HAPPY READING NAEBIES!!!
***
Siang itu matahari menyorot terik, membuat udara Jakarta terasa lengket dan berat. Marvel berjalan di samping Ayna dengan wajah datar, matanya menatap lurus ke depan. Jalanan menuju pasar penuh orang-orang yang sibuk menawarkan dagangan, bau sayur segar dan rempah bercampur jadi satu, jelas membuatnya tidak nyaman.
“Kok kamu diem, El?” tanya Ayna sambil menoleh dengan senyum lebar.
“Belanja di sini?” Marvel mengangkat alis, nada suaranya dingin tapi penasaran.
Ayna mengangguk riang. “Kelihatan banget kamu jarang ke pasar. Nggak seburuk itu kok, di dalam ada toko bahan kue langganan aku. Ayo!”
Tanpa menunggu jawaban, Ayna menggenggam tangan Marvel dan menariknya masuk. Marvel hanya bisa mendengus pelan, tapi ia tidak menolak. Ada sesuatu dalam genggaman kecil itu yang membuatnya sulit melepaskan.
Lima menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah toko sederhana dengan papan kayu tua. Seorang wanita paruh baya, Bu Lilis, menyambut mereka dengan senyum hangat.
“Eh, nak Ayna mau belanja bahan kayak biasa?” tanyanya ramah.
“Enggak, Bu. Hari ini mau belanja bahan lain,” jawab Ayna.
Bu Lilis melirik ke arah Marvel yang berdiri di belakang. “Yang di belakang siapa tuh? Ganteng.”
Ayna tersenyum jahil, lalu menoleh ke Marvel. “Pacar Ayna dong. Ganteng, kan?” ucapnya sambil mengedip nakal.
Marvel terperanjat, tapi senyum kecil lolos juga dari bibirnya. Ia menyalami Bu Lilis dengan sopan. “Marvel.”
“Masya Allah, sopan banget. Nama ibu, Bu Lilis.”
Ayna kemudian mulai sibuk memilih bahan. Sementara itu, Marvel duduk di bangku kayu dekat pintu. Matanya terus mengikuti setiap gerakan Ayna. Cara gadis itu tertawa, cara ia memegang tepung, bahkan caranya memilih dengan sabar semua terasa asing tapi anehnya menenangkan.
“Ayna cantik ya?” suara lembut Bu Lilis membuat Marvel sedikit terlonjak.
Wanita itu kini duduk di sampingnya, senyumnya penuh arti. “Ibu kenal Ayna hampir dua tahun. Dia Anak baik, jarang ada yang kayak dia. Dia sering cerita, kalo kangen ibunya, dia peluk ibu. Katanya badan ibu mirip ibunya di kampung. Ayna juga suka bagi-bagi permen ke anak-anak sini. Semua orang di pasar kenal sama dia.”
Marvel terdiam, menelan setiap kata. Hatinya bergetar tanpa ia sadari.
“Kenal Ayna itu berkah, Nak. Ibu dulu punya anak perempuan, tapi Tuhan ambil dia terlalu cepat. Ayna bikin ibu merasa punya anak lagi. Jadi, tolong jaga dia baik-baik ya. Dia perempuan baik.”
Marvel menunduk, dadanya menghangat. Saat menoleh kembali, ia melihat Ayna berjongkok, memilih krim stroberi dengan wajah ceria. Cahaya matahari menimpa rambutnya, membuatnya terlihat seperti sesuatu yang terlalu indah untuk disentuh. Marvel tersenyum tulus.
“Bu, Ayna udah siap!” seru Ayna sambil menepuk-nepuk tangannya, wajahnya penuh semangat.
Bu Lilis berdiri dari kursi. “Ibu hitung dulu ya.”
Ayna mengangguk, lalu berjalan kecil menghampiri Marvel yang duduk santai di kursi panjang. Marvel menepuk tempat kosong di sebelahnya, menuntun Ayna untuk duduk.
“Cerita apa tadi sama Bu Lilis?” tanya Ayna penasaran, matanya berbinar.
Marvel melirik sebentar lalu tersenyum simpul. “Rahasia.”
Ayna mendengus sambil manyun, “Dih gitu rahasia-rahasiaan yaa.” Marvel hanya terkekeh kecil melihatnya.
“Ayna nih, udah selesai,” Bu Lilis menengok dari kasir. “Semuanya 150 ribu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]
Teen FictionAyna Amarissa, gadis yang memiliki wajah imut dan cantik yang berasal dari panti asuhan yang berada di perdesaan. Saat usianya mulai memasuki 16 tahun, ia mendapatkan beasiswa untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu sekolah ternama yang ada...
![EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]](https://img.wattpad.com/cover/375087704-64-k752409.jpg)