Hallo Naebies, kalian dari kota mana aja nih?
Jawab ya kan tinggal ketik, hitung2 jadi penyemangat nulis><
🤍HAPPY READING NAEBIES 🤍
***
Siang itu, langit tampak kelabu seakan ikut berduka. Awan menggantung berat, menutupi cahaya matahari, dan angin bertiup pelan membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Hening menyelimuti area pemakaman umum, hanya diiringi oleh suara pelan daun-daun kering yang terhempas angin dan sesekali isak tangis dari mereka yang ditinggalkan.
Di hadapan salah satu gundukan tanah yang masih basah, kerumunan mulai menipis. Orang-orang telah pergi meninggalkan area pemakaman, menyisakan hanya sahabat-sahabat terdekat dan anggota inti Orpheus. Keheningan kini terasa lebih nyata, seolah waktu berhenti hanya untuk mereka yang sedang berduka.
Ayna masih menangis dalam pelukan Marvel. Bahunya bergetar, napasnya pendek dan sesak. Di balik tangisnya, ia berharap ini hanyalah mimpi buruk yang bisa ia bangun darinya kapan saja.
"Lo jahat, Ra" suara Grey terdengar lirih, serak karena menahan emosi. Ia berdiri paling dekat dengan nisan Alora, tangan mengepal, matanya sembab. "Lo sahabat pertama gue. Tapi lo malah pergi ninggalin gue."
Ayna melepaskan pelukan Marvel perlahan, menatap nisan Alora dengan mata bengkak yang dipenuhi air mata. Angin menyapu rambutnya yang kusut karena terus menunduk.
"Aku masih butuh Alora. Dia yang bikin aku berani hadapin semuanya," suaranya pecah, menyatu dengan isakan tertahan.
Thalita, saudara kembar Alora, berlutut di sisi batu nisan. Jemarinya mengusap nama yang terukir di sana dengan gemetar.
"Gue bingung harus nyalahin takdir atau enggak..." suaranya berat. "Gue seneng banget ditakdirin ketemu lo, tapi gue juga marah karena cuma sesingkat ini."
Tidak bertemu selama belasan tahun hanya dibayar beberapa minggu kebersamaan. Tak ada cukup waktu untuk tertawa bebas atau berbagi banyak cerita. Hanya sedikit momen yang tercipta dan kini semua tinggal kenangan.
"Lo kuat, Lo bisa lewatin semua ini dari kecil" lanjut Thalita dengan suara menurun. "Gue gak yakin, kalo gue yang ada di posisi Lo mungkin gue udah nyerah dan mati di tangan gue sendiri."
Ia menggigit bibir, berusaha menahan tangis. "Maaf... Maaf gue datangnya terlambat."
Suasana makin sendu saat Arzhel mendekat, menunduk sambil memeluk bahunya sendiri. "Bu bos, gue bakal kangen banget sama suara Lo," gumamnya, memutar kembali semua percakapan yang pernah mereka lalui.
Galen, yang berdiri di belakangnya, mencoba bicara meski tenggorokannya tercekat. "Makasih ya, Bu bos... udah nolongin gue dari suruhan bokap. Gue nggak akan lupa."
Langkah perlahan terdengar mendekat. Varro baru saja sadar dari pingsan. Wajahnya masih pucat, matanya merah. Ia berdiri dengan lemah di depan nisan kekasihnya, Alora. Dalam satu helaan napas berat, ia menatap mereka semua.
"Lo semua ke rumah gue dulu" katanya lirih, nyaris berbisik. "Ada hal yang gue mau omongin. Tapi sekarang tolong tinggalin gue sebentar, sama Lora."
Tak satu pun dari mereka membantah. Mereka hanya mengangguk pelan, lalu perlahan mundur, meninggalkan Varro sendiri.
***
Ayna duduk di kursi penumpang dengan pandangan kosong mengarah ke jendela. Langit sore itu masih mendung, dan rintik hujan mulai membasahi kaca mobil yang membawa mereka ke rumah Varro. Jalanan terlihat buram oleh air hujan, serupa dengan pandangan mata Ayna yang terus berkabut oleh air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]
Teen FictionAyna Amarissa, gadis yang memiliki wajah imut dan cantik yang berasal dari panti asuhan yang berada di perdesaan. Saat usianya mulai memasuki 16 tahun, ia mendapatkan beasiswa untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu sekolah ternama yang ada...
![EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]](https://img.wattpad.com/cover/375087704-64-k752409.jpg)