hanya perkumpulan one shot story tentang tiga serangkai manusia
⚠️WARNING!!! [kalau ga suka skipp!! no hujatan]
B×B
ff (fanfiction)
angst story
harsh language/bahasa baku
18+(tidak disaran kn untuk bocil di bawah umur)
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kedua kaki kecil sang Scorpio terus saja mengikuti Restu yang ada di depan. Jalanan yang menanjak membuat Adnan, si Scorpio, mulai kesusahan. Langkah-langkah besar Restu semakin sulit untuk diikuti, tapi Adnan tidak mengeluh. Hembusan napasnya mulai terdengar berat, kakinya gemetar karena berusaha menjaga keseimbangan
Hingga akhirnya "Aduh!" seru Adnan, kaget ketika salah satu kakinya menginjak ranting yang licin di atas tanah basah. Tubuh kecilnya kehilangan keseimbangan, dan hampir saja ia terguling ke bawah jika tidak cepat-cepat berpegangan pada apa pun yang ada di sekitarnya
Restu yang mendengar seruan itu segera menoleh ke belakang. Wajahnya tampak serius, tapi tangannya sigap mengambil ranting yang cukup besar di dekatnya "Pegang ini" ucapnya tegas, sambil membantu Adnan berdiri kembali
Adnan hanya memperhatikan Restu yang dengan cekatan membantunya, bahkan tanpa diminta. Setelah memberikan ranting tadi kepada Adnan, Restu meraih tangan kecil Adnan dan menggenggamnya erat "Supaya nggak jatuh lagi" katanya, lalu menarik Adnan agar mereka berjalan berdampingan
Adnan tersenyum kecil tanpa sadar. Rasa sakit tadi seakan lenyap begitu saja. Ia tidak tahu ke mana mereka akan pergi, tetapi entah kenapa, dia percaya pada Restu. Dalam hati kecilnya, dia merasa Restu adalah orang baik
Perjalanan terjal itu terus berlanjut. Meski lelah, mereka tampak menikmati rute tersebut. Setelah beberapa saat berjalan dalam diam, Adnan akhirnya bertanya "Kita mau ke mana, sih?"
Restu tetap memandang lurus ke jalan setapak di depan mereka "Aku mau ngasih lihat pemandangan bagus. Biasanya aku ke sini kalau lagi galau"
Mendengar itu, Adnan malah sibuk memandang Restu "Kamu sering ke sini, ya? Sampai hafal jalan segala?" tanyanya
Restu mengangguk sedikit, sudut bibirnya terangkat samar "Bukit ini yang mengelola keluarga aku. Jadi, aku lumayan sering main ke sini"
Adnan mengangguk, mencoba memahami. Namun, beberapa detik kemudian dia menyadari sesuatu. "Loh, bukannya bukit ini yang dikelola pemerintah, ya?"
Dia mempercepat langkahnya, ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Tapi Restu hanya mengedikkan bahu, enggan memberikan jawaban lebih detail
"Huuh, dasar pelit" bibir Adnan maju, cemberut "Kan aku pengin tahu!"
Restu hanya tersenyum tipis, tidak terganggu dengan protes kecil itu
Langkah mereka terus menapak, hingga akhirnya Restu berhenti di depan semak-semak yang menutupi jalan. Dengan tangan kuatnya, dia mendorong semak itu ke samping, membuka jalan menuju pemandangan yang selama ini ia rahasiakan