SESUATU

15 5 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



"Lo pada kenapa sih? Gue cuman nyuruh Raya Vcs doang, jaman sekarang udah banyak yang kaya gitu, lo aja yg kudet." Lagi, semakin Juan banyak bicara semakin membuat Viana, Marchell dan juga Gavin memanas.

"Shit! Ni anak emang gak bisa di ajak baik-baik." Geram Marchell yang hendak bangun dari duduknya dan berniat akan menghajar laki-laki di depannya itu.

Namun, belum sempat ia berdiri, tiba-tiba ponsel milik Via berdering. Viana tampak melihat ke arah ponselnya dan kemudian langsung menjawab telepon itu kala melihat siapa nama penelpon.

"Gimana?" Tanya Via dengan raut wajah penasaran.

"Dapet, jadi gue langsung meluncur kesana atau gimana?" Jawab Jingga di sebrang sana.

"Bentar!" Via menurunkan ponselnya dan berjalan ke arah Marchell guna memberi tahu kalau Jingga sudah menemukan alamat rumah Juan.

"Chell, udah dapet. Jadi gimana? Tapi btw gue juga mau ikut kesana, apa gue sama Jingga berdua kesana?" Bisik Via kepada Marchell.

"Lo pergi dari sini, tu anak bakal habis di tangan gue sama Gavin." Ucap Marchell.

"Ya jangan lah anjir, anggep aja lo lagi belajar menguji kesabaran, boleh ya! Pliss..." Pinta Via yang memohon kepada Marchell.

"Suruh Jingga jemput lo disini, baru gue bolehin."

"Ya mana mau lah dia, gue aja yang kesana. Dah semua... Dadah Gavin." Ucap Via yang kemudian bergegas keluar apartemen tanpa menggubris ucapan Marchell barusan, sembari memutuskan teleponnya dengan Jingga.

"Dasar... Si kepala batu." Gumam Gavin yang sedari tadi hening tak bersuara.
.
.
.

Viana benar-benar pergi ke rumah Jingga, bahkan ia tak mengabari temannya itu kalau ia akan kesana, Jingga yang bingung karena tak ada jawaban dari Via pun hanya diam menunggu ada yang menelponnya. Dan benar saja, tak lama setelah nya ponselnya berdering, dengan cepat ia mengambil ponselnya di atas nakas, namun ia sedikit terkejut kala yang menelpon adalah Rio. Jantungnya berpacu sangat cepat, entah kenapa ia pun tak mengerti, apa mungkin karena ia baru saja melacak tempat tinggal Juan.

Dengan sedikit keberanian, Jingga mengangkat telepon dari Rio itu.
"Kenapa yo?" Tanya Jingga basa basi.

"Cepet bener lo balik anjir, jaket lo ketinggalan noh. Mau gue bawain ke rumah lo gak? Sekalian gue balik." Ucap Rio.

"Hah? Eh, gak usah yo, biarin aja disana. Besok kan bisa aja gue ambil, cuman jaket doang kok bukan dompet. Hehe..." Jawab Jingga sembari tertawa.

"Ngapain lo ketawa? Emang ada yang lucu? Lo lagi nonton ya?" Tanya Rio dengan pertanyaan yang beruntun.

"Gak ada yang lucu anjir, ya udah lah biar gue aja yang ngambil." Seru Jingga dengan intonasi yang sedikit tinggi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The GlitchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang