CHAPTER 22

116 13 4
                                        

Ayna mengutuk mulutnya sendiri karena asal berbicara. Akibat mulutnya itu Ayna mendapatkan tatapan Marvel yang sangat tajam seperti singa yang siap mencakar-cakar mangsanya.

Ayna menelan ludah, bola matanya bergerak melihat ke arah lain dan berusaha tidak menatap Marvel. Karena ucapannya tadi Ayna di bawa ke taman belakang sekolah. 

Marvel, cowok itu berusaha menahan senyumnya karena tingkah lucu Ayna sekarang. Kedua tangan mungilnya meremas rok dan bola mata Ayna yang sibuk berkeliling agar tidak menatapnya.

"Ay."

Ayna tidak menghiraukan panggilan Marvel. Bibir Marvel membentuk lengkungan kecil. Ia tidak tahan dengan tingkah lucu Ayna. Marvel menarik tangan Ayna dan memeluk gadis itu dengan erat. Marvel rindu Ayna.

"Apaan sih peluk-peluk! Lepas gak!" Ayna menggerakkan tubuhnya dan memukul punggung Marvel agar cowok itu melepaskan pelukannya.

"Diam Ay."

"Gak boleh ngomong gitu lagi," tegur Marvel dengan nada sedikit berbisik.

"Kamu siapa? Di pikir-pikir omongan aku bener juga," cetus Ayna.

"Lepas El, kamu pikir aku guling apa? Oh atau kamu pikir aku Zeline kesayangan kamu?"

Marvel menghela nafas, ia melepaskan pelukannya. Mata elangnya berubah menjadi sendu. Perasaan Marvel tidak nyaman dengan Ayna yang seperti ini.

"Udahan ya marahnya. El minta maaf," ucap Marvel lembut.

"Ay, gue cinta sama Lo bukan Zeline. Dia sahabat kecil dan sampai sekarang hanya sahabat, oke? Semua perilaku gue ke Zeline itu kasih sayang sebagai sahabat. Percaya sama gue Ay."

Tatapan Ayna bertemu dengan mata Marvel.  Sepasang netra itu memancarkan ketulusan dan kejujuran yang terlihat seperti nyata. Sorot sendu itu mengoyak pertahan Ayna dan sesaat membuat Ayna goyah.

Apa aku harus percaya? Atau tidak?, batin Ayna.

"Kamu kemana aja hilang kabar?" Tanya Ayna, sebelum meyakinkan diri dengan pilihannya.

"Gue bantuin Zeline urus pendaftaran sekolah dan lain-lain. Selain itu gue nyusun cara batalin perjodohan gue dengan Gita," jawab Marvel jujur.

Memang setelah membantu Zeline seharian, malam harinya Marvel mengumpulkan semua bukti-bukti yang di kirim oleh Papanya. Beraktivitas seharian membuat Marvel lelah dan tidak sempat memberi kabar ke Ayna.

"Cara batalin perjodohan? Dengan apa?" Tanya Ayna.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Marvel. Perlahan tangannya terangkat, lalu mendarat lembut di surai hitam milik Ayna. Tangannya bergerak perlahan mengelus surai lembut itu.

"Nanti gue kasih tahu, kalau semuanya udah selesai. Sekarang maafin gue, kita baikan ya?"

Ayna menepis pelan tangan Marvel, lalu bersedekap dada. "Rasanya gak adil, kamu manggil sahabat kamu dengan aku-kamu tapi sama pacar kamu sendiri nggak."

Marvel meraih tangan Ayna, membuat Ayna yang tadinya menatap ke samping menjadi menatap wajah Marvel. Ayna tertegun sesaat. Melihat senyum Marvel yang begitu langka muncul perlahan, dan entah bagaimana, ketampanan cowok itu seakan  bertambah berlipat ganda.

Tak ada lagi wajah datar yang sering dibicarakan orang-orang. Tak ada kesan dingin atau seram yang dulu sempat menakutinya. Hanya sebuah lengkungan lembut di bibirnya, senyuman itu cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya seperti terhipnotis.

"Ay, aku minta maaf ya."

Rasa marah dan kecewa yang tadi membara dalam hati Ayna perlahan runtuh, seperti gelombang yang surut ke pantai. Digantikan oleh rasa hangat yang asing tapi menyenangkan, dengan campuran gugup, senang, dan sedikit salah tingkah.

EQUAL LOVELY [MARVELAYNA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang