winy terkejut, tapi tetap mencoba tenang. "jadi bener lo pacaran sama dia?"
gemini menggeleng, suaranya bergetar. "bukan cuma pacaran, win. dua minggu lagi gue sama dia bakal nikah."
dunia winy serasa runtuh mendengar kata-kata itu. mulutnya terbuka, tapi nggak ada suara yang keluar. setelah beberapa detik hening, dia akhirnya ngomong.
"jadi... lo diem-diem mau nikah sama dia? lo tau gue suka dia, kan? lo tau gimana perasaan gue ke dia, tapi lo malah kayak gini?"
gemini mencoba mendekati winy, tapi winy langsung mundur, matanya mulai berkaca-kaca. "jangan deket-deket gue, gem. lo nggak beda sama orang lain yang cuma mikirin diri sendiri."
gemini mulai panik. "winy, gue nggak pernah maksud buat nyakitin lo. ini semua keputusan keluarga—"
"alasan!" bentak winy, suaranya menggema di kantin. "lo cuma cari pembenaran buat apa yang lo lakuin. lo tau apa yang gue rasain ke nata, tapi lo tetep jalan sama dia. lo tuh sahabat macam apa?"
sebelum gemini bisa jawab, winy membalikkan badan, berjalan pergi. tapi sebelum keluar dari kantin, dia menoleh dan bilang sesuatu yang membuat gemini terpaku.
"jangan pernah temuin gua lagi, lo jahat gem, gua kecewa sama lo"
satang memperhatikan suasana yang makin memanas. begitu dia lihat winy berdiri dengan wajah penuh emosi dan keluar dari kantin, dia langsung bangkit dan mengejarnya.
"winy! tunggu dulu!" seru satang sambil berlari kecil mengejar.
winy menghentikan langkahnya di lorong sekolah, tapi dia nggak menoleh. "apaan, tang? lo juga mau nambahin kebohongan mereka?" nadanya dingin, penuh kekecewaan.
satang menarik napas dalam, mencoba tetap tenang. "gue nggak bohong, win. tapi lo harus denger penjelasan gemini dulu. ini nggak kayak yang lo pikirin."
winy berbalik dengan tatapan tajam. "nggak kayak yang gue pikirin? serius, tang? lo juga tahu, kan? lo tau mereka mau nikah, tapi lo diem aja?! lo bantuin mereka bohongin gue!"
satang menatap winy dengan mata penuh rasa bersalah. "gue nggak punya pilihan, win. ini bukan urusan gue buat diomongin. gue cuma berusaha ngejaga perasaan lo."
"ngejaga perasaan gue?!" winy mendengus sinis. "ngejaga perasaan gue dengan nutup-nutupin fakta kalau sahabat gue bakal nikah sama cowok yang gue suka? bagus banget, tang!"
"winy, denger dulu," kata satang, nadanya mendesak. "gemini nggak bermaksud nyakitin lo. dia cuma nggak tau gimana caranya ngomong ke lo. dia takut lo bakal marah kayak gini."
winy melipat tangannya, matanya mulai berkaca-kaca. "oh, jadi sekarang gue yang salah, ya? gue yang lebay karena marah? lo tau nggak, tang, gimana rasanya dihianatin sama sahabat lo sendiri?"
satang menghela napas panjang, mencoba mendekat. "gue ngerti perasaan lo, win. beneran. tapi lo juga harus ngerti posisi gemini. dia nggak minta dijodohin sama nata. dia cuma berusaha nerima keadaan."
winy terdiam sesaat, tapi kemudian dia menatap satang dengan tajam lagi. "jadi lo tau semuanya, tapi tetep aja lo diem? lo bener-bener nggak ada bedanya sama dia, tang. lo sama aja!"
satang tertegun, suaranya melembut. "winy, gue cuma pengen lo nggak makin terluka. gue tau ini sakit buat lo, tapi lo harus coba terima kenyataannya."
winy tertawa kecil, tapi nadanya penuh sarkasme. "terima kenyataan? gampang banget lo ngomong, tang. lo nggak ngerti apa yang gue rasain."
satang menatap winy dengan tatapan penuh iba. "gue ngerti, win. mungkin lo nggak percaya, tapi gue ngerti. lo nggak sendiri. gue cuma mau lo tau kalau gue selalu ada buat lo, meskipun lo marah sama gue sekarang."
winy menghela napas panjang, air matanya mulai jatuh. "gue cuma pengen jujur, tang. gue pengen mereka jujur sama gue dari awal. gue nggak butuh kebohongan mereka buat 'ngejaga' gue."
satang mencoba meraih bahu winy, tapi dia mundur selangkah. "gue minta maaf, win. gue bener-bener minta maaf. kalau ada yang bisa gue lakuin buat nebus kesalahan gue, gue bakal lakuin."
winy menatapnya sejenak, lalu menghapus air matanya dengan kasar. "kalo lo bener-bener peduli sama gue, tang, lo nggak bakal bantuin mereka nutupin ini dari gue."
tanpa menunggu jawaban, winy berbalik dan berjalan menjauh. satang hanya bisa berdiri di tempat, menatap punggung sahabatnya yang makin jauh dengan perasaan hancur. dia tahu, mungkin butuh waktu lama buat winy memaafkannya
tenang aja konflik nya cuma dikit mana singkat, gua ga pinter mengekspresikan soalnya
