Hallo Naebies, ini Naemma udah ngetik panjang banget untuk part iniii
Happy reading Naebies 💗
*****
Beberapa hari telah berlalu sejak kepergian Alora, dan kini tiba hari di mana Ayna berjanji akan membantu Zeline. Namun meski hari itu telah datang, perasaan semangat belum sepenuhnya tumbuh di hati Ayna. Bayangan Alora masih memenuhi pikirannya, menyisakan kekosongan yang tidak mudah diisi.
Bukan hanya Ayna yang merasakannya. Grey, dan anak-anak Orpheus lainnya, kini mulai jarang berkumpul. Mereka seperti kehilangan poros yang selama ini menyatukan.
Saat ini, Ayna berada di rumah Grey.
Sejak kepergian Alora, Grey meminta Ayna untuk tinggal sementara bersamanya. Hanya dengan kehadiran Ayna, kesedihannya terasa sedikit lebih ringan. Rumah Grey yang biasanya penuh dengan suara, kini lebih sering sunyi.
Sinar matahari menjelang sore menyusup pelan melalui celah gorden. Ayna baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan pakaian rapi dan menyematkan pin kecil di kerah bajunya. Rambutnya masih sedikit basah. Ia memeriksa penampilannya sekilas di cermin dinding sebelum berjalan ke kamar.
Di dalam kamar, Grey masih duduk bersandar di kasur, seragam sekolahnya belum diganti. Ia sibuk memainkan ponselnya, sesekali mengetik sesuatu di layar. Ketika mendengar langkah Ayna, ia melirik.
“Lo mau ke mana, Na?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan terlalu lama. Ayna mengambil tas selempangnya yang diletakkan di kursi.
“Kamu lupa, ya? Hari ini aku mau bantu Zeline. Ayo ikut, jangan di rumah terus,” ajaknya sambil menoleh ke Grey. Grey tampak berpikir sebentar, memandang langit-langit dengan ekspresi malas yang samar.
“Yaudah deh… gue ikut. Gue siap-siap dulu,” gumamnya akhirnya, lalu bangkit dengan malas dari tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil Grey. Di dalam mobil, hanya suara pelan dari AC dan dentingan musik instrumental yang terdengar dari speaker. Mereka duduk dalam diam, bukan karena ada jarak, tapi karena pikiran masing-masing terlalu bising.
Grey akhirnya memecah keheningan. “Baru beberapa hari, tapi gue udah kangen banget sama Alora,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil.
Ayna menoleh sebentar, tersenyum kecil. “Sama, aku juga. Biasanya, tiap kamu jahil, aku langsung ngadu ke dia.”
Grey mendengus pelan, matanya tetap menatap jalanan di depan. “Kira-kira, dia lagi ngapain ya, di sana?”
Ayna diam sejenak sebelum menjawab, matanya menerawang ke luar jendela, menatap langit yang cerah.
“Pastinya dia lagi bahagia.”
Suasana kembali hening, tapi kali ini bukan karena sunyi melainkan karena kenangan tentang seseorang yang mereka cintai sedang mengisi ruang itu.
***
Kini Ayna dan Grey berada di dalam sebuah kafe kecil yang terletak di samping mall tempat Ayna dan Zeline janjian. Udara sejuk dari AC menyebar merata, menyatu dengan aroma kopi dan vanilla yang lembut. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela kaca besar, memberikan nuansa hangat pada ruangan.
Grey duduk bersandar sambil memainkan sedotannya dengan malas. Ia memesan beberapa dessert sebagai pengganjal perut yang sudah mulai keroncongan. Tak lupa ia juga memesankan satu untuk Ayna, dessert strawberry kesukaannya.
Sementara Ayna duduk di seberangnya, tampak tenang menikmati setiap sendoknya. Wajahnya sedikit cerah, walau matanya menyimpan sesuatu yang berbeda.
Grey menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bersuara,
KAMU SEDANG MEMBACA
EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]
Teen FictionAyna Amarissa, gadis yang memiliki wajah imut dan cantik yang berasal dari panti asuhan yang berada di perdesaan. Saat usianya mulai memasuki 16 tahun, ia mendapatkan beasiswa untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu sekolah ternama yang ada...
![EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]](https://img.wattpad.com/cover/375087704-64-k752409.jpg)