Soerabaja, Hindia Belanda, 1892
"Tolong jangan berikan mawarmu yang indah kepada pria lain, Liana."
Jefferson bersua dengan mata polos yang legam khas wanita pribumi, hatinya bergetar dan lidahnya kelu. Air wajahnya yang selalu tenang bahkan tak mam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Swastamita memiliki arti sebagai pemandangan yang indah kala matahari terbenam
Selamat Membaca
Hujan turun semakin deras, seolah-olah hendak membuat tanah Krembangan tenggelam. Liana gusar, semakin merapat tubuhnya ke batang pohon tatkala tangannya menyentuh dada Jefferson yang basah. Anehnya ia bisa merasakan denting raga yang menggema, berpacu dengan sangat cepat seperti gumpalan dalam raga Jefferson mendesak ingin keluar.
"Sir Jeff, bakpau— maksud saya... anda tak apa?" Perempuan itu melirih. Nampaknya sang residen tak berbohong, tangannya yang basah di pipi Liana terasa dingin, Ini buruk, di sekitar mereka benar-benar tak ada tempat berteduh yang lebih layak selain pepohonan.
Liana merasa dirinya sangat kurang ajar karena sampai saat ini dia masih memikirkan bakpau dalam pelukannya.
Tapi jika ia membiarkan bakpau pemberian Jefferson basah, bukankah itu tak sopan dan terkesan tak menghargai?
Liana gulana dilanda.
Sejurus, terdengar gelak pelan nyaris teredam rinai hujan. Liana mendongak, paras rupawan di atasnya mengulas bunga wajah yang rindang. Dengan bulir demi bulir air yang menetes dari ujung hidung, nampaknya pria itu baik-baik saja, meski tubuhnya agak bergetar karena hawa dingin mulai merangsek masuk ke sela-sela rusuk.
"Bertahanlah sebentar lagi, Liana. Kurasa hujan ini tak akan mereda begitu saja."
Gadis itu hanya mengangguk. Kikuk. Begitu merapat lengan kurus yang memeluk dirinya sendiri, kian menghimpit seolah berniat mengubur diri di dalam batang pohon Asam Jawa.
Hujan menyapu penuh dengan kegilaan, seolah-olah hendak menumbangkan pohon-pohon. Sepasang insan senantiasa membungkam, bak bermonolog dalam imajiner masing-masing.
Liana merasa tak nyaman, bukan karena pelukan tak langsung Jefferson, kendati ia tak nyaman karena pria itu harus melindunginya dari siraman hujan bak air bah. Rasanya, dilihat dari sisi mana pun pemandangan tersebut tidaklah pantas.
Sementara itu, hujan tak kunjung mereda, seolah langit tak ingin berhenti menangis, membuat gumpalan dalam raga Liana berpacu lebih keras.
"Kau tak apa, kan?"
Suara rendah yang lembut itu terdengar, mungkin karena Liana kerap membisu bak patung batu, Jefferson melempar pertanyaan singkat, dengan sedikit getaran yang menandakan bahwa ia kedinginan.
Si gadis pribumi mengangguk, sedikit mendongak ia. "Ya, tapi... apakah anda tak apa? Sir Jeff sungguh telah basah kuyup."
"Bukankah lebih baik ketimbang dirimu yang kehujanan?" Jefferson menjawabnya, menatap lekat pada sepasang netra Liana. "Pakaianmu juga mulai basah kuyup."