CHAPTER 21

136 14 0
                                        

Sepulang sekolah, Grey mengajak Ayna bersantai di halaman belakang rumahnya menikmati angin sore yang sepoi-sepoi. Di antara mereka sudah ada beberapa cemilan mulai dari yang manis, gurih dan pedas. Grey sengaja mengajak Ayna seperti itu agar merilekskan gadis itu.

"Na, Lo liburan akhir semester pulang ke kampungkan?" Tanya Grey.

Ayna mengangguk.  "Iya, setiap liburan semester aku selalu pulang ke kampung."

"Gue ikut ya, gue sendirian."

Ayna menatap Grey yang menundukkan kepalanya. Ayna melengkungkan senyumannya. 

"Boleh kok aku memang mau ajak kamu."

Senyuman merekah sempurna di bibir Grey. "MAKASIH NA!!"

"Na, bahagia menurut Lo itu gimana?" Tanya Grey tiba-tiba.

Ayna terdiam sejenak memikirkan jawaban. "Bahagia menurut aku punya banyak permen."

Grey mendengus kesal. "Gue nanyanya serius anjir, permen mulu di otak Lo!"

Ayna tertawa melihat wajah kesal Grey. "Oke oke nih aku serius. Bahagia menurut aku itu, bisa lihat orang-orang yang aku sayang tersenyum senang dengan hal kecil yang aku beri."

"Hal kecil menurut Lo apa?" Tanya Grey lagi.

"Perhatian, kasih sayang, atau hadiah kecil, kayak misalnya aku masakin makanan untuk ibu sama adik-adik panti, dan bisa belikan buku atau mainan untuk mereka. Kenapa itu termasuk bahagia menurut aku? Karena melihat mereka excited dengan hal kecil yang aku beri, itu menimbulkan kebahagian tersendiri," jawab Ayna di akhiri dengan senyuman tipis.

"Kalau menurut kamu?" Kini giliran Ayna bertanya balik ke Grey.

"Bahagia menurut gue, kalau gue gak merasa kesepian sama sekali."

Grey terdiam sebentar sebelum melanjutkan jawabannya. Grey menundukkan kepalanya. "Tapi paling bahagia kalau orang tua gue bisa jadi orang tua yang selalu ada untuk gue," lirihnya.

Ayna ikut sedih melihat Grey seperti ini. Gadis itu terbiasa di tinggal sendiri sedari kecil. Grey sudah sering di titipkan dengan baby sitter. Pertumbuhan dirinya dari waktu ke waktu hanya di lihat oleh pengasuhnya, bahkan pembantu di rumahnya.

Rasa kesepian yang di timbulkan oleh kedua orang tuanya bertambah dengan luka, saat mereka mulai membanding-bandingkan Grey dengan sepupunya yang pintar. Ini adalah sisi lain Grey yang tidak bisa di lihat orang lain.

Ayna memeluk Grey dari samping dengan harapan pelukan yang ia beri dapat memberikan gadis itu ketenangan.

"Akan ada waktu hal yang paling bahagia itu, hadir di hidup kamu."

****

Tiga hari berlalu, selama itu pula hubungan Marvel dan Ayna belum juga membaik. Bahkan bisa di bilang semakin parah. Hari pertama Marvel masih mau mengirim pesan namun Ayna tidak membalasnya karena pesan yang Marvel kirim hanya untuk membahas Zeline yang  ingin menjadi sahabat Ayna. Hari kedua dan ketiga cowok itu hilang tanpa kabar.

Ayna penasaran dan sedikit khawatir, tapi ia tidak mau mengirim pesan terlebih dulu sebelum Marvel paham dengan perasaannya dan mengaku bahwa dia salah. Ayna menghela nafas pelan, tangannya meraih tas lalu berjalan keluar kamar Grey. Ia masih menginap di rumah Grey, gadis itu melarang Ayna pulang ntah sampai kapan.

Ayna menghampiri Grey. Cewek itu sedang melongo seperti orang bodoh menatap dua sepeda di hadapannya. 

"Let's go Grey!" Seru Ayna.

"Na yang bener aja Lo nyuruh gue bangun pagi-pagi untuk nyuruh gue pergi ke sekolah naik sepeda?!" Grey menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.

EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang