38

416 19 2
                                        

Getaran halus dari ponselnya membangunkan Nata. Matanya masih berat, kepalanya sedikit pening. Ia mengerjap beberapa kali sebelum meraih benda itu dari meja samping ranjang. Layarnya menyala, menunjukkan Aston sebagai si penelpon.

Kening Nata berkerut. Kenapa tengah malam begini?

Ia menekan tombol hijau dan mengangkatnya ke telinga.

“Kenapa?” suaranya serak, masih dibalut kantuk.

Namun, jawaban di seberang membuat kantuknya langsung lenyap.

"Boss! Kita diserang! Tiba-tiba saja mereka datang—markas dalam keadaan kacau!"

Nata sontak terduduk, napasnya tertahan. Sial!

"Tunggu... berapa orang?" tanyanya cepat, sambil menyibak selimut dan bersiap turun dari ranjang.

Suara napas tersengal terdengar dari seberang sebelum Aston menjawab, “Mungkin 500... atau lebih!”

Dua puluh lawan lima ratus?

Darah Nata berdesir cepat. Ia meraih pistol di laci dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam ponsel. Kakinya melangkah ke lemari, mengambil jaket hitamnya dengan gerakan kasar.

"Persenjataan?" tanyanya, suaranya sudah berubah tajam.

“Minim. Kita cuma ada 20 orang di markas sekarang.”

Nata mengumpat pelan. Napasnya sedikit lebih berat. Ini bukan perang, ini pembantaian.

Namun, mundur bukan pilihan.

Ia menyambar kunci mobil, memasukkan senjata tambahan ke dalam saku jaketnya, lalu bergegas keluar dari apartemen. Udara malam yang dingin menerpa kulitnya begitu ia melangkah ke luar, tapi dinginnya tak ada apa-apanya dibanding firasat buruk yang menghantam dadanya.

Mobilnya melaju dengan kecepatan penuh. Lampu-lampu kota tampak seperti garis-garis kabur dalam pandangannya. Otaknya berputar cepat, menyusun strategi dalam kondisi darurat.

Namun, saat ia hampir sampai—

Jantungnya mencelos.

Dari kejauhan, ia bisa melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Lautan manusia.

Bukan puluhan. Bukan ratusan. Tapi mungkin lebih dari lima ratus.

Sementara pasukannya? Hanya dua puluh.

Tenggorokannya terasa kering.

Tak ada jalan keluar. Tak ada persiapan.

Tapi satu hal yang pasti—ia harus bertarung.

Tangannya mengeratkan genggaman pada pistolnya. Nafasnya ia hembuskan perlahan.

Lalu, ia turun dari mobil.

Begitu kakinya menginjak tanah, suara tembakan langsung menggema.

DOR! DOR! DOR!

Udara malam yang dingin terasa panas karena mesiu. Peluru berdesingan ke segala arah. Api menyala dari beberapa sudut markas yang sudah hancur sebagian. Jeritan terdengar di tengah suara ledakan.

Tapi Nata tidak punya waktu untuk peduli pada kekacauan itu.

Tangannya sigap mengangkat pistol, DOR!
Satu peluru tepat mengenai kepala musuh di depannya.

DOR!
Satu lagi jatuh dengan lubang di dadanya.

Nata bergerak cepat, menembak tanpa ragu. Setiap tembakannya akurat. Ia menunduk, berlari zig-zag, mencari perlindungan di balik tumpukan puing.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NO PLANS, JUST USTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang