagi menyelinap masuk melalui jendela tinggi, membias cahaya lembut yang jatuh ke permukaan lantai marmer. Aroma samar white tea & cedarwood memenuhi udara, memberikan kesan tenang di seluruh ruangan.
Camora berdiri di depan cermin besar, membenarkan dasi pita biru tuanya yang kontras dengan kemeja putih berpotongan rapi dari Burberry. Blazer membingkai tubuhnya dengan sempurna, sementara rok lipit jatuh dengan anggun di atas sepasang sepatu kulit Salvatore Ferragamo.
Setelah memastikan penampilannya, ia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kamar. Sepanjang lorong, cahaya keemasan memantulkan kilau lembut di dinding putih dengan aksen emas. Langkahnya tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda hari ini—perasaan yang hangat dan nyaman yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Saat memasuki ruang makan, ia mendapati Vivianne sudah duduk dengan anggun, mengenakan gaun rumah berwarna pastel dengan rambut tersisir rapi. Matanya berbinar lembut saat melihat putrinya mendekat.
Di seberangnya, Xavier duduk dengan tablet di tangannya, membaca laporan bisnis dengan ekspresi tenang. Ia mengenakan setelan kasual dari Brioni, namun tetap terlihat berwibawa.
“Kau bangun lebih awal hari ini,” komentar Xavier, suaranya rendah dan berwibawa.
Gadis itu memang merasa malam ini benar-benar malam panjang yang terasa begitu nyenyak, tidak ada lagi mimpi dan rasa gelisah yang biasa menghantuinya.
Camora duduk di kursinya. Seorang maid menyajikan sarapannya—smoothie bowl dengan taburan almond dan potongan buah segar, ditemani segelas air putih dingin. Di sampingnya, sebotol kecil vitamin telah disiapkan.
Ia mengambil sendok dan mulai menyuap sarapannya perlahan sebelum menjawab, “Aku tidur lebih nyenyak tadi malam.” Suaranya lembut, tidak lagi terdengar datar seperti dulu.
Vivianne tersenyum kecil. “Itu bagus, sayang. Kau terlihat lebih segar pagi ini.”
Camora menatap ibunya sejenak sebelum mengangguk sedikit. “Terima kasih, Mommy.”
Ia kemudian mengambil vitamin yang disediakan, menelannya dengan tegukan air putih.
“Lukisanmu masih terpajang di galeri.”
Camora menghentikan gerakannya sesaat. Ia menoleh, menatap ayahnya dengan ekspresi bertanya.
“Yang dipajang di Louisiana Museum of Modern Art,” lanjut Xavier. “Sejak dipamerkan, banyak orang yang tertarik. Beberapa kolektor bahkan mencoba menawarnya.”
Camora terdiam sejenak. Tidak menyangkan bahwa lukisan itu masih ada disana bahkan setelah beberapa bulan telah berlalu.
"Mereka...ingin membelinya?" tanya pelan gadis itu, masih tidak menyangka sama sekali.
Xavier mengangguk pelan. “Beberapa dari mereka sudah mengajukan tawaran. Banyak yang ingin menjadikannya sebagai koleksi pribadi, salah satunya seorang kolektor dari Prancis. Ada juga seorang direktur galeri di Berlin yang bertanya apakah kau tertarik untuk mengadakan pameran solo.”
Camora terkejut. Ia tahu lukisannya cukup baik untuk dipajang, tetapi tidak pernah membayangkan akan menarik perhatian sebanyak itu.
“Pameran solo?” ulangnya pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Kau tidak perlu memutuskannya sekarang,” tambah Xavier. “Tetapi jika kau tertarik, aku bisa mengatur pertemuan dengan pihak galeri.”
Vivianne mengamati ekspresi putrinya sebelum berkata dengan lembut, “Kami bangga padamu, sayang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadowlight In Bloom
Novela JuvenilCamora tumbuh dalam keterasingan. Terpisah dari orang tuanya, dari rumah, dari masa lalu yang tak bisa ia ingat, namun terus menghantuinya. Ia tak tahu alasan di balik jarak itu. Tak tahu mengapa hidupnya terasa seperti labirin tanpa ujung. Se...
