Chapter 18

96 14 0
                                        

DOUBLE UP UNTUK NAEBIES!!!

🤍 HAPPY READING NAEBIES 🤍

****

"Siapa Zeline?" tanya Marvel pelan, tapi terdengar jelas. Sejak tadi ia memang menahan diri untuk tidak bertanya, tapi rasa penasarannya tak bisa lagi dibendung.

Ayna menatapnya sebentar. "Teman. Kemarin aku baru kenal dia. Kenapa? Namanya mirip seseorang yang kamu kenal ya?"

Deg.

Marvel menelan ludah. Ia tidak menjawab, dan Ayna langsung menyadarinya. Gadis itu justru tersenyum kecil.

"Beberapa hari lalu, aku nggak sengaja dengar obrolannya Arzhel sama Nolan. Aku nggak denger jelas, tapi mereka nyebut nama kamu dan Zeline." Ayna menarik napas pelan. "Aku sengaja nggak tanya. Karena aku percaya kalau udah waktunya, kamu pasti cerita ke aku, El."

Ayna berdiri, menyapu debu yang menempel di roknya. "Ayo masuk, aku udah cukup cari udara."

Baru saja ia membalikkan badan, tangan Marvel menahan pergelangan tangannya. Dengan lembut, Marvel menariknya kembali untuk duduk.

"Zeline itu..." Marvel tampak kesulitan melanjutkan. Napasnya berat. "Dia... pernah deket sama gue, dan-"

Kalimatnya menggantung dan Ayna tak butuh penjelasan lebih jauh. Ia menatap Marvel, lalu menggenggam tangan cowok itu yang masih menahannya.

"Aku nggak minta kamu cerita sekarang, El," ucapnya lembut, sebelum perlahan melepaskan genggaman mereka.

"Aku ke dalam dulu ya. Mau lihat Grey."

Ayna berjalan pergi, meninggalkan Marvel yang masih terdiam di bangku taman. Angin sore menyapu rambutnya perlahan.

"Semoga Zeline yang aku kenal... bukan Zeline yang kamu kenal, El."

"Karena aku harap lawanku... bukan masa lalu kamu."

Marvel hanya bisa menatap punggung Ayna menjauh. Ia tahu, senyuman Ayna tadi bukan senyuman biasa. Itu senyuman yang menyimpan luka dan pertanyaan yang belum terjawab.

"Maafin gue, Ay... gue belum bisa cerita."

****

Di dalam mansion,

"Arzhel, kamu lihat Grey?" tanya Ayna pada Arzhel, begitu ia masuk ke ruang tengah. Matanya mencari-cari sosok Grey yang sejak tadi tak terlihat.

"Kayaknya dia lagi di kamar tamu, deh. Tadi kelihatan lemes banget," jawab Arzhel.

"Bener, gimana pun dia paling deket sama Alora dari dulu," Nolan menimpali dengan nada prihatin.

"Yaudah, makasih ya."

Sebelum ke kamar Grey, Ayna melangkah ke dapur. Di sana Raisa,ibu Varro, tengah duduk di bangku dapur, wajahnya masih pucat, ditemani beberapa ART yang sibuk menyiapkan makanan.

"Tante, Ayna pinjam dapurnya ya?" tanya Ayna sopan.

"Eh, Ayna sayang, boleh, boleh. Tapi kamu mau makan? Ini ART lagi siapin, tunggu sebentar ya."

"Nggak, Tante. Aku mau buatin bubur buat Grey. Dia belum makan dari tadi. Biasanya, kalau nggak nafsu makan, dia maunya bubur."

Raisa mengelus kepala Ayna penuh kasih. "Cantik, baik, perhatian. Tante senang dulu Alora punya teman seperti kamu. Yaudah, pakai aja. Kalau butuh bantuan, bilang ke ART, ya. Tante mau istirahat sebentar."

Ayna tersenyum. "Makasih, Tante. Tante istirahat aja, wajah Tante udah kelihatan pucat banget."

Setelah Raisa berlalu, Ayna mulai memasak. Ia menggunakan resep bubur yang dulu diajarkan ibunya, dibantu oleh ART yang sigap. Tak butuh waktu lama, bubur pun matang dan wangi kaldu ayam menguar ke seluruh ruangan.

EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang