flashback
malam itu, hujan turun deras. derasnya hujan tidak mampu menghapus bayangan masa lalu di kepala nata. dia berdiri di depan kaca jendela kecil di apartemennya, menatap bayangan dirinya yang berbeda dari pria kecil dulu. lima tahun lalu, dia hanya bisa menangis saat segerombolan pria dengan kejam membantai orang tuanya. darah, teriakan, dan tawa mereka masih menggema di ingatannya.
"ini waktunya," gumam nata, suaranya dingin seperti udara malam.
nata memulai misinya dengan zee. pria itu adalah pembunuh pertama yang menyerang dadynya dengan linggis. selama seminggu terakhir, nata mempelajari rutinitas zee. dia tahu pria itu sering ke bar kecil di ujung kota. malam itu, nata masuk ke bar, duduk di sebelah zee, berpura-pura menjadi laki laki biasa yang sedang mencari teman minum.
"minum bersama ku? " tawar nata sambil tersenyum tipis.
zee meliriknya, tertawa kecil. "kenapa tidak ?"
nata menyerahkan segelas anggur merah yang diam-diam sudah dia campur racun. beberapa menit kemudian, zee mulai batuk keras, matanya memerah, dan tubuhnya terjatuh dari kursi. saat orang-orang di bar mulai panik, nata berjalan keluar dengan tenang. dia tidak peduli pada teriakan di belakangnya.
" satu selesai."ucapnya dengan mata yang menggelap
target berikutnya adalah forts, pria dengan tato naga di lengannya. forts adalah penjudi yang sering mabuk dan membuat keributan di rumah judi. nata menyusup ke sana sebagai pelayan, membawa nampan berisi minuman. saat forts sedang asik bermain kartu, nata mendekat dari belakang, menyayat lehernya dengan pisau kecil yang dia sembunyikan di lengan bajunya. darah menyembur, membuat orang-orang di meja berteriak histeris. forts mencoba meraih lehernya, tapi itu sia-sia. nata melangkah mundur ke bayangan, menghilang sebelum ada yang menyadari siapa dia.
malam berikutnya, nata mengejar tutor. ia punya bengkel di pinggiran kota, tempat dia sering memperbaiki mobil curian. nata menyamar jadi pelanggan yang meminta bantuan memperbaiki rem mobilnya. saat tutor sibuk di bawah mobil, nata memutuskan kabel rem kendaraan tutor sendiri.
"ini sudah selesai dek," kata tutor sambil tersenyum ramah, nata membalas senyum itu dingin.
beberapa jam kemudian, di jalanan menurun yang gelap, mobil tutor melaju tanpa kendali, menghantam pohon besar dengan kecepatan penuh. tubuhnya ditemukan keesokan harinya dalam kondisi mengenaskan. nata menyaksikan dari kejauhan, menyimpan rasa puas di hatinya.
malam berikutnya, Jimmy. di ruangan gelap dan dingin, hanya ada suara napas berat nata yang beradu dengan jeritan kesakitan jimmy. lantai ruangan itu penuh bercak darah, dan di kursi kayu yang reyot, jimmy terkulai dengan tubuh gemetar. nata berdiri di depannya, tangannya masih menggenggam pisau berlumuran darah.
"gue tanya sekali lagi," suara nata rendah, tapi nadanya tajam kaya pisau. "siapa yang nyuruh lo bunuh keluarga gue?"
jimmy, yang udah hampir kehabisan tenaga, tetap memaksakan senyum sinis. "lo ga bakal dapet jawaban itu...anak kecil"
nata mendekat, pisaunya berkilau di bawah cahaya lampu redup. dia menekan ujung pisau ke jari lain di tangan jimmy, tanpa ragu.
"lo pikir gue main-main?"ucap nata bersmirk
arghhhh
arghhhh
" b-berhenti"
nulis seinget nya ja
