CHAPTER 14

296 36 0
                                        

HAPPY READING ALL

JANGAN LUPA FOLLOW YANG BELUM FOLLOW DAN JANGAN LUPA VOTE YANG BELUM VOTE. KARENA ITU BERHARGA UNTUK AKUUU

***

Marvel baru saja tiba di mansion, melihat suasana sepi dan tidak mendengar suara Mauren, membuat Marvel berpikir bahwa Mauren tidak ada di rumah dan Marvel tidak memperdulikan hal itu. Ia beranjak menuju kamar untuk beristirahat.

Satu jam lebih beristirahat, Marvel turun ke bawah untuk mengambil minum. Lagi dan lagi ia tidak melihat Mauren, Marvel tidak peduli sampai seorang pembantu yang paling tua menghampiri dirinya.

"Den" panggil bibi yang bernama Nilam.

Marvel yang baru saja meminum segelas air, langsung meletakkan gelas tersebut dan menatap bi Nilam.

"Anu den, den Marvel ada temen yang namanya Ayna?" Tanya Bi Nilam.

Mendengar pertanyaan bi Nilam dan menyebut nama Ayna membuat Marvel penasaran, bagaimana bisa bi Nilam tahu Ayna?.

"Kenapa bi?" Tanya Marvel tanpa basa-basi.

"Tapi jangan kasih tau nyonya ya den kalo bibi yang kasih tau, tadi bibi nganter minum ke Non Gita yang datang, terus gak sengaja bibi denger ucapan nyonya sama non Gita, kalo mereka mau pergi nemuin cewek kalo bibi gak salah dengar ya, namanya Ayna den" jelas Bi Nilam.

Bi Nilam meneguk salivanya dengan kasar, saat melihat perubahan pada wajah anak majikannya itu, yang awalnya santai kini berubah menjadi marah.

"Makasih bi."

Marvel langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil handphonenya dan jacket, saat menuju motor ia membuka handphone yang sedari tadi tidak ia sentuh. Marvel mendapatkan chat dari anggota Orpheus yang kebetulan berada di kafe yang sama dengan mamanya dan memfoto mereka secara diam-diam dan foto tersebut di kirim satu jam yang lalu.

Marvel menggeram marah, sial ia baru sadar ia tidak mendapatkan notifikasi dari Ayna selama pulang dari mansion Varro dan ini salahnya juga yang tidak membuka handphone sedari tadi. Marvel mencoba menelepon Ayna namun nomor gadis tersebut tidak dapat di hubungi. Marvel langsung mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Langit sudah gelap, Marvel marah dengan dirinya sendiri yang lalai. Seharusnya ia membuka handphone dan sekarang ia terlambat satu jam lebih untuk mencegah Mauren yang sudah pasti sekarang melukai perasaan Ayna.

Marvel mendatangi kafe tersebut namun tidak menemukan Ayna, Marvel kembali mengendarai motornya menuju kos Ayna. Ia memarkirkan motornya di depan kedai tempat biasa ia menumpang memarkirkan motor,  Marvel berlari menelusuri gang menuju tempat tinggal gadisnya itu. Sampai pada akhirnya ia melihat seorang gadis yang ia cari, dengan pakaian sama dan berjalan dengan gontai serta badan yang bergetar.

Marvel mengatur nafas dan kembali berlari, ia menarik tangan Ayna dan langsung memeluk gadis tersebut. Ayna membalas pelukan tersebut dan semakin terisak, dengan nafas terengah-engah Marvel berusaha menenangkan Ayna.

"Sst jangan nangis Ay."

"El ayo kita putus."

Tubuh Marvel menegang saat mendengar kalimat yang tidak ingin dia dengar, Marvel melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Ayna agar melihat dirinya.

"Ay jangan ngomong gitu" ucap Marvel yang berusaha menahan amarahnya.

"Mama kamu gak setuju" lirih Ayna.

"Kita usahain oke?" bujuk Marvel lembut.

Ayna semakin meneteskan air matanya sembari menatap Marvel, "apa yang bisa di harapkan dari hubungan yang tidak di restui orang tua Marvel?".

EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang