CHAPTER 16

145 22 3
                                        

Hai Naebies, Naemma udah kembali nihh.
Apa kabar Naebies semua?

****

Pagi hari  Ayna  berjalan menuju kedai. Matahari malu-malu muncul dari balik awan, mengintip dunia yang baru saja bangun. Jalan setapak menuju kedai langganan mulai ramai.

Ayna, dengan bungkusan kue rumahan di tangannya, tersenyum kecil. Ini rutinitasnya setiap hari, menitipkan kue buatan dirinya sendiri ke Kedai Bu Mirna. Tapi pagi ini langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.

"Eh, Neng Ayna! Tumben banget anter kuenya lama?" suara Bu Mirna terdengar ceria dari balik etalase kaca.

Ayna tergelak kecil, mengusap rambutnya yang berantakan karena angin.

"Iya, Bu. Tadi Ayna bangunnya kesiangan," jawabnya jujur, sedikit malu.

"Ya ampun, tumben-tumbenan seorang Ayna bisa kesiangan," goda Bu Mirna sambil terkekeh.

Ayna ikut tertawa. "Namanya juga hari Minggu, Bu. Badan  terlalu nyaman sama kasur."

"Kasurnya pasti narik-narik kamu ya!" sahut Bu Mirna bercanda.

Ayna mengangguk dan tertawa, lalu berpamitan, "Ayna pamit dulu ya, Bu. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam, Neng. Hati-hati di jalan ya."

Hari Minggu ini akan ia menghabiskan waktu sendiri. Geng Orpheus dan Alora sedang sibuk, dan Grey ada acara keluarga di rumah oma-nya.

Tapi Ayna tak keberatan. Kadang, sepi bisa jadi teman yang menyenangkan juga.

***

Jam sepuluh pagi, langit tampak cerah dengan awan-awan putih tipis berarak pelan. Ayna sudah siap dengan rok putih selutut dan cardigan pink muda yang memberi kesan lembut dan segar. Rambutnya ia ikat rapi ke belakang. Hari ini, ia berniat menghabiskan waktu di perpustakaan umum. Sejak beberapa minggu terakhir, minatnya terhadap dunia bisnis tumbuh begitu saja, muncul dari rasa penasaran, dan mungkin sedikit ambisi.

Daripada rebahan di kos seharian, lebih baik mencari inspirasi di antara rak-rak buku, pikir Ayna.

Ia memesan ojek dan tak lama kemudian meluncur melewati jalan-jalan kota yang mulai ramai.

Begitu tiba di depan perpustakaan, Ayna melangkah turun dan membayar ongkosnya. Saat hendak masuk ke dalam gedung tua berarsitektur kolonial itu, pandangannya tertumbuk pada seorang gadis asing yang berdiri kaku di sisi tangga masuk. Wajah gadis itu terlihat cemas, seperti sedang menahan napas.

Ayna menghampirinya dengan ragu. “Permisi… kamu gak apa-apa?”

Gadis itu menoleh, dan di matanya terlihat binar panik yang nyaris memohon. “Tolongin gue… gue diikutin preman. Lihat deh, mereka masih di sana,” bisiknya sambil menoleh ke arah sekelompok pria berpenampilan mencurigakan di seberang jalan.

Tanpa pikir panjang, Ayna mengangguk. “Ayo ikut aku.”

Mereka melangkah cepat masuk ke dalam perpustakaan. Udara sejuk dan aroma buku tua menyambut mereka seperti pelukan yang menenangkan. Di dalam, suasana sunyi. Hanya terdengar bunyi langkah kaki pelan dan bisikan antar pengunjung.

“Di sini aman. Mereka gak akan bisa masuk,” ucap Ayna pelan, meyakinkan.

Gadis itu mengembuskan napas panjang. “Makasih banyak ya, untung banget ada lo. Gue Zeline.”

“Aku Ayna,” balas Ayna sambil tersenyum. “Kamu duduk aja dulu ya, aku mau cari buku.”

Zeline mengangguk dan duduk di kursi kayu panjang di dekat jendela besar yang menghadap taman. Ayna berjalan ke bagian rak ekonomi, mencari buku-buku tentang bisnis kecil dan strategi pemasaran. Ia mengambil beberapa yang menarik, lalu kembali.

EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang